ilustrasi toilet-pixabay

Toilet

Esai

Ada seorang filsuf Slovenia yang bernama Slavoj Zizek. Ia cerdas, kritis, juga humoris. Dengan analogi toilet, ia pernah menjelaskan ideologi di balik bentuk toilet. Ada tiga kebudayaan besar di dunia yang ia jelaskan melalui bentuk toilet.

Pertama, di Prancis, lubang toiletnya ada di bagian belakang. Spekulatif semiotiknya, ada sejarah perjuangan politik revolusioner (political revolutionary left) yang kuat di balik kondisi sosial dan fluktuasi politik kekinian. Itu seperti membiarkan “excrement” dilepas ke belakang pecah seperti terpotong pisau guillotine dan hanyut.

Kedua, di Jerman, lubang toiletnya di bagian depan. Spekulasinya, ada tradisi metafisika, puisi dan konservatif. Semacam, kekuatan imajinasi dan hermeneutika yang begitu kuat seperti membayangkan “excrement” berada di depan mata.  

Ketiga, di Anglo Saxon (Inggris), lubang toiletnya penuh dengan air. Spekulasinya, fundamen pragmatisme begitu kuat pada masyarakatnya. Sikap hidup lebih rasional, moderat dan “let it flow” seperti “excrement” yang terapung di air lalu menghilang.

Itulah cara filsuf menjelaskan ideologi secara mudah, tanpa perlu PowerPoint. Terlepas dari urusan la grande narrazione itu, urusan toilet tidak bisa dibiarkan begitu saja, let it flow. Dalilnya, setiap rumah harus memiliki toilet yang layak disebut toilet.

Di negara kita, yang masih disebut dunia ketiga ini, urusan toilet saja masih ribet. Masih tak berbentuk. Bahkan terlampau luas. Jika ada rekor dunia, maka toilet terluas itu ada di Indonesia. Luasnya, sejauh mata memandang. Hanya dibutuhkan selembar kain dan sebuah gayung (jika dibutuhkan). Kadang, apa pun bisa jadi pembersih. Jorok memang.

Kalau di NTT, yang jorok seperti masih ada. Cukup ke hutan, sungai dan pantai, “BAB” pasti lancar. Ini bisa jadi soal. Kebiasaan itu membentuk “gen” pada generasi. Akibatnya, penggunaan toilet (WC) pun seenaknya. Sehabis “BAB” dan pipis pun tidak disiram. Semacam tidak bisa move on dari peradaban lama ke peradaban yang lebih modern.

Maka tidak salah jika dijumpai toilet-toilet (umum) yang tak diurus dengan baik. Kantor-kantor pemerintah, ada toilet yang tak diperhatikan dengan baik. Kadang ada jurnalis kritis yang mengangkat persoalan toilet “plat merah” ke ruang publik. Boleh jadi, masih ada anggapan bahwa toilet adalah tempat yang jorok.

Padahal, toilet itu bagian dari ritual kenikmatan makan-minum. Kalau makan/minumnya enak, buangnya juga harus enak. Kira-kira begitu filosofinya. Tentu, semuanya bertujuan baik bagi kesehatan.

Jadi, toilet harus bukan saja layak, tetapi harus ada toilet sehat. Rumah jadi sehat, kalau toilet juga memenuhi unsur sehat. Minimal ada “Ina” di ruang toilet, kalau bukan WC duduk.    

Tidak heran apabila Gubernur NTT Viktor B. Laiskodat mencanangkan akan diadakan Festival Toilet Bersih (Kompas.com, 10/1/2019). Itu karena masih banyak warga NTT yang belum memiliki toilet bersih. Jangankan warga masyarakat, hotel-hotel dan gedung-gedung pemerintah saja masih ada toilet yang tak terurus.

Festival itu terobosan yang menarik sekaligus menancapkan kesadaran akan toilet sehat. Idenya praktis sekaligus pas (kontekstual). Atau seperti spontanitas Wakil Gubernur NTT Yosef Nae Soi saat datang ke Manggarai Timur. Ia memberikan hadiah Rp 100 juta untuk SMAK St. Arnoldus Mukun, Kecamatan Kota Komba, karena toilet siswa-siswinya bersih (bdk. Floresa.co, 10/5/2019). Luar biasa. Shocking but true!

Siapa lagi yang ingin dapat hadiah? Jadikanlah dahulu toilet Anda toilet bersih juga sehat.

Alfred Tuname
Esais     

Catatan redaksi :   Esai ini adalah tulisan pribadi penulis, isinya tidak mewakili pandangan redaksi SorotNTT.com