cerpen senja terakhir

Senja Terakhir

Cerpen Sastra

Aku seorang mahasiswa yang sedang berjuang mengejar toga. Aku tampan, tinggi, putih, dan aku normal. Iya aku normal, namun aku pernah bisu selama tiga hari berturut-turut. Penyakit bisuku aneh, hanya muncul saat senja. Aku pernah berniat memeriksa ke dokter. Namun kuurungkan niatku karena aku tidak mau  disangka gila. Aku membayangkan dengan ekspresi bingung “Dok, aku seorang yang bisu…”. Aku berani bertaruh pasti dokter langsung memotong pembicaraanku “Maaf, seharusnya Anda pergi ke dokter ahli kejiwaan.” Pernah aku berbisik kepada sobatku, “Bro, aneh bro. Setiap senja aku mendadak bisu.” “Sabar bro, semoga skripsimu cepat kelar. Santai… Jangan stress.” Ah… Tidak ada yang membantu. Sumpah! Aku masih waras, aku juga tidak stress, juga bukan karena pembimbing killer, atau tentang coretan-coretan tinta menyebalkan. Setelah berpikir dalam kesendirian, menganalisis dan memeriksa batinku aku pun berargumen “aku bisu karena senja” .

Aku mengesampingkan skripsi dan togaku karena suatu senja. Senja? Iya senja, kisah senja di kampusku. Empat hari aku setia menunggu dan mencari senja. Jika senja datang menggoda, maka aku akan tetap menjadi penikmat yang kehilangan indra pengecap.  Empat hari sejenak aku lupa, lupa bahwa aku seorang pejuang toga. Yang aku ingat hanyalah aku si bisu yang datang menanti senja.

*

Saat senja pertama menjemput, untuk beberapa detik mataku enggan berkedip, mataku menemukan raga bernyawa, seorang gadis berbaju jingga dengan wajah menawan di sudut kampus. Aku menatapnya lama tanpa pernah timbul rasa bosan atau berpaling dari sosok yang baru kutemukan sekarang setelah hampir setengah windu aku bergelut di kampus ini.

Senja setelah senja pertama,

Aku kembali  membawa diriku menyusuri setiap sudut kampus. Lagi-lagi aku mendadak bisu, saat mataku menemukan titik fokus yang tepat. Dia sedang duduk membaca buku bersampul abu-abu. Sesekali dia tersenyum,  menggambarkan bacaan yang sedang dibacanya, pasti menarik. Saat kedua wajahnya diangkat, dengan senyum yang masih mengembang , lalu jemarinya menyelipkan  helai rambut yang jatuh ke wajahnya, cekrek!…, Mataku mengambil gambar dirinya, lengkap dengan efek alami biasan cahaya keemasan sajian senja. Aku masih membisu sampai akhirnya sadar dia lenyap bersama kepergian senja kedua.

Senja ketiga,

Dengan mudah aku menemukan sosok itu. Sangat mudah mengenal setiap lekuk tubuhnya. Walaupun dari jauh, aku menangkap gambar dirinya sedang tertawa lepas. Dia duduk dengan beberapa temannya di bawah pohon mangga. Dia terlihat baik-baik saja dengan ocehan-ocehan yang terlalu jauh untuk dijangkau alat dengarku. Berbeda dengan aku, berdiri mematung. Membisu. Aku masih bercumbu dengan penyakit bisuku. Ah senja… Entah virus apa yang telah menyerangku.

* * *

Senja terakhir,

Dua pasang mata indah menatap kosong ke arah yang lain. Kali ini wajah yang sama, di depan aula kampus di bawah rimbunnya pohon pucuk merah. Gadis kemarin, pipinya bersemu merah saat tanpa sengaja mata kami beradu pandang. Pertama kalinya, dia menatapku. Senja ke empat, aku mulai logikaku mulai berbicara tentang kesempatan. Oke! Kali ini aku berjuang melawan bisuku. Siapapun bisa sembuh dari penyakit akut jika memiliki semangat juang. Aku segera mencari pil keberanian, cepat-cepat menelannya. Pilnya menyisakan sedikit pahit di kerongkongan. Aku mengabaikan pahitnya. Aku  melangkah mendekatinya dan memberanikan bibirku untuk menyapanya. Berhasil! Aku sembuh. Aku mulai berbicara “Hai… “. Dia tidak menjawab, hanya membalasku dengan senyum manisnya

“Bolehkah kita berkenalan?” aku berkata demikian sambil mengulurkan tanganku. Namun tangannya enggan menyambut tanganku. Dia menatapku lama. Matanya hampir menelanjangiku. Tuhan, tatapan itu… aku butuh satu pil keberanian lagi. Aku takut penyakitku kambuh karena mata indah itu. Aku akhirnya bernapas lega saat  dia menggerakkan bibir merahnya itu “aku bingung dan sedang merasa kehilangan.” Entah apa yang dibicarakannya, tanpa mempedulikan aku yang masih kebingungan dia melanjutkan, “seharusnya kamu menghampiriku sejak pertama kali melihatku, apakah tidak cukup bagimu hanya dengan sekali menatapku untuk meraihku? Kenapa kamu harus menghabiskan waktu lebih dari sedetik, bahkan hingga puluhan jam? Hatiku terlalu lelah menunggu.” Dia berdiri dan berlalu dari hadapanku. Dia tinggalkan aku dengan sejuta pertanyaan dalam kebingungan, “Ah… dia benar, seharusnya empat hari yang lalu aku menyapanya.” Senja di sudut kampus, aku kembali mencarinya, namun dia telah lenyap ditelan bisuku.

Senja hari keempat, senja terakhir.
(Senja, andai kamu tahu aku baru saja berhasil melawan penyakitku)

Oleh: Im Kartini