Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Siswa SMK Melalui Pembelajaran Berbasis Masalah Pada Materi Statistika

Daerah

Oleh: Flavianus Jehadun, S.Pd
(Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 1 Wae Ri’i)
Jln. Lintas Kenda-Ting, Desa Bangka Kenda, Kec. Wae Ri,i
Kab. Manggara, Prov. NTTKode pos: 86511

ABSTRAK

Proses pembelajaran dapat dikatakan berhasil apabila siswa mencapai kompetensi yang diharapkan, Salah satu model pembelajaran yang dapat membuat siswa lebih aktif adalah pembelajaran berbasis masalah (PBM). PBM merupakan pembelajaran dengan cara guru menyajikan serangkaian pertanyaan yang sifatnya menuntun dan menggali sehingga terjadi proses berpikir yang mengaitkan pengetahuan siswa dan pengalamannya. Penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas dengan proses dua siklus, pada subjek penelitian adalah siswa kelas .Data yang sudah di analisis menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis masalah optimal untuk meningkatkan kemampuan pemahaman konsep siswa SMK kelas XII ATR 1 (Agribisnis Ternak Ruminansia) SMK Negeri 1 Wae Ri’i yang berjumlah 28 siswa. pada materi statistika dengan rata-rata gain sebesar 0,15 (kategori rendah). Peningkatan kemampuan pemahaman konsep perindikator terlihat berbeda-beda, peningkatan tertinggi ada pada jenjang C4 yaitu menganalisis dengan gain sebesar 0,18 (kategori rendah) dan peningkatan terkecil ada pa da jenjang C2 (memahami) yang berada pada gain 0,07 (kategori rendah).

Kata kunci: pembelajaran berbasis masalah, pemahaman konsep, statistika

PENDAHULUAN

Latarbelakang Masalah

Proses pembelajaran dapat dikatakan berhasil apabila siswa mencapai kompetensi yang diharapkan, karena hal itu merupakan cerminan dari kemampuan siswa dalam menguasai suatu materi. Hal ini tidak terlepas dari kemampuan guru dalam memilih model pembelajaran dan media yang digunakan dalam proses belajar mengajar. Apabila model pembelajaran dan media yang digunakan guru kurang tepat maka pembelajaran menjadi kurang efektif dan menyebabkan rendahnya hasil belajar siswa. Selain ketidaktepatan model pembelajaran dan media yang digunakan, sikap siswa yang pasif saat proses pembelajaran juga menjadi salah satu faktor penyebab rendahnya nilai siswa. Sikap siswa terhadap mata pelajaran merupakan faktor penting dalam belajar.

Salah satu model pembelajaran yang dapat membuat siswa lebih aktif adalah pembelajaran berbasis masalah (PBM). PBM merupakan pembelajaran dengan cara guru menyajikan serangkaian pertanyaan yang sifatnya menuntun dan menggali sehingga terjadi proses berpikir yang mengaitkan pengetahuan siswa dan pengalamannya dengan pengetahuan baru yang sedang dipelajari. Proses pembelajaran model ini juga menyajikan masalah sesuai dengan konteks kehidupan sehari-hari sehingga dapat menggali pengetahuan baru dan pengalaman siswa melalui masalah yang sedang dihadapi siswa. Model pembelajaran berbasis masalah (PBM) merupakan salah satu model pembelajaran yang dianggap memiliki karakteristik pembelajaran saintifik. Pembelajaran berbasis masalah memandu peserta didik untuk menemukan fakta yang berguna dan menemukan konsep yang sulit untuk ditemukan supaya siswa bisa memiliki jiwa innovator (Etherington, 2011). PBM dapat mengubah siswa dari penerima informasi secara pasif menjadi aktif, belajar mandiri dan pemecah masalah. Model ini dapat membantu siswa mempelajari pengetahuan baru melalui masalah yang telah diatasinya (Cuhadaroglu et. al., 2003). Selain itu, siswa dihadapkan pada suatu masalah yang kadang tidak jelas sehingga tidak ada jalan atau prosedur yang jelas. Siswa tidak hanya bersikap pasif tetapi dapat mengikuti diskusi kelompok dan menikmati proses pembelajaran (Selcuk, 2010).

Rumusan Masalah

Rumusan masalah yang diteliti dalam penelitian adalah Bagaimanakah Model Pembelajaran berbasis masalah mampu meningkatkan hasil belajar siswa SMK Negeri 1 Wae Ri’i Kelas XII ATR 1 (Agribisnis Ternak Ruminansia) pada mata pelajaran Matematika materi statistika?

Tujuan Penelitian

Tujuan Penelitian Berdasarkan rumusan masalah dalam penelitian ini adalah mengkaji Model Pembelajaran berbasis masalah mampu meningkatkan hasil belajar siswa SMK Negeri 1 Wae Ri’i Kelas XII ATR 1 (Agribisnis Ternak Ruminansia) pada mata pelajaran Matematika materi statistika.

Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi siswa dan guru serta bagi sekolah, manfaat dideskripsikan sebagai berikut:

1. Bagi Siswa
Penelitian ini dapat memberikan suasana yang menarik bagi siswa pada proses belajar mengajar sehingga siswa termotivasi mengikuti proses pembelajaran dan mempermudah memahami materi yang dikaji.

2. Bagi Guru
Penelitian ini dapat memberi masukan pada guru untuk menerapkan Model Pembelajaran berbasis masalah sesuai dengan minat, kondisi dan kompetensi yang diajarkan.

3. Bagi Sekolah
Penelitian ini dapat memberikan semangat bagi guru-guru di sekolah untuk melaksanakan penelitian-penelitian yang berkait dengan proses dan hasil belajar.

TINJAUAN PUSTAKA

Problem Based Learning/ Pembelajaran Berbasis Masalah
Pembelajaran berbasis masalah merupakan sebuah inovasi dalam pembelajaran karena dalam pembelajaran berbasis masalah kemampuan berpikir peserta didik betul-betul dioptimalisasikan melalui proses kerja kelompok atau tim yang sistematis, sehingga peserta didik dapat memberdayakan, mengasah, menguji dan mengembangkan kemampuan berpikirnya secara berkesinambungan. Dapat dikatakan bahwa pembelajaran berbasis masalah adalah suatu model pembelajaran yang didasarkan pada banyaknya permasalahan yang membutuhkan penyelidikan autentik yaitu penyelidikan yang membutuhkan penyelesaian nyata dari permasalahan-permasalahan yang nyata. Jadi pembelajaran berbasis masalah sendiri merupakan pembelajaran yang berfokus pada kegiatan memecahkan masalah, dan masalah yang dihadapi merupakan masalah yang tidak rutin dihadapi siswa sehingga menantang siswa untuk berpikir dan melakukan pemikiran yang tepat (Ardiyanti, 2016). Dalam membuat tugas pembelajaran berbasis masalah ada empat langkah dasar yang perlu diperhatikan yaitu:
penyajian masalah yang ada,
membangun dasar pengetahuan siswa,
mendukung siswa untuk memecahkan masalah, dan
solusi yang teruji dan mampu direvisi Dalam hal penyajian masalah, seharusnya dapat dikenali dan dimengerti.
Empat langkah dasar tersebut merupakan motivasi bagi siswa untuk memecahkan masalah yang distimulasi oleh masalah yang relevan dengan siswa. Pengetahuan, kemampuan dan pengalaman yang dibutuhkan untuk memecahkan masalah perlu dibangun dalam tahap membangun dasar pengetahuan siswa. Sumber informasi yang bervariasi, penggunaan simulasi dan multimedia dapat berguna untuk membangun pengetahuan dan kemampuan prasyarat. Langkah mendukung siswa dalam pemecahan masalah dapat membantu waktu dan sumber yang digunakan siswa. Guru dapat bertindak sebagai fasilitator dan narasumber. Guru pun harus membuat rencana waktu yang dibutuhkan dan perlengkapan yang pantas untuk dapat memecahkan masalah. Pengujian dan revisi penyelesaian merupakan suatu aktivitas yang perlu dilakukan dalam pembelajaran berbasis masalah. Aktivitas yang akan dilakukan harus direncanakan untuk mendapatkan hasil yang baik dan siswa mendapatkan feedback untuk solusi yang diberikan, untuk menemukan contoh baru bagaimana masalah dapat dipecahkan dan menemukan informasi baru yang dapat merevisi solusi masalah yang di hadapi.
Sintaks pembelajaran berbasis masalah menurut Ibrahim (2000) dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1: Sintaks Pembelajaran Berbasis Masalah
Fase
Kegiatan guru

BACA JUGA:  Tuhan, Aku Merindukan Minggu Palmaku

Mengorientasi siswa pada masalah
Menjelaskan tujuan pembelajaran dan logistik yang dibutuhkan, memotivasi siswa terlibat dalam aktivitas pemecahan masalah yang dipilihnya

Mengorganisasi siswa untuk belajar
Membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasi tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut

Membimbing penyelidikan individual maupun kelompok
Mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen, untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah.

