Theresia Wisang Mengutuk Keras Pelaku Pemerkosaan Anak Cacat

Borong,SorotNTT.Com-Kabar tak sedap dan menyayat hati datang di awal Februari 2022. Dalam dua bulan terakhir terjadi kasus pemerkosaan di Desa Golo Ros, Kecamatan Rana Mese, Kabupaten Manggarai Timur,Provinsi NTT.

Hari ini sebagaimana diberitakan media, seorang balita tunawicara berinisial P mendapat perlakuan senonoh dari pria yang diketahui bernama Iren. Balita berusia 2 tahun itu diperkosa hingga kemaluannya robek.

Peristiwa ini memantik keprihatinan publik. Tak terkecuali Ny. Theresia Wisang Agas, Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Manggarai Timur ini, mengutuk keras pelaku pemerkosaan.

“Ini betul-betul biadap. apapun alasannya pemerkosaan terhadap anak, apalagi anak yang cacat adalah kejahatan pada kemanusiaan, dan merendahkan martabat kita sebagai manusia”, tegas Theresia Wisang.

BACA JUGA:  Bantu Kesulitan Warga, Satgas Pamtas Yonif 142 Gelar Baksos

Theresia mengingatkan pihak kepolisian serius menangani kasus-kasus seperti ini, supaya tidak jadi preseden buruk, dan orang menganggap persoalan ini bisa diselesaikan dengan cara kekeluargaan.

” Saya minta kepada pihak berwajib agar penanganan terhadap kasus seperti ini harus serius. Kejahatan seperti ini adalah kejahatan yang paling kejam dari semua kejahatan. Jangan main-main dengan kriminalitas seperti ini”, ungkap mantan aktivis PMKRI ini.

Sementara,Kepala Desa Golo Ros, Herman Jehadut, sebagaimana dilansir Flores News, Sabtu (5/2/2022) membenarkan hal tersebut.

“Iya benar. Kejadiannya tanggal 27 Januari lalu. Orang tua korban kemarin datang ke rumah dan sudah cerita semua. Termasuk hasil visum kemaluan korban robek,” ujar Herman Via telepon.

BACA JUGA:  Tutup Zona Satu, Deno Kamelus Safari Ke Reok dan Reok Barat

Ia menjelaskan, saat ini, pihak pelaku ingin menyelesaikan kasus yang terjadi secara kekeluargaan. Tetapi, menurut Herman, pihaknya tidak akan melibatkan diri untuk mediasi.

“Karena kasus pemerkosaan anak di bawah umur. Apalagi si korban anak kecil ini tidak bisa bicara,” katanya.

Herman menambahkan, kasus tersebut sudah dilaporkan ke Polres Matim. Sehingga dia berharap semoga penanganan terhadap kasus ini dilakukan secepat mungkin.

“Dulu kasus pertama dimediasi. Sekarang kalau penanganan tidak cepat pasti ujung-ujungnya mediasi. Kami di desa tidak ada kewenangan. Sebab hukum yang kami pakai disini adalah hukum adat. Itupun kami lihat dulu kasusnya,” tandas Herman.

BACA JUGA:  Pelaksanaan Perayaan Natal di Kabupaten Manggarai Berjalan Aman

Informasi yang diperoleh media, bahwa pihak kepolisian sedang menuju TKP.