SPBU Reok Tidak Beroperasi, Ada Apa?

Daerah

Ruteng, SorotNTT.Com-Persoalan internal SPBU Reo rupanya berbuntut panjang, hal ini di ditandai dengan adanya kehadiran anggota Polisi dari Polres Manggarai di lokasi SPBU tersebut.

IMG-20210816-WA0106

Pantauan media ini, Rabu 20 Januari 2020, lokadi SPBU Reo tersebut dijaga ketat oleh anggota Polisi serta tidak adanya aktifitas pengisian BBM.

hut17_matim.jpeg

Media ini mencoba mengetahui akar persoalan sampai terjadinya aksi penutupan SPBU Reo tersebut kepada pengacara Ahli Waris dari Markus Kumpul, yaitu Asis Deornai S.H

Pengacara muda ini menjelaskan, Persoalan utama SPBU REO ditutup sementara disebabkan karena di tahun 2020 ini telah terjadi sengketa kepemilikan saham dan aset.

Dalam bedah kasus yang ditangani saat ini, pengacara ini menemukan DUA AKTA yang berbeda”

Pertama, AKTA tahun 2011 memuat perjanjian kerjasama saham
antara Markus dan Eduardus Sianatan alias Baba Ngeki. Markus Kumpul 40% dan Eduardus Sianatan alias Baba Ngeki 60%.

Saudara Ngeki diajak ikut bekerja sama karena Markus membutuhkan modal tambahan (penyertaan modal) untuk operasional SPBU REO.

Sedangkan aset tanah dan SPBU adalah milik Markus Kumpul. Karena Ngeki baru ikut saat semua infrastruktur telah dibangun oleh Markus Kumpul.

BACA JUGA:  Sambut HUT TNI Ke-75, Kodim 1612/Manggarai Gelar Bakti Sosial Bagikan Paket Sembako

Nama perusahaan dibuat oleh Markus Kumpul dengan nama PT KUMPUL BERSAMA SAUDARA. Beberapa anak-anak ikut terlibat menyumbang modal membangun SPBU ini. Terkecuali Krispian Kumpul anak bungsu Markus Kumpul yang saat itu merantau ke Bali. Ini sejarah awal lahirnya kerjasama saham di SPBU REO.

Kedua, pada tahun 2015 terbit AKTA BARU. Akta ini baru diketahui bulan novemver 2020 oleh para ahli waris yang lain dari Markus Kumpul.

Didalam Akta baru tersebut nama Markus Kumpul hilang, dan digantikan oleh anak bungsu perempuan bernama Krispian Kumpul dan Eduardus Sianatan alias Baba Ngeki tanpa diketahui anak-anak Markus Kumpul yang lain sebagai ahli waris. PT yang dibuat Markus Kumpul tidak berubah. Nama tetap, yakni PT Kumpul Bersama Saudara.

Akta 2015 inilah yang menjadi problem saat ini, sehingga ahli waris lain yang merasa.dirugikan dari perbuatan keduanya, dan kemudian mengambil langkah persuasif dan langkah hukum yang dianggap perlu.

Untuk diketahui Keluargapun sudah menempuh jalur diluar hukum dengan mendatangi Bupati bahkan Ketua DPRD Kabupaten Manggarai. Bahkan Polres manggarai juga ikut berupaya melakukan mediasi terhadap kedua pihak yg bersengketa, namun sampai saat belum ada titik temu dan jalan keluarnya.

BACA JUGA:  Polsek Kuwus Bersama Bhayangkari Bagikan Masker Antisipasi Covid-19 ke Warga

Saya ditunjuk sebagai Pengacara atau Kuasa Hukum dari anak-anak atau ahli waris bapa Markus Kumpul.

Dugaan kuat, bahwa Krispian Kumpul, Baba Ngeki juga ikut serta juga Notaris & PPAT Theresia Nurak, telah secara diam-diam dan sengaja membuat dan menerbitkan AKTA baru tanpa diketahui ahli waris yang lain. Nama pemegang saham pada Akta 2015 itu berubah. Tertera nama Krispian Kumpul dan Eduardus Sianatan alias Baba Ngeki sebagai pemegang saham dan penambahan aset sertifikat tanah hak milik Markus.Kumpul.

Atas perbuatan keduanya patut kami duga bahwa perbuatan keduanya bisa dituntut baik secara pidana maupun perdata.

Pidana bisa dituntut dgn Pasal 378 tentang Penipuan dan Pasal 372 tentang Penggelapan.

Untuk Perdata yakni PMH. (Perbuatan Melawan Hukum) dalam waktu dekat akan segera kami daftarkan di Pengadilan Negeri Ruteng.

Saya berharap, semua bisa diselesaikan secara baik. Semua pendekatan tetap kami tempuh tanpa harus mengorbankan saudara dan saudari yang lain apalagi kepentingan umum.

Ada problem keegoaan juga yang mengganggu saat pihak-pihak melakukan mediasi. Krispian Kumpul terlalu ego dan tidak mau aset Markus Kumpul dibagikan kepada anak-anak yang lain. Ada apa? Ini yang patut saya duga bahwa ada modus dibalik perbuatan Krispian Kumpul dan Baba ngeki.

BACA JUGA:  Pemda Manggarai Timur Salurkan Bantuan Sosial Tunai Kepada Mahasiswa

Banyak laporan juga yang saya dapatkan. Bahwa dalam prakrek SPBU ini sering ada praktek-praktek nakal dalam penjualan minyak. Sering melanggar SOP yang dikeluarkan Pertamina.

Sehingga, selain alasan Legalias SPBU, problem operasiional dilapangan juga menjadi problem serius, Alasan ini semakin membuat anak-anak atau ahli waris yang lain dari Markus Kumpul memutuskan untuk mengambil alih SPBU di reo.

hut17_fansi.jpeg hut17_sil.jpeg hut17_osi.jpeg hut17_yeni.jpeg hut17_domi.jpeg hut17_sma2pacar.jpeg hut17_smpn1pacar.jpeg hut17_manong.jpeg hut17_jon.jpeg