surat untuk Lia

Surat Untuk Lia

Cerpen Sastra

Kau tahu saat malam tiba, aku selalu ingin menulis tentangmu. Menjelajahi waktu dan kembali lagi ke dalam hangat pelukmu. Aku tahu kini kita telah berbeda, bukan karena kau atau aku yang memilih berubah, hanya saja waktu tak pernah mengizinkan kita untuk bersama. Langit boleh sama tapi kita berbeda. Hati boleh berharap tapi kita memang tak bisa menyatu dan menyata bersama lagi. Inginku boleh saja untuk selalu berada di sampingmu, menikmati senyummu sembari meneguk secangkir kopi dan menjamah tawamu bersama senja. Aku mencintaimu tapi tak selalu berarti harus bersama, bukan? Setidaknya begitu kata-kata para pujangga yang sering kudengar saat cinta yang dikejar tak kunjung berakhir di pelaminan.

Kau adalah wanita yang bermahkotakan kecantikan khas bunga di musim semi yang selalu menarik mata untuk ditengok. Engkaulah wanita elok berhati lembut. Aku mencintaimu sebab tak ada sebab yang harus dikatakan. Mencintaimu pun bukan diawali oleh sebuah rencana. Semuanya berawal dari ketidaksengajaan. Memandang eloknya wajahmu dan menikmati indahnya senyummu adalah ketidaksengajaan yang membawa keberuntungan. Kau tahu, kau yang kukenal hanya karena sebuah keberuntungan selalu menarik diriku untuk segera pulang, bukan ke rumah tapi pulang ke tempat di mana kita pertama kali bertemu. Lia katamu memperkenalkan diri. Sekejap nama itu meriap dan menjalar cepat ke hatiku, dan ku rekam nama itu dalam pikirku, padahal jarang sekali aku bisa mengingat nama seseorang. Bagas, ucapku cepat memperkenalkan diri.

Kau tahu sejak pertama kali aku mendengar namamu itu, aku selalu ingin memanggil, mengeja nama itu satu persatu, L-I-A. Aku ingin nama itu tertancap kokoh dalam hatiku, bahkan terkadang aku coba untuk mencekoki pikirku sebelum tidur tentang dirimu biar nanti mimpiku itu tentang dirimu. Dalam imajiku, aku juga berharap, kita akan bertumbuh bersama dan menghabiskan sisa waktu yang tersisa, berdua, ya hanya berdua. Memutih dan menghilang bersama kalau Tuhan mengizinkannya. Aku ingin menghabiskan cintaku hanya di sampingmu. Menjadikanmu embun yang menyapu mataku di setiap pagi dan dingin yang menyelimuti diriku saat malam menyapa.

Tetapi kemudian aku merasa ada satu dua hal yang ganjil tentang dirimu. Keganjilan itu terus menerus menumpuk hingga suatu saat kau menghilang bersama tepuk angin yang semakin dingin seperti malam ini. Hilang dan benar-benar hilang. Kau tahu aku meradang di sini, tak tahu mesti ke mana, seperti pengembara yang lupa jalan pulang. Hal yang tersisa dari diriku adalah diriku yang mati. Bibirku boleh tersenyum bahkan tertawa terbahak-bahak, tapi hatiku kini kosong. Lidahku boleh berceloteh bagai gasing, berputar kiri-kanan menghantam dan membentur segala sesuatu yang menghalangiku, tapi semuanya hanya muslihat. Bibirku telah lama beku dan entah mengapa lidahku kini lebih sering melekat pada langit-langitku. Semuanya menjadi hampa. Tak ada lagi kata manis yang sering keluar saat bibir dan lidahku menyatu di depan wajahmu. Mungkin dari jauh kau pernah melihatku bermain bola. Kau tahukan aku menyukainya. Satu hal yang harus kau tahu tentang itu bahwa, jangan melihat tubuhku bergerak cepat saat bermain bola atau kakiku bergerak lincah mempermainkan si kulit bundar, sebenarnya itu tipuan belaka sebab seutuhnya aku sedang berlari dan mencoba mengecoh masa lalu tentangmu. Saat malam tiba aku seperti tak mengenal diriku. Gelap tak berpenghuni. Sunyi dan senyap di sini. Hati ini.

Aku selalu berharap bahwa kita akan selalu bersama, seperti tulisan yang sering kubaca pada akun facebook orang-orang yang sudah berpengalaman dalam urusan cinta, supaya jangan pergi hanya karena kita selalu bertengkar, jangan egois hanya karena selalu ingin benar. Anggaplah pertengkaran hanya sebagai bukti bahwa kita adalah dua orang yang selalu takut akan kehilangan. Inginku begitu, tapi apa daya itu hanya asaku bukan asamu. Dunia kita kini sudah berubah dan berbeda. Aku dan kamu tak lagi menjadi kita. Tak ada lagi kata sayang, tak ada lagi kata rindu, tak ada pesan dan juga tak ada lagi ringtone, Bidadari Tak Bersayap dari Anji Manji yang sengaja kuatur khusus untukmu, wanita yang kuharapkan akan menjadi ibu dari anak-anakku yang lucu dan imut. Semuanya tentang kamu, Lia. Tapi sejalan dengan tepis detik yang kurasa kian menipis. Nyata mendorongku bukan untuk bermimpi melulu, tetapi untuk segera meraihnya.

Kau tahu Lia, akhir-akhir ini aku lebih sering membuka facebook. Bukan karena ada pesan yang masuk, tapi sekedar untuk memainkan jari jempol naik-turun di beranda. Aku lakukan itu, untuk memberitahukan kepada orang-orang di luar sana bahwa aku masih hidup, dan khususnya kepadamu kalau sempat engkau melihat aku online. Aku melakukannya terus menerus, hanya untuk memastikan satu dua hal yang sebenarnya aku juga tidak tahu tentang apa. Sampai suatu ketika aku dibangunkan dari tidur panjangku, dari lelah lelapku, ada yang menulis begini, “Cinta itu seperti angka 4, 2 dan 1. 4 mata 2 hati dan 1 cinta, 4 kaki, 2 raga dan 1 tujuan, kenapa angka 3 tidak disebutkan? Karena semuanya akan hancur oleh orang ketiga”. Seperti kita yang sekarang. Tanpa kata dan asa, hancur berantakan. Setidaknya yang aku tahu kini, dari berita angin yang sempat bertamu sebulan yang lalu, masuk ke kontrakanku lewat pintu depan dan langsung membangunkan aku dari khayal tentangmu. Kau sudah berdua, dengan siapa aku tak juga tidak tahu. Mengerti saja, kabar angin kadang sesumbar sepoi di siang hari. Tapi aku berharap tidak.

Pada bagian ini hubungan kita benar-benar hancur berantakan atau mungkin hanya aku yang hancur di sini? Aku ingin sekali bertanya tentang itu kepadamu. Kau tahu Lia aku ingin membencimu, memakimu dan bahkan bila perlu menghancurkanmu berkeping-keping seperti hatiku. Tapi aku ingat sebuah nasihat dari seorang sahabat, katanya demikian, “Tuhan akan mematahkan hatimu untuk menyelamatkan kita dari cinta yang salah”. Aku mulai mempercayai itu. Aku mulai menulis tentangmu di sini, hanya untuk melampiaskan semua isi hatiku. Aku tidak tahu pasti ke mana aku bisa mengalamatkan ini untukmu. Tapi yang pasti Lia, dengan menulis ini aku seperti bisa terus berjalan walau hatiku sedang sakit. Kau juga mesti tahu Lia, akhir-akhir ini aku mulai menyadari satu hal, sakit yang kuderita selama ini, bukan karena kau meninggalkanku begitu saja, tapi sakit karena tidak bisa bercerita lebih lama denganmu, bahkan menulis lebih banyak tentang aku di surat ini untukmu.

Andi Dolo
Tinggal di Tenda Ruteng