TOROK SATU ABAD SANG SABDA

Sastra

Oleh Gerard N. Bibang

I. IMANKU PERCAYAKU

torok-ku intimasiku
dengan Mori Agu Ngaran* selalu menyatu
hidup hari-hari dan pengalaman dengan-NYA tak berbatas
menyapa-NYA tak usah butuh waktu dan tempat khusus
yang profan dan yang kudus tak harus terpisahkan
keduanya mengalir dalam denyut nadi
mengalami omnipresentia* Yang Ilahi
menjadikanku seutuhnya religius dan manusiawi

torok-ku, imanku
akan benih-benih sabda yang mulai ditabur seratus tahun lalu
ke dalam kalbu dan rahim ibu manggarai
mekar, memuai dan berbuah bermusim-musim
kokoh tahan uji

torok-ku, percayaku
akan segala peristiwa yang pasti meninggalkan getaran-getaran gema
entah kecil, entah besar, entah mulia, entah dina, apa pun itu
karena jala telah ditebarkan oleh misionaris dan petarung sabda
aku pun selalu kembali ke tempat ini
memanggil memori, bersama dan sendiri-sendiri
oh betapa megah dan indahnya
manggarai, bumi persada
tetesan Sang Sabda, Alfa dan Omega Segala Keindahan

meski dalam derasnya hujan es berbatu
hujan ludah dan air liur para raksasa
manggarai di kampung dan diaspora disatukan oleh banjir
manggarai menyempit, menjadi sebuah bendungan
bendungan itu bernama globalisasi
hujan turun terlalu deras
banjir global masuk sampai ke kamar pribadi
menelusup sampai ke ulu hati
bahkan otak sampai terbungkus oleh kerak tahi besi
karena sabda telah memembumi
aku pun berani berkata: torok-ku tak akan pernah berhenti

II. ARUS PANAS

dengarlah torok-ku, yooooo Mori
tentang manggarai yang tidak hitam putih
yang hijau permai warna-warni
tentang berbagai dilemanya dengan pilihan serba sulit
tentang hidupnya yang bukanlah sebuah logika yang jelas terurai
tentang dialektika zaman yang tak dapat diselesaikan dalam alur berpikir logis
tentang arus panas untuk mencairkan segala kebekuan
ialah berpikir buntu dan asa yang lunglai
untuk memobilisasi kesanggupan demi mentransendensikan diri
tidak hanyut dalam keenakkan rutinitas hari-hari
untuk melawan kecenderungan-kecenderungan yang berdamai saja dengan jawaban-jawaban absolut dan sloganistis atas kehidupan
untuk kembali menghidupkan visi untuk apa menjadi manggarai
untuk kembali menegakkan tonggak arah, yang pasti akan terdengar ekstrim
karena akhir-akhir ini kehidupan telah menjadi banal
korporasi raksasa menjanjikan kesejahteraan melalui kompetisi yang melibas martabat sesama

III. MAKA

torok-ku bukan manjakku
manggarai telah membaja oleh sabda sejak seratus tahun lalu
torok-ku adalah rasionalku
agar terbuka kepada yang bersifat rahasia
bahwa untuk mengakui rahasia bukanlah ungkapan bagi yang irrasional
untuk menerima keterbatasan rasio dalam menangkap dan menjelaskan segala pengalaman kehidupan
untuk tidak menjadi irrasional karena mengklaim diri mampu menjelaskan semua gejala dan pengalaman hidup dengan kesanggupan nalar
maka torok-ku ialah ada-ku, sejatinya
yang selalu terarah kepada Mori Agu Ngaran
oleh sabda-NYA, aku telah diberi-NYA capax dei*
yang memampukanku mengenal dan mencintai-NYA
untuk menyelami misteri ILAHI
sekarang dan di sini, di manggarai

bukan, bukan maksudku untuk menjadi malaikat
kemakhlukanku adalah seorang manusia biasa
maka aku selalu ber-torok
bukan untuk menghiasi mimpi-mimpi di siang bolong
aku seorang manusia biasa
yang merindu dan mendamba
yang menyentuh pikiran dan hati banyak orang
apa pun latarbelakang kepercayaan dan pandangannya
siapa dan dari mana, dia datangnya
bergandengan tangan menuju keabadian cinta

maka torok-ku adalah gema di setiap jengkal kehidupan
yang memohon perlindungan bagi setiap anak-anak manggarai yang sedang dikandung ibunya
yang ketika dia dilahirkan, kemudian memberinya sebuah nama
yang mengharapkan kedamaiannya di dunia para leluhur setelah kematiannya nanti
torok-ku berdenyut di sanubari, bergaung tiap hari
di setiap waktu dari manusia yang bermartabat luhur

maka torok-ku adalah cara-berbicara-ku dengan Mori Agu Ngaran
torok-ku bukanlah sebuah ulasan ilmiah yang telah melewati pertimbangan rasio yang ketat
hanyalah ekspresi terdalamku yang hendak hadir seluruhnya di hadapan Mori Agu Ngaran
di hadapan-NYA
seluruh hidupku berserah

IV. BUKAN PENGEMIS

torok-ku, totalitasku
dalam jaringan semesta agar tidak seenak-enaknya mau
untuk menentukan apa dan bagaimana berperilaku
maka untuk membuka lingko* harus kuminta izin dulu pada batu, tali, kayu dan tanah lalu kusirami mereka dengan tuak
untuk mendirikan rumah, kuundang kehadiran dan perlindungan nenek moyang agar memberkati bahan-bahan yang telah disiapkan
jadilah torok-ku adalah doaku
di sembarang waktu
bersyukur ketika sukses dan gembira
menangis tatkala duka dan pedih menimpa
yang diyakini hanyalah gerhana
bukan karena aku pengemis rahmat, bukan, bukan!
pengalamanku ialah berada di hadapan Mori Agu Ngaran
DIA-lah Sang Sabda
kami pun saling menyapa dalam dalam situasi apa pun
tidak perlu menunggu ibadat dan misa hari Minggu

****(tmn aries:jkt: sept ’20)

catatan:
· Torok = ungkapan-ungkapan yang tersusun dalam syair-syair indah untuk menyatakan maksud-maksud tertentu dan ditujukan kepada Wujud Tertinggi atau pun leluhur. Dituturkan dalam konteks upacara adat, dalam suasana sakral. Kerap disebut sebagai doa asli orang Manggarai di Flores Barat.
· Mori Agu Ngaran = Tuhan Pencipta dan Pemilik
· Capax dei = kemampuan Ilahi

  • Yo Mori = Ya Tuhan
    · Lingko = Sebutan di kalangan orang Manggarai untuk kebun komunal yang memiliki bentuk bundar dan di tengahnya terdapat titik pusat yang disebut lodok. Dari lodok itu ditarik garis lurus ke luar hingga pinggiran lingko yang disebut cicing. Masing-masing orang mendapat jatah tanah sesuai kedudukananya dalam kampung yang takarannya diukur dengan menggunakan jari tangan (moso). Ada yang mendapat moso ponggo (=ibu jari) karena dia tetua kampung. Sedangkan seluruh warga biasa mempunyai hak sesuai dengan moso-nya masing-masing.
    · Omnipresentia = hadir di mana-mana