Ubi Nuabosi Mendekatkan Ende dan Ibu Julie Sutrisno

Ubi Nuabosi Mendekatkan Ende dan Ibu Julie Sutrisno

Esai Featured

Sabtu, 29 Juni 2019. Hari itu tepat 32 hari wafatnya Bupati Ende alm. Marselinus Y. W. Petu. Di bawah langit duka, hiruk-pikuk kota Ende sudah terlihat biasa.

Sore pukul sekitar 16.45 WITA, ibu Julie Sutrisno tiba di Bandar Udara Haji Hasan Aroeboesman, Ende, dengan pesawat komersial. Ibu Julie Sutrisno biasa juga disapa sebagai “Ibu Gub”, karena sebagai istri Gubernur NTT Viktor B. Laiskodat. Oleh para Ketua PKK dan Dekranasda Kabupaten di NTT, ia disapa dengan “bunda”.

Di Bandar Udara Haji Hasan Aroeboesman sahabat-sahabatnya sudah menunggu. Mereka adalah ibu Hj. Mastuti (istri Wakil Bupati Ende Djafar H. Achmad), ibu Thresia Wisang (istri Bupati Manggarai Timur Agas Andreas), ibu Maria Aloisia Malung Daduk (istri Bupati Manggarai Barat Agustinus Ch. Dula), ibu Eduarda Yayik Pawitra Gati (istri Bupati Nagekeo Johanes Don Bosco Do), dan ibu Lusia Barek Hayon (istri Bupati Flores Timur Antonius Hubertus Gege Hadjon). Mereka menunggu bunda Julie sebagai sahabat, Ketua PKK dan Degranasda NTT dan istri Gubernur NTT.

Setelah ramah-tamah penyambutan, rombongan Ibu Gub bersama sahabat-sahabatnya langsung menuju tempat peristirahatan terakhir alm. Marselinus Y. W. Petu di Pekuburan Onekore, Ende. Di perjalanan, rombongan disambut keindahan dan karya pembangunan Bupati Ende alm. Marselinus Y. W. Petu. Sebuah videotron tampak jelas menayangkan ucapan “Selamat Datang di Kota Ende. Kota Lahirnya Pancasila”.

Tiba di Pekuburan Onekore, keluarga duka sudah menunggu. Ibu Matilda Gaudensia Ilmoe, istri tercinta alm. Marselinus Y. W. Petu, anak Charlos Ronaldo CH. Sara dan Yosephus Dede Surya Sara, serta keluarga besar sudah mengelilingi pusara. Suasana haru dan tangis tumpah saat rombongan Ibu Gub menjumpai keluarga duka.

Dalam suasana haru sore itu, mereka berdoa Rosario bersama demi keselamatan jiwa bapak Marselinus Y.W. Petu. Lalu lilin dinyalakan dan diletakan di pusara pria kelahiran 31 Oktober 1963 itu. Keluarga duka menyampaikan ucapan terima kasih kepada ibu Julie Sutrisno dan para ibu bupati yang telah datang mendoakan keselamatan jiwa bagi bapak Marselinus Y.W. Petu, sekaligus sebagai bentuk dukungan yang menguatkan bagi istri, anak dan keluarga yang ditinggalkan.      

Pada kesempatan itu juga, ibu Julie Sutrisno menyampaikan dukanya yang mendalam atas meninggalnya bapak Marselinus Y. W. Petu. Dengan penuh akrab, ia menyapa almarhum sebagai kakak Marsel. Ibu Julie menceritakan, ia mengenal bapak Marselinus Y. W. Petu saat pertama kali ia roadshow dari Labuan Bajo sampai Lembata.

“Saat itu, kakak Marsel yang menyiapkan saya makan waktu saya sampai di Ende. Makanya saya ingat persis beliau. Saya merasa dia sebagai saya punya kakak yang saya harus datang. Maka ini hari utang saya lunas. Sa su datang, Kakak. Kami semua kaget. Tapi kami yakin Tuhan punya rencana. Tuhan punya rencana untuk kita semua yang lebih indah,” cerita bunda Julie dengan derai air mata.

Sore itu, langit Kota Ende tampak murung. Tetapi hidup mesti terus dilanjutkan. Seperti suara Adzan dari masjid-masjid di Kota Ende dan lonceng gereja Misa Sabtu sore, pertanda ada doa, keselamatan dan harapan. Istri, anak-anak, dan keluarga Alm. Marselinus Y. W. Petu tetap tegar sebab ada dukungan dan doa dari semua warga Kota Ende dan NTT.

Sepulang dari Pekuburan Onekore, ibu Julie Sutrisno dan rombongan kembali ke penginapan masing-masing sambil menunggu Ibadat Sabda di Rumah Jabatan Bupati Ende, pukul 19.00 WITA. Ibadat dipimpim oleh Pater Marsi Djawa, SVD. Keluarga, masyarakat, pegawai hadir untuk mendoakan keselamatan jiwa bagi alm. Marselinus Y.W. Petu.

Setelah Ibadat Sabda, lagi ibu Julie Sutrisno diberi kesempatan bicara di depan semua yang hadir. Ia menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua yang hadir sebab telah bersama-sama mendoakan alm. Marselinus Y.W. Petu. Ia juga menceritakan kedekatannya dengan alm. Marselinus Y.W. Petu. “Kakak Marsel-lah yang memperkenalkan ubi nuabosi. Kenangan itu semakin mendekatkan saya dengan kakak Marsel dan keluarga, dan Ende,” ungkap Julie Sutrisno penuh haru.

Kepada ibu Matilda Gaudensia Ilmoe, bunda Julie juga berpesan supaya kuat dan tegar menghadapi persoalan. “Kakak nona harus kuat dan tegar sebab masih ada dua anak. Tuhan punya rencana untuk kita. Melalui kaka nona, kami bangga sebab selalu juara dalam lomba PKK. Di situ ada dukungan kakak Marsel. Kami bangga atas pengabdian kepada masyarakat NTT. Kita harus lanjutkan cita-citanya. Mari kita bergandengan tangan untuk terus maju. Demi kaka Marsel, mari kita terus semangat dan gotong royong,” ungkap bunda Julie.

Lalu semua ungkapan itu disatukan dalam acara makan bersama keluarga besar. Ibu Gub juga tak henti-hentinya memuji sajian menu masakan yang variatif, enak dan mengundang selera makan.

Apa pun yang terjadi di dunia ini, kita hadapi penuh dengan rasa syukur. Mengutip kata ibu Julie Sutrisno, “dalam hidup kisah suka dan duka datang silih berganti. Kita perlu mengucap syukur atas semua itu”. Tentu semua kembali pada rencana Tuhan yang terindah.

Alfred Tuname
Esais