Tanggapan Kordinator Forum Guru Komite SMKN I Wae Ri’i Atas Pernyataan Kasek Yustin dan Ketua Komite

Daerah

Ruteng, SorotNTT.Com-Koordinator Forum Guru Komite SMKN I Wae Ri,i, Petrus Mbana, S.Ag memberi tanggapan atas pernyataan Kepala Sekolah(Kasek) SMKN I Wae Ri’i  Yustin Maria D. Romas, S.Pd,Ek yang telah di muat SorotNTT.Com 19 September 2020 dan juga pernyataan Ketua Komite, Damianus Jurus  di muat 20 September 2020.

Berdasarkan data yang diterima SorotNTT.Com, Selasa 22 September 2020, Petrus menguraikan beberapa tanggapan atas pernyataan yang disampaikan oleh Kasek Yustin dan Ketua Komite Damianus yang beritanya telah dipublis media ini beberapa waktu yang lalu tersebut. 

Petrus menjelaskan, terkait pernyataan Kasek Yustin yang menyatakan bahwa guru-guru komite di rekrut olehnya sejak SMKN I Wae Ri’i mengalami perkembangan yang sangat pesat. Kasek Yustin sebenarnya menyadari bahwa perkembangan lembaga pendidikan SMKN I Wae Ri’i hingga sampai sekarang ini bukan karena kerja seorang diri, tetapi kerja sama semua pihak yang ada dilembaga tersebut, bahwa tidak mungkin Kasek merekrut guru komite kalau sanggup bekerja sendiri untuk meningkatkan perkembangan dan kualitas SMKN 1 Wae Ri’i dari tahun ke tahun hingga jumlah peserta didik sangat signifikan. 

Hal ini juga menunjukkan guru komite sangatlah berperan penting dalam memberikan kontribusi demi peningkatan perkembangan SMKN I Wae Ri’i dari sekolah yang biasa-biasa saja menjadi sekolah yang luar biasa, karena faktanya juga guru-guru komite yang telah dipecat oleh Kasek Yustin dan belum diakomodir dengan semua guru yang mosi tidak percaya akan kepemimpinan Kasek Yustin telah memberikan berbagai ide cemerlangnya; yang luar biasa juga kategori guru-guru yang berprestasi sekaligus profesional, bahkan demi penjaringan peserta didik guru-guru, pernah membagi brosur dan promosi langsung tatap muka dari sekolah ke sekolah di berbagai SMP yang ada di kawasan kabupaten manggarai pada umumnya demi memperbesar lembaga SMKN 1 Wae Ri’i. 

Lalu pernyataan Kasek Yustin juga di media bahwa jumlah murid 3 (tiga) tahun terakhir sampai 1.000 lebih, akan tetapi dalam laporan pertanggung jawaban uang komite 2019/2020 dengan orangtua/wali peserta hanya 850 orang, sementara kenyataan yang terdaftar dalam dapodik diawal tahun pelajaran 2019/2020 jumlah peserta didik 1.023 orang dan diakhir tahun pelajaran 2019/2020 berjumlah 1.003. Ini patut dipertanyakan mengapa pada saat laporan pertanggungjawaban dana komite dengan orangtua/wali peserta didik tahun pelajaran 2019/2020 hanyalah 850 orang, dimana peserta didik yang lain? 

Kami juga memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada orangtua/wali peserta didik yang telah memberikan kontribusi demi menunjang kualitas pendidikan SMKN I Wae Ri’i dengan berpartisipasi secara aktif membayar biaya/dana atau uang komite dan kebutuhan lainnya, namun apakah dia yang predikat sebagai pengguna anggaran terkait dana komite tersebut sesuai yang diharapkan orangtua/wali peserta didik dan apakah peserta didik sudah terpenuhi haknya untuk memperoleh pengetahuan terutama pasca dipecatnya ke-15 guru komite. Faktanya bahwa peserta didik masih terlantar. Kami lakukan aksi solidaritas sebelumnya karena kami benar-benar diperlakukan tidak adil dan tidak manusiawi oleh kepsek SMKN 1 Wae Ri’i.

Pernyataan lainnya dari Kasek Yustin di media terkait guru-guru komite yang ikut demonstrasi bersama guru-guru negeri itu, sejak tanggal 14 Juli 2020 tidak mau bekerja dalam kordinasi kepala sekolah. Kami juga perlu menegaskan terkait pernyataan ini bahwa situasi sekolah memang tidak kondusif sama sekali pasca aksi solidaritas, tidak ada itikat baik dari kepsek untuk merangkul atau mediasi, jadi peran kepsek untuk menciptakan rasa aman dalam lingkungan sekolah tidak ada sama sekali. Apalagi dari ketua komite tidak ada sama sekali untuk melakukan mediasi tersebut. 

