Soal Pabrik Semen, Semuanya Mengaku demi Rakyat Flores

Nasional Opini

Oleh: Primus Dorimulu

Mana yang terbaik demi rakyat Flores? Menambang terukur potensi mineral  yang ada di wilayah ini atau sama sekali tidak boleh?

Pemprov NTT dan pemda Manggarai Timur (Matim) sudah mengundang investor untuk membangun tambang di Matim. Yang dalam proses pembangunan.

Proses pembangunan jalan terus di tengah gerakan penolakan oleh Gereja lokal dan Flores Diaspora. Para mahasiswa yang tergabung dalam organisasi PMKRI dan GMNI juga menolak.

Uskup Ruteng sampai membawa sembako untuk warga terdampak tambang di samping mempersembahkan Ekaristi Suci.

Warga yang kritis melihat langkah Uskup dengan agak sinis. Di tengah pro-kons tambang, Uskup menghadirkan altar suci di pusaran konflik. Orang Katolik, tak perlu punya kecerdasan tinggi untuk  membaca langkah Uskup sebagai simbol penolakan tambang semen.

Kedatangan Uskup di Lengko Lolok tidak disambut penuh oleh umat. Sebagian besar lelaki dewasa tidak hadir. Maklum, dari 163 KK yang terdampak, sebanyak  154 KK sudah setuju. Sedang 9 KK lainnya belum setuju, terdiri atas 7 KK di lokasi pabrik dan 2 KK di lokasi tambang.

Lokasi penambangan semen di Lengko Lolok dan pabriknya di Luwuk, desa Satar Punda, Kecamatan Lamba Leda, Matim sekitar 635 ha, terdiri atas 505 ha penambangan dan sisanya, 130 ha, untuk pabrik dan infrastruktur. Dengan lokasi pabrik yang luas, tampak jelas bahwa pabrik nantinya dikelilingi pohon-pohon. Menerapkan prinsip green industry, pabrik akan dikelilingi puluhan hektare pohon.

(1). Apakah Flores akan tenggelam gara-gara pabrik Semen Matim?

Luas tambang dan pabrik semen ini hanya 0,2% dari luas Kabupaten Matim dan 1,8% luas Kecamatan Lamba Leda.

Penambangan semen termasuk penambangan permukaan dengan kedalaman sekitar 30-50  meter. Untuk Lengko Lolok diperkirakan sekitar 20-30 meter.

(2). Apakah boleh menambang di kawasan kars?

Seluk-beluk kars akan lebih gamblang dijelaskan geolog.
Mereka lebih paham dan punya otoritas keilmuan dalam bicara kars, tambang, dan air.

Tapi, dari hasil bacaan dan pengamatan langsung di lapangan, pabrik semen umumnya di bangun di kawasan kars. Karena di kawasan inilah terdepat banyak mineral untuk bahan baku semen.

(3). Apakah sumber air di Matim utara akan hilang gara-gara tambang semen Matim?

Air masih tetap ada meski batu gamping di lokasi yang berdekatan dengan lokasi tambang semen di Lengko Lolok sudah ditambang selama 26 tahun.

Dampak terhadap deposit air tanah pasti ada. Oleh karena itu, perusahaan harus bekerja sesuai AMDAL dan lubang bekas tambang bisa diolah untuk menampung air di musim hujan.

Dengan kemajuan teknologi dan compliance terhadap UU dan peraturan, dampak buruk penambangan di kawasan kars bisa dikendalikan. 

Reklamasi dan penambangan pasca-tambang harus dibicarakan sejak awal. Perusahaan harus menandatangani commitment letter dan menaruh uang di escrow account untuk membiayai reklamasi dan pengelolaan pasca-tambang.

Gaya pengelolaan seperti perusahaan batu gamping tak boleh terjadi lagi. Perusahaan yang mendapat izin membangun semen berbeda dengan perusahaan batu gamping.

(4). Mengapa harus ada lagi tambang semen di Matim, sedang NTT sudah punya Semen Timor?

a. Saat ini, kebutuhan semen di NTT mencapai 1,2 juta ton per tahun. Sedang kapasitas
pabrik Semen Kupanh hanya 700.000 ton per tahun. Realisasi produksi umumnya kurang dari separuh kapasitas. Tahun 2019, produksi Semen Kupang hanya 250.000 ton.

b. Secara nasional, Indonesia saat ini oversupply semen. Tapi, kondisi ini terjadi lebih karena kegiatan pembangunan yang melambat. Selama 2014-2019, ekonomi Indonesia bertumbuh rata-rata 5% dan tahun 2020  kemungkinan besar pertumbuhan ekono minus 1-2%.

Ketika ekonomi membaik, pembangunan properti dan infrakstruktur akan membutuhkan banyak semen.

c. Rumah-rumah di Flores masih jauh dari standar. Ini semua membutuhkan semen. Demikian pula pembangunan jalan dan berbagai infrastruktur, membutuhkan semen dalam jumlah besar.

d. Risiko oversupply adalah risiko investor. Selama permintaan di dalam negeri melemah, semen Matim diekspor. Perusahaan sudah mendapatkan pembeli di LN.
Yang kita jaga adalah dampak positif kehadiran semen Matim bagi warga setempat, warga sekitar, dan NTT.

(5). Apakah semen Matim akan dijual lebih murah kepada konsumen Flores dibanding semen lainnya? Apakah Semen Matim akan kalah bersaing dengan Semen Bowosa, Semen Kupang, dsb?

Itu adalah strategi perusahaan. Mereka tentu sudah memiliki berbagai skenario, memperhitungkan risiko yang bakal terjadi seraya mempersiapkan mitigasi risiko?

