Suster Virgula Schmitt, SSpS Tutup Usia di Biara Induk Steyl Belanda

Ruteng, SorotNTT.Com-Sr. virgula Schmitt SSpS, kelahiran Grunebach, Jerman 3 September 1929, adalah sosok perintis Panti Pusat Rehabilitas Kaum Difabel dan Kusta St Damian dan Rumah Sakit St Rafael, yang keduanya terletak di Cancar, Ibu Kota Kecamatan Ruteng, Kabupaten Manggarai. Ia juga pendiri Pusat Rehabilitas serupa di Binongko, Labuan Bajo, Manggarai Barat.

Nama Sr Virgula begitu sangat akrab di telinga hampir semua masyarakat Manggarai, Flores-NTT.

Selain Biarawati Katolik itu memang memiliki jasa besar dalam karya pelayanan dibidang kesehatan. Menariknya bahwa di tengah sumbangsih yang besar, Suster Virgula dikenal sebagai sosok yang sederhana dan low profil. Ia selalu meminta agar namanya tidak usah dibesar-besarkan, karena itu publikasi tentangnya sangat kurang.

BACA JUGA:  Laiskodat : NTT Akan Menjadi Provinsi Penyumbang Energi Baru Terbarukan Terbesar di Indonesia

Beliau mulai berkarya di Manggarai sejak tahun 1965, dengan mendirikan sebuah balai pengobatan atau poliklinik. Tak lama kemudian beliau merintis Panti Pusat Rehabilitas Kaum Difabel dan Kusta St Damian dan Rumah Sakit St Rafael Cancar.

Berangkat dari kesadaran Suster Virgula melihat kebutuhan masyarakat Manggarai yang pada waktu itu banyak menderita penyakit malaria, cacing dan TBC. Suatu sisi pola hidup masyarakat Manggarai yang waktu itu jauh sekali dari pola hidup sehat.

Karena alasan usia dan kesehatan, pada tahun 2011, beliau kembali ke biara induk SSpS di Steyl, Belanda, tempat ia menetap hingga akir hayatnya.

“Mama Lula”, begitulah anak-anak St Damian menyapa Sr Virgula. Selain Biarawati Katolik, Suster Virgula merupakan perawat. Hampir ribuan pasien yang telah dilayani beliau, baik itu penyandang disabilitas, yatim piatu maupun orang kusta.

BACA JUGA:  IKMMATIM Malang Lestarikan Budaya Manggarai di Unikama

Kepergiannya hari ini, pada jam 5.30 waktu Belanda, sungguh meninggalkan kesedihan yang mendalam bagi keluarga besar santu damian.

Beliau telah meninggal, namun jejak karya dan petuahnya masih menempel di Manggarai. Seperti Mama Suster sendiri merasa begitu sangat berartinya kehadiran orang lain dalam kehidupan kita, begitu juga kami yang sangat rindu dengan sosokmu kini.

Pengalaman Sr Virgula tampaknya memberikan sebuah pencerahan tentang pentingnya rasa empati. Sulit rasanya membangun kepedulian kalau tidak ada empati. Minimnya kepedulian dan perhatian terhadap sesama lebih banyak disebabkan karena merosotnya rasa empati. Dimana seseorang benar-benar merasakan kondisi dan posisi yang sedang dialami oleh orang lain.(Titus)