Alfred Tuname - Esai

Tentang Seorang Politisi

Esai

Politisi itu pekerjaan yang mulia. Politisi lebih memikirkan kepentingan orang banyak. Ia tidak urus dirinya sendiri. Politisi harus berhadapan dengan banyak kepentingan. Setiap orang meminta hak-haknya diperhatikan. Masing-masing orang, masing-masing pula tuntutannya.

Asyiknya berpolitik bagi politisi adalah saat mengetahui nurani terdalam manusia: rakyat kecil. Ketika politisi menyentuh nurani itu, ia dielukan. Bahkan, ia dianggap “pahlawan” bagi kelompok rakyat itu. Itu memunculkan kepuasan batin.

Saya baru benar-benar mengerti politik ketika bekerja dan mengamati kehidupan politisi dari dekat. Ternyata, tak rumit jadi politisi. Caranya, pahami dan layani kepentingan banyak orang.

Tentu saja, integritas dan kapabilitas juga menjadi syarat baku jadi politisi. Politisi harus bisa beretorika dan berlogika. Bayangkan saja jika politisi tak capable dalam retorika, ia mau berperan apa? Tanpa semua itu, politisi hanya akan menjadi badut di panggung politik.

Susahnya adalah menjalani hidup sebagai politisi. Banyak yang dikorbankan untuk bertahan sebagai politisi. Keluarga dan (bahkan) diri sendiri terkorbankan karena urus banyak orang. Risiko kematian cepat pun menjadi bayangan yang terus muncul.

Selain itu, butuh biaya besar untuk menjadi seorang politisi. Negara harus mengeluarkan biaya untuk memunculkan seorang politisi. Pemilu, Pileg dan Pilgub/Pilkada adalah bagian dari investasi negara untuk melahirkan politisi.

Selain itu, setiap orang yang ingin jadi politisi juga harus memiliki bekal finansial yang cukup. Bukan untuk apa-apa, tetapi itu terhitung sebagai political cost yang mendukung kerja-kerja politik. Semuanya, dipantau dan transparan. Dasarnya, politisi harus jujur.

Jika jadi politisi, semua perjuangan akan terbalas lunas. Dalilnya, politisi yang mengurus orang banyak, ia pun akan diurus oleh orang banyak. Representasi orang banyak itu adalah negara yang memberikan fasilitas dan berbagai kemudahan.

Tetapi semua itu tidak abadi. Politisi bukan raja. Tak ada “the can do no wrong”. Semua akan terkoreksi setelah lima tahun. Jika tak becus, ia akan diacuhkan. Jika bagus, ia akan diurus lagi. Simple saja!

Seperti rumus “80/20” Vilfredo Pareto, “80 persen urusan publik tergantung pada kesepakatan, 20 persen elite/politisi”. Karena itu, “80 persen” nasib suatu komunitas masyarakat sangat bergantung pada pikiran dan keputusan politik dari “20 persen” (segelintir) politisi.

Atau sedikit mengutip Mikhail Gorbachev, “If not me, who? And if not now, when?” Nah, siapa lagi kalau bukan politisi? Kerjanya, hic et nunc ‘sesegera mungkin’. Di sini, political will dan political action harus benar-benar terbukti di hadapan masyarakat.

Karena politisi itu bukan dewa, ia tak lepas dari kekeliruan. Itu biasa. Selama darahnya masih merah, politisi pasti pernah salah. Itu bisa terjadi karena keputusan politik selalu berada pada kondisi antara petaka dan tidak menyenangkan. John K. Galbraith menyebutnya “choosing between the disastrous and the unpalatable”.  

Kita ingat pengakuan Obama ketika Amerika mengintervensi politik dalam negeri Libya. Pada tahun 2011, Moammar Khadafi lengser. Tetapi, chaos dan kehancuran negara Libya menjadi kejutan yang tak terbayangkan. Amerika tak punya “plan B” pasca Libya tanpa Khadafi. Yang ada hanya, mengutip Hillary Clinton, “Kami datang. Kami lihat. Ia (Khadafi) tewas.” Itulah salah satu contoh kekeliruan seorang politisi.

Yang penting, politisi tidak boleh langgar prinsip. Politics without principle adalah dosa politik. Prinsip keadilan, kebebasan dan etika harus tetap “luar kepala”. Semua itu adalah koridor demokrasi. Jika ingin tetap disebut politisi, maka berjalanlah di atas koridor itu. Tanpa melalui koridor demokrasi, politisi akan terkunci di bilik terali.

Anda politisi? Ikutilah prinsip-prinsip demokrasi itu. Tak usah terlampau improvisasi. Kalau masih punya taring, pergunakan itu untuk kepentingan banyak orang. Kalau sudah ompong, setiap omongan politisi hanyalah omong kosong. Itu siklus hidup politisi.

Alfred Tuname
Penulis dan Esais

Catatan redaksi :   Esai ini adalah tulisan pribadi penulis, isinya tidak mewakili pandangan redaksi SorotNTT.com