Terkait Hukum Pria Pegang Besi Panas di Sikka, Begini Penjelasan Ketua Lembaga Adat

Daerah

Maumere, SorotNTT.com- Baru-baru ini viral seorang pria berinisial MA (29) mendapat hukum adat pegang besi panas akibat dituduh selingkuh dengan MYT (29).

Kejadian tersebut terjadi di Dusun Tadat, Desa Baomekot, Kecamatan Hewokloang, Kabupaten Sikka, NTT. Awalnya, MA dilaporkan dengan tuduhan telah melakukan hubungan badan dengan MYT pada, 12 Agustus 2020.

Kasus tersebut baru dilaporkan sekitar bulan Oktober 2020 dan ditangani oleh pihak lembaga adat dan Pemerintah Desa Baomekot.

Saat pertemuan dengan pihak lembaga adat dan lembaga Desa Baomekot, MA dengan tegas menyatakan tuduhan yang disampaikan oleh MYT, idak benar.

Walaupun MA sudah tegas, namin ia harus menanggung hukuman adat, memegang besinpanas. Akibatnya, telapak tangan kanannya terluka akibat dihukum dengan menggunakan besi panas oleh Puter Mudeng Doto Molo yang berlangsung di Kantor Desa Baomekot.

Kejadian ini berbuntut panjang hingga keluarga MA melaporkan ke pihak kepolisian atas hukuman itu. Bahkan pihak Lembaga Adat angkat biacara.

Ketua Lembaga Adat Desa Baomekot, , Viktor Solot, menyebutkan bahwa hukuman adat memegang besi panas terhadap seorang warga di wilayah itu tidak sesuai prosedur adat setempat.

Menurutnya, hukuman adat pegang besi panas memiliki proseder tersendiri. Ada berbagai tahapan yang dilalui saat seseorang dihukum memegang besi panas (Nerang Rebu Gahu).

Tahapan sumpah adat itu dimulai dengan tetua adat menyampaikan bahasa adat diikuti dengan membakar kayu api. Kemudian membakar besi. Hanya besi plat yang digunakan sesuai kesepakatan nenek moyang.

Saat besi panas akan ditaruh pada lembaran daun (daun huler bahasa Sikka), harus didahului penyampaian mantra adat. Besi panas itu kemudian ditaruh di tangan tertuduh, lalu diminta untuk berjalan sejauh 5-7 depa dengan membawa besi panas yang dilapisi daun huler. Setelah itu, tertuduh kembali ke titik semula.

Viktor melanjutkan, setelah tertuduh melakukan itu semua, barulah pelapor melakukan hal yang sama.

“Jika hanya laki-laki sebagai tertuduh yang memegang besi panas, hal itu sama sekali jauh dari ketentuan adat yang diwariskan nenek moyang. Mestinya tertuduh maupun terlapor melakukan hal yang sama yakni disumpah memegang besi panas,” jelas Viktor kepada awak media, Rabu, (18/11/2020).

Dari seluruh rangkaian kejadian itu, Viktor menilai ritual adat tersebut dilaksanakan tanpa dasar hukum sebagaimana tertuang dalam rancangan Peraturan Desa Baomekot tentang adat.

Laporan dan Editor: Pepy Dain