Kasek Yustin mestinya harus bisa menciptakan rasa aman dalam lingkungan sekolah agar upaya mencerdaskan kehidupan bangsa sesuai amanat undang-undang dapat terselenggara dengan baik. Guru-guru yang tergabung dalam forum guru komite dan forum guru PNS tidak bisa masuk ke ruangan guru karena anak kandung saudari Yustin selalu datang bersamaan dengan preman ke sekolah dan bahkan pasca aksi solidaritas rapat pembagian tugas mengajar tahun pelajaran 2020/2021 dipimpin oleh wakasek kurikulum, saudari Yustin sebagai sang kepala sekolah tidak hadir.

Lebih lanjut juga bahwa Kasek Yustin keluar dari WA group resmi SMKN 1 Wae Ri’i sejak tanggal 25 Juli 2020. Kita tahu bahwa selama pandemi covid 19 ini komunikasi yang paling baik dan intens dalam sebuah lembaga pendidikan untuk saling berkoordinasi pastikan melalui media tersebut. 

Ketika Kasek Yustin juga beranggapan pasca aksi solidaritas kami setiap hari datang berkantor di ruangan lain dengan terus berupaya mengumpulkan bukti-bukti baru untuk mencari kesalahannya, pernyataan Yustin ini merupakan bagian dari prasangka, sebenarnya kami berkumpul di ruangan lain itu ada kegiatan,  kegiatan yang kami lakukan yakni persiapan pembelajaran serta menjalankan pembelajaran daring dan luring dengan peserta didik.

Hal ini juga pernah kami terangkan dalam pernyataan sikap kami di berbagai media sebelumnya.Kalau menurut Kasek Yustin laporan kami ke gubernur dalam surat mosi tidak percaya, semua penuh kebohongan dan fakta-fakta baru terus di angkat baik di depan Kabid GTK (guru dan tenaga pendidikan), Dinas P dan K Propinsi NTT, DPRD NTT Komisi V, yang semuanya sudah dijawab dan terbantahkan.

Kami juga menegaskan Substansi perjuangan guru-guru adalah perlakuan yang dialami guru-guru komite terkait gaji bulan April dan Mei 2020. Kami beranggapan bahwa Kepala SMKN 1 Wae Ri’i mau mengalihkan isu. Ini sebenarnya terkait kejujuran untuk melihat persoalan SMK Negeri 1 Wae Ri’i. Dia menganggap biasa-biasa saja, sementara bagi kami perlakuan Kepala Sekolah terhadap guru-guru komite dalam bentuk penggajian yang tidak berprikemanusiaan sebagai substansi perjuangan guru-guru. Mungkin Kepala Sekolah dan para pendukungnya beranggapan bahwa keputusan Kepala Sekolah  memotong gaji guru komite dari gaji pokok Rp. 1.200.000 menjadi Rp. 150.000, dari Rp.1.250.000 menjadi Rp. 212.000, dan yang lainnya adalah hal yang berprikemanusiaan dan wajar. 

Masih terkait pernyataan Kasek Yustin yang menyebutkan bahwa laporan kami ke gubernur, ke Kabid GTK, Dinas P dan K Propinsi NTT, DPRD NTT Komisi V, penuh dengan kebohongan yang semuanya sudah dijawab dan terbantahkan. Jadi beliau mengklaim pemerintah propinsi tidak menemukan kesalahan sesuai dengan pernyataan forum guru, maka itu tentu menimbulkan pertanyaan besar bagi kami.

Apakah pemerintah  tidak menemukan adanya perendahan martabat guru komite melalui penggajian bulan April dan Mei 2020 pada masa pandemi covid 19? Apakah pemerintah NTT mengafirmasi bentuk penggajian seperti itu apalagi pada masa pandemi covid 19? Apakah pemerintah provinsi membenarkan dan mendukung kebijakan Kepsek Yus Romas membangun Sumur Bor dan Renovasi Ruangan dari Dana BOS pada masa Covid-19 sementara guru komite melarat hanya mendapat gaji pokoknya dari Rp. 1.200.000 menjadi Rp. 150.000, dari Rp. 1.250.000 menjadi Rp. 212.000, dan yang lainnya adalah hal yang berprikemanusiaan dan wajar.

Jadi, kalau pemerintah NTT, tidak menemukan masalah apa pun di SMKN I Wae Ri’i maka ini tentu menimbulkan banyak pertanyaan. Ada apa? Hanya Tuhan yang tahu seperti itu.Terkait Kasek Yustin melakukan pembinaan terhadap guru-guru komite yang sudah 20-an hari tidak mengisi daftar hadir. Ini merupakan settingan agar guru komite secara regulasi pantas dikeluarkan atau dipecat oleh , karena Kasek Yustin pernah mendengar penyampaian terkait tahap-tahap pembinaan terhadap guru komite hingga secara aturan layak dikeluarkan atau dipecat, tahapan pembinaan itu, ia tahu ketika KABID GTK menyampaikannya saat datang beraudensi setelah aksi solidaritas para guru.

