tentang kamu

Tentang Kamu

Opini

Untuk kamu yang telah memberi semangat sekaligus mewarnai hari hariku.

Terima kasih untuk kesempatan mengenalmu dan ingin mengenalmu lebih dalam lagi.

Kamu pernah mengatakan bahwa sebaiknya kita harus saling memberi semangat dan saling mendukung dalam situasi apa pun. Hingga saat ini kita punya rasa memiliki. Maka aku pun begitu, rasa sayangku jauh lebih besar untuk memilikimu. Aku memilih menyayangimu.

Semua itu sungguh indah.  Bagaimana cara kita bertemu, tapi entahlah…

Aku masih ingat dengan jelas, saat di mana aku melihatmu pertama kali walaupun itu secara kebetulan.  Aku bisa merasakan perasaan yang berbeda,  bukan seperti perasaan dalam novel-novel roman. Kata-kata itu semakin nyata saat aku merasakan, juga degup dadaku yang semakin kencang. Apa ini yang mereka sebut cinta? Ah, mana mungkin, bagaimana hal itu mungkin terjadi. Hari berlalu dan aku biasa berkirim pesan dengannya. Saat itu aku selalu tersenyum sendiri dan susah tidur, ada bayangan dia. Bayangan tentang bagaimana dia menatap dan berbicara padaku  saat dia tersenyum. Aku tahu aku punya perasaan, tapi tidak tahu perasaan itu perasaan apa. Cepat ataupun lambat aku tahu, itu perasaan yang biasa orang sebut ‘cinta’. Aku ingin mengatakan bahwa aku mencintainya. Malam itu, aku sudah mengumpulkan keberanianku untuk berbicara. Iya, aku akan mengatakannya. Aku menunggumu dan kamu bilang tunggu waktu yang tepat untuk bisa bertemu.

Aku jelaskan perasaanku waktu itu. Malu. Demi apa pun, itu menyakitkan. Kamu belum tolak sebelum aku mengatakan cinta. Ada yang lucu dalam hal ini, sungguh. Eehhmm…

Hari terus berlalu dan aku mulai berubah. Di pikiranku hanya satu, aku ingin memilikimu, lagian kita bukan anak kecil lagi. Saat ini aku coba mengumpulkan keberanianku dan mengatakan aku sudah menyayangimu sejak hari itu melihat pesonamu.

Aku tahu ini salah, tapi entahlah..

Suatu malam aku coba memulai mengirimimu pesan dan  kamu membalas. ”Dia adalah orang yang baru sekali aku lihat,” pikirku saat membaca balasan darimu lalu aku kembali menyukaimu. Aku menyukaimu walau saat itu aku tahu kamu menyukai orang lain. Beberapa hari kemudian aku kembali mengatakan ‘itu’, perasaan itu. Ternyata masih sama malu-malu.

Aku rasa belumlah cukup. Belum cukup membiarkan hidup terlalu lama dalam kesendirian bahkan kesunyian.  Sungguh terlalu lama.

Aku sadar, tentang perasaan ini. Rasa ini, benar.  Seharusnya aku tidak seperti ini. Aku sudah mencintaimu sejak hari itu. Hari di mana aku melihatmu secara langsung dalam sebuah kesempatan.

“Apakah aku salah mencintaimu,” tanyaku.

Aku mencintaimu, aku mempunyai perasaan padamu.  Jika aku membuat perasaanmu lalai, maka hapuskanlah rasa ini dari kehidupanmu.

Maaf telah salah mengartikan cinta, cinta yang sebenarnya yang selalu melibatkanmu, aku tahu sekarang. Bahkan waktu itu aku tidak tahu, itu cinta atau hanya gombalan semata yang terbalut dalam kata cinta.

“Aku sudah mencintaimu sejak hari itu,” sahutku dalam hati.

Yach,, begitulah cinta. Meski ia datang begitu hormat, begitu suci, rasanya tidak adil jika harus mengusirnya pergi. Tetaplah mensyukurinya karena kita telah mencintai orang sepertimu. Bahagia rasanya walaupun itu masih mungkin untuk dimiliki ataupun sebaliknya.

Oleh: Nandichk Ferdinand
Penulis adalah pemuda asal Elsel, Matim.