Semen Kupang memiliki oleh BUMN dan Pemprov NTT. Sedang  mayoritas saham perusahaan yang menambang di Matim adalah asing.

(6). Apa dampak Semen Matim bagi masyarakat setempat dan sekitar Matim?

Bagi masyarakat terdampak, Investor memberikan ganti rugi yang lumayan bagus. Itu sebabnya, mayoritas warga setuju. Dengan ganti rugi minimal Rp 400 juta lebih, mereka bisa membeli lahan sawah, memiliki rumah, dan tabungan.

Pemda Kabupaten Matim akan mendapat pajak dan bagi hasil. Tenaga kerja lokal yang terserap akan cukup banyak. Objek-objek wisata sekitar pabrik akan karena ramai para eksekutif dan buruh akan memanfaatkan masa liburan mereka untuk berwisata. Hasil pertanian akan mendapatkan pembeli tetap.

(7). Bukankah tambang bertentangan dengan pariwisata?

Dari mana logikanya? Memangnya destinasi pariwisata seperti Komodo, Lautan Bajo, Waerebo, Bena, Kelimutu, dsb dijadikan lokasi tambang? Sama sekali tidak!

Apakah tambang dibangun sepanjang jalan trans Flores hingga merusak pandangan? Semen Matim ada di utara Matim.

Setelah masa tambang, eks tambang bisa menjadi objek wisata menarik. Di bekas tambang bisa dibangun kota dan tempat rekreasi.

(8). Apakah pabrik Semen Kupang memberikan dampak positif bagi masyarakat sekitar dan Pemprov?

Ini perlu sebuah studi lengkap. Tapi, pertama, perlu kita lihat sejarah pembangunannya.

Presiden Soeharto meresemikan pabrik Semen Kupang, 14 Agustus 1983. Saat itu, Gubernur Ben Mboy mengatakan, pabrik ini penting bagi NTT.

Pertama, Semen Kupang menunjukkan bahwa NTT pro-investasi. Waktu itu, belum ada investasi apa pun di NTT.

Kedua, Semen Kupang menunjukkan kepada Indonesia bahwa batu-batuan di Timor juga aset.  Perspektif  saat ini mungkin beda dengan pada masa Ben Mboy.

Dalam perjalanan, Semen Kupang mengalami mismanajemen. Berkali-kali pabrik Semen Kupang berhenti operasi karena kasus korupsi.

Sejak berdiri, Semen Kupang adalah  perusahaan patungan dari PT Semen Gresik (mayoritas), BNI, dan Pemda NTT melalui PD Flobamora (1,12 persen). Pada tahun 1991, Semen Kupang  berubah statusnya menjadi BUMN. Kapasitas produksi sempat dinaikkan ke angka 570.000 ton per tahun karena harus ekspor ke Australia. Tapi, Maret 2008, Semen Kupang  berhenti beroperasi karena pailit.

Dalam perjalanan, Semen Kupang berkali-kali mengalami masalah keuangan. Saat ini, Semen Kupang masih beroperasi, tapi tidak optimal.

Apakah pertambangan di Flores akan memiskin orang Flores?

Sebelum ada tambang yang dikelola secara korporasi seperti Semen Matim, penambangan pasir sudah terjadi di mana-mana. Kerusakan ekologis sejak 40 -50 tahun terakhir sangat masi di Flores.

Penambangan pasir adalah penambangan rakyat yang tidak ada standar dan umumnya tanpa izin.

Selama ini, orang Flores sudah miskin. Sebelum ada tambang yang dikelola secara korporasi, orang Flores didominasi penduduk miskin. Miskin absolut 18%, sedang yang hampir miskin sekitar  50%.

Bukanlah Flores cocok untuk pertanian?

Dengan kepemilikan lahan pertanian per petani yang rata-rata kurang dari 5.000 meter atau 0,5 ha, petani Flores hanya sekadar hidup. Pertanian di Flores adalah pertanian subsisten.

Hasil pertanian bukan untuk perdagangan, melainkan sekadar untuk makan. Kalau harus menjual untuk membiayai pendidikan anak, keluarga akan sangat miskin.

Pertambangan justru  complementer. Melengkapi sektor usaha yang menjadi sumber penghidupan rakyat. Pertambangan yang digarap terukur dan mengindahkan AMDAL, patuh terhadap UU dan peraturan lingkungan dan pertambangan akan memberikan manfaat besar kepada masyarakat.

Selama ini tidak ada yang meributkan sampah plastik di Flores daratan dan perairan. Semuanya dianggap biasa-biasa saja. Kalau pun pernah bicara, itu hanya sesekali. Tidak ada gerakan masif memerangi sampah plastik di Flores.

Juga tidak ada gerakan masif menentang pemotongan pohon, pembangunan rumah yang tidak beraturan. Semuanya dianggap biasa-biasa saja.

Yang dianggap luar biasa hanyalah tambang. Penambangan di Flores dianggap dosa yang  harus diperangi. Sebuah sikap hidup yang tidak lengkap,  tidak adil, dan tidak bijak.

Semua orang bicara tambang dengan embel-embel “demi rakyat”. Rakyat sudah memilih pemimpinnya untuk mengelola NTT dan setiap kabupaten.

Demi rakyat, mereka yang dipilih rakyat sudah memutuskan untuk membangun tambang semen di Matim.

Yang menentang pabrik semen di Matim juga mengatakan demi rakyat.

Tapi, apa artinya 6% warga terdampak yang belum setuju dibanding 94% warga terdampak yang sudah setuju?

Bicaralah pembangunan dengan kejernihan jiwa.

Terimakasih.
Salam hormat.
Majulah Floresku.