Kalau Kasek Yustin memahami bahwa setelah aksi solidaritas, guru komite tidak di bawah koordinasinya, mengapa pemberian surat pembinaan tunggu 20-an hari bukannya 2 atau 3 hari sebelum 20-an hari itu seharus sudah diberikan teguran lisan. Ironis sekali cara pembinaan semacam ini dari yang predikat sebagai KEPSEK dengan dalil agar terjadinya rekonsiliasi. 

Kasek Yustin menyampaikan juga terkait menarik laporan di polisi, dimana sampai saat ini menurutnya pihak pelapor tidak lakukan itu, sehingga bagi Kasek Yustin mengaktifkan lagi 15 guru itu, dia belum mengambil sikap karna proses hukum sudah berjalan. “Sehingga kami juga menguraikan bahwa pada tanggal 08 September 2020, kami bernegosiasi dengan Pihak Kepolisian untuk mendiskusikan pencabutan laporan itu. Namun, Pihak Kepolisian mengatakan bahwa pencabutan laporan tidak akan mempengaruhi proses hukum, itulah yang terjadi. 

Petrus juga menanggapi pernyataan sikap ketua komite SMKN I Wae Ri,i Damianus Jurus 


“Terkait pernyataan Damianus ini, koordinator forum guru komite mengklarifikasikan fakta yang diperoleh ke-15 guru komite yang sudah dipecat namun belum diakomodir oleh Kasek Yustin, dimana sampai saat ini peserta didik masih meminta tugas dan mengirim tugas kepada 15 guru mata pelajaran yang sudah dipecat itu. Bahkan anak wali dari ke-15 guru bersangkutan masih meminta arahan atau solusi dalam proses belajar daring maupun luring terkait kendala yang peserta didik alami, karena ke-15 guru yang sudah dipecat itu pada umumnya wali kelas seperti yang telah dijelaskan bekali-kali dalam pernyataan sikap ini.  

Akan tetapi Damianus Jurus secara terbuka menyampaikan bahwa proses pendidikan masih berjalan normal dan aman-aman saja. Apakah pernyataan Damianus ini fakta atau mengarang bebas? Apakah ketua komite tahu bahwa masih ada peserta didik yang belajar daring dan luring dengan ke-15 guru yang sudah dipecat? Lalu terkait pernyataan Damianus yang mengatakan: Jujur ini masalah erat kaitanya dengan tugas kami sebagai ketua Komite, tapi koh kami diabaikan. 

“Damianus mesti menyadari, setelah aksi solidaritasnya forum guru komite dan PNS beliau tidak pernah melakukan sikap tertentu sesuai kapasitas yang layak ketua komite pada umumnya, malah ketika guru komite memperoleh gaji pokoknya secara tidak manusiawi pada masa pandemi covid 19, Damianus diam saja. 

Bahkan Damianus terlibat intimidasi guru komite agar tanda tangan kertas yang belum ada isi pernyataannya hanya dengan dalil surat pembinaan 14 hari pada bulan juli 2020 tidak di bawah koordinasinya Yustin sang KEPSEK. Apakah ini sesuai pernyataannya tersebut? Maka dari itu saya mengajak supaya menyampaikan sikap di media itu harus fakta bukan kebohongan yang penuh dengan mengarang bebas, harus menyampaikan apa yang sebenarnya kita tahu dan apa yang sebenarnya kita lihat. 

Pada umumnya Ketua Komite ketika memberikan pernyataan sikap di media kebanyakan kecewa, Damianus juga mesti menyadari seperti itulah kekecewaan guru-guru komite karena benar-benar diperlakukan tidak adil sekaligus tidak manusiawi, sehingga yang menjadi tanda tanya besar dimanakah peranmu ketua komite SMKN I Wae Ri’i? Kami lagi-lagi menyampaikan permohonan maaf kepada peserta didik dan orangtua/wali peserta didik bahwa ke-15 guru komite yang telah dipecat tidak bisa sepenuhnya atau seutuhnya melakukan proses pembelajaran daring dan luring dengan peserta didik karena ke-15 guru bersangkutan belum diakomodir sang KEPSEK sampai saat ini.

Pada saat ini juga kami memohon kepada pemerintah propinsi NTT sepenuhnya agar secepatnya mengambil sikap dan keputusan terkait kemelut SMKN I Wae Ri’i. Kami mohon ini agar tidak lagi ada pihak yang mengarang bebas membela diri sehingga membuat pemerintah propinsi NTT dilema untuk memberikan keputusan seutuhnya, juga kami mohon semua ini kepada pemerintah propinsi NTT jangan sampai ada tragedi yang lebih dasyat lagi ketika kemelut ini belum terselesaikan.