Tarian ‘Tiba Meka’ Warnai Peletakan Batu Pertama Pembangunan Rusun Universitas Kevikepan Borong

Daerah

Borong, SorotNTT.Com-Indonesia yang membentang luas dari sabang sampai mauroke memiliki banyak ragam budaya yang diwariskan oleh nenek moyang. Seperti halnya sejumlah daerah lain di Indonesia, Manggarai Timur (Matim) Nusa Tenggara Timur (NTT) juga mempunyai cara khas untuk menyambut para tamu terlebih khusus tamu kehormatan seperti Kepala Daerah, tokoh Agama, para Menteri dan Presiden.

Setiap tamu kehormatan akan disuguhi oleh tarian adat penyambutan tamu yang dikenal dengan Tarian Tiba meka. Sesuai maknanya “Tiba” artinya terima atau penerimaan dan “Meka” adalah tamu.

Tarian inilah yang disuguhkan oleh para penari dari sanggar budaya ‘Bengkes Nai’ SMAK Pancasila Borong ketika menyambut para tamu-tamu agung atau penting seperti penyambutan Bapak Bupati Matim Agas Andreas, SH,M.Hum Bapak Uskup Mgr Siprianus Hormat, Bapak Sekda Matim Ir. Boni Hasudungan Siregar, dan Bapak ketua DPRD Matim Heremias Dupa beserta rombongan lain saat menghadiri kegiatan peletakan batu pertama pembangunan Rusun Universitas Kevikepan Borong Diosis Ruteng.

Bupati Matim Agas Andreas,SH,M.Hum bersamaan rombongan langsung disambut dengan ‘kepok Curu’ atau kepok penjemputan oleh tokoh adat setempat. Usai kepok penjemputan Bupati Matim bersama rombongan langsung di arahkan ke tempat kegiatan dengan diiringi tarian ‘Tiba Meka’.

Tarian ‘Tiba Meka’ ini dibawahkan oleh keempat wanita cantik dari SMAK Pancasila Borong. Keempat wanita cantik tersebut melakukan Congka Sae gerak tari etnik khas Manggarai dengan diiringi irama Ndudundake lantunan musik tradisional yaitu gendang dan gong.

Suasana saat itu, semakin hening saat mendengar bunyi gendang dan gong yang dimainkan sesepuh penari yang dipukul mengikuti irama bunyi gendang dan gong. Dengan gerakan yang ayu dan manja barisan keempat wanita cantik itu terus meliukkan badan mereka dengan lembut dan manja.

Para penari itu berdandan dengan pakaian adat khas daerah Manggarai. Paduan kostum kain songke di balut baju kebaya biru langit dan retu ditambah dengan Lopa (bakul) yang terbuat dari bahan dasar bambu semakin memanjakan mata. Kombinasi gerakan dengan aura pesona wajah-wajah cantik sungguh memesona.

Mereka bergerak seiring irama gendang dan gong yang dimainkan. Walaupun ditengah teriknya sinar matahari saat itu semua mata terpikat saat mereka bergerak dengan melenturkan tubuh dan tangan mereka sambil menggiring para tamu menuju panggung utama.

Pembina sanggar budaya Bengkes Nai Yohanes Albertus Mantu saat ditemui media ini Rabu (16/09/2020) menjelaskan, sanggar budaya ini sebelumnya sudah dibentuk pada tahun 2004 dan yang bentuk sanggar ini kebetulan kakak saya sendiri. Ketika dia lulus menjadi ASN saya yang melanjutkan karirnya di sanggar budaya Bengkes Nai SMAK Pancasila Borong.

“Saat saya masih di bangku kulia saya aktif di kegiatan sanggar budaya taman provinsi NTT selain itu saya juga mengikuti di sanggar kesenian Wela Pau Rana milik Hilarius Jehadu di sanggar tersebut selain saya sebagai penari saya juga sebagai instruktur”.

Kata Albertus, dari sanggar itu banyak pengalaman yang saya peroleh terutama mengenai seni tari. Di sanggar budaya Bengkes Nai, lanjut Albertus, masih banyak kekurangan-kekurangan yang kami miliki. Selama ini kami menggunakan alat musik yang adanya saja.

“Di sangar ini saya terus melatih siswa-siswi untuk menari dan memainkan alat-alat musik tradisional yang kami miliki saat ini. Kami sebagi sanggar mandiri memperoleh hasil dari penampilan kami melalui seni pertunjukan kemudian dari hasil itu kami gunakan untuk membeli perlengkapan lain untuk menambah kekurangan di sanggar ini”, jelasnya

Dijelaskan Albertus, tarian yang kami bawahkan pada hari ini adalah tarian ‘Tiba Meka’ tarian ini biasa digunakan untuk menjemput tamu-tamu keagungan. Tarian ini juga bisa digunakan melalui simbol-simbol lain misalnya teing cepa, wici loce dan lain-lain.

Albertus berharap, semoga kedepan anak muda kita yang ada saat ini lebih mencintai kebudayaan daerah dalam hal ini budaya manggarai terutama seni tari.

Selain seni tari, tambahnya, anak muda juga bisa mengangkat kembali musik-musik tradisional seperti gong, gendang, suling, tambur dan alat-alat musik tradisional lainnya. Yang saya lihat saat ini baik mulai dari seni tari sampai pada alat musik tradisional pelan-pelan mulai hilang dan pudar nilainya.

Penulis:Mulia Donan