Mengembangkan dan menyajikan hasil karya
Membantu siswa dalam merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai

Menganalisa dan mengevaluasi proses pemecahan masalah
Membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses – proses yang mereka gunakan

Hasil Belajar

Hasil belajar merupakan perubahan perilaku yang diperoleh peserta didik setelah mengalami kegiatan belajar. Perolehan aspek-aspek perubahan perilaku tersebut tergantung pada apa yang dipelajari oleh peserta didik (Anni, 2004). Perubahan ini sebagai hasil proses dapat ditunjukkan dalam berbagai bentuk seperti perubahan pengetahuan, keterampilan, kecakapan, serta perubahan aspek-aspek lain yang ada pada individu yang belajar.
Dimyati dan Mudjiono (1999), hasil belajar merupakan hal yang data dipandang dari dua sisi yaitu sisi siswa dan sisi guru. Dari sisi siswa, hasil belajar merupakan tingkat perkembangan mental yang lebih baik dibandingkan dengan sebelum belajar. Tingkat perkembangan mental dapat terwujud pada jenis-jenis ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik. Sedangkan dari sisi guru hasil belajar merupakan saat selesainya bahan pelajaran.
Hasil belajar dapat dikatakan sebagai kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajar. Heward membagi tiga macam hasil belajar yaitu: (a) keterampilan dan kebiasaan; (b) pengetahuan dan keterampilan; (c) sikap dan cita, yang masing-masing golongan dapat diisi dengan bahan yang ada pada kurikulum sekolah (Sudjana, 2001). Secara garis besar faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar dapat dibedakan atas dua jenis yaitu sebagai berikut:
Faktor-faktor yang bersumber dari dalam diri manusia
dapat diklasifikasikan menjadi dua yakni faktor biologis dan psikologis. Yang dapat dikategorikan sebagai faktor biologis antara lain usia, kematangan, dan kesehatan. Sedangkan yang dapat dikategorikan sebagai faktor psikologis adalah kelelahan, suasana hati, motivasi, minat dan kebiasaan belajar.
Faktor-faktor yang bersumber dari luar diri
dapat diklasifikasikan menjadi dua yakni faktor manusia dan faktor nonmanusia seperti alam, benda, hewan dan lingkungan fisik.

METODOLOGI PENELITIAN

Desain Penelitian

Penelitian yang dilakukan pada tahun pelajaran 2018/2019semeseter ganjilmenggunakan penelitian tindakan kelas (PTK) yang berfungsi sebagai alat untuk meningkatkan kualitas pelaksanaan pembelajaran kelas. PTK merupakan gabungan definisi dari tiga kata yaitu: Penelitian, Tindakan, dan Kelas. Penelitian dapat diartikan sebagai kegiatan mencermati suatu obyek dengan menggunakan cara dan metodologi tertentu untuk memperoleh data atau informasi yang bermanfaat dalam memecahkan suatu masalah. Tindakan yaitu sesuatu gerak kegiatan yang sengaja dilakukan dengan tujuan tertentu. Tindakan yang dilaksanakan dalam PTK berbentuk suatu rangkaian siklus kegiatan. Sedangkan Kelas yaitu sekelompok siswa yang dalam waktu yang sama, menerima pelajaran yang sama dari guru yang sama pula. Siswa yang belajar tidak hanya terbatas dalam sebuah ruangan kelas saja, melainkan dapat juga ketika siswa sedang melakukan karyawisata, praktikum di laboratorium, atau belajar tempat lain di bawah arahan guru (Arikunto, 2002).

BACA JUGA:  Berkunjung ke Labuan Bajo Kapolda NTT Memastikan Pos Penyekatan PPKM Level 3 Berjalan Aman

Subjek Penelitian

Subjek penelitian ini adalah siswa SMK Negeri 1 Wae Ri’i Kelas XII ATR 1 (Agribisnis Ternak Ruminansia) pada mata pelajaran Matematika materi statistikayang berjumlah 28 siswa. Objek dalam penelitian ini adalah pelaksanaan hasil pembelajaran yang diperoleh melalui model pembelajaran berbasis masalah.

Setting Penelitian

Tempat Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di SMK Negeri 1 Wae Ri’i kelas XII ATR 1 (agribisnis Ternak Ruminansia) pada mata pelajaran Matematika materi statistika pada semester ganjilyang berjumlah 28 siswa.
Waktu penelitian
Waktu penelitian dimulai dari tahap pra survei hingga dilaksanakannya tindakan adalah 3 Bulan yang dimulai dari Bulan September 2018 sampai Nopember 2018.

Instrumen Penelitian

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa tes tulis yang dilaksanakan pada akhir setiap siklus. Tes hasil belajar menggunakan indikator Pemahaman Konsep menurut Bloom yang direvisi, yang terdiri dari C1 sampai C6, namun pada penelitian ini menggunakan indikator dari C2 sampai C5 karena instrumen ini berdasarkan hasil validasi. Berikut deskripsi dari C2 (memahami), C3 (Mengaplikasikan), C4 (menganalisis) dan C5 (mengevaluasi).

Prosedur Penelitian

Prosedur penelitian yang diterapkan dalam penelitian meliputi tiga tahapan, yaitu: Perencanaan, Pelaksanaan dan refleksi. Berikut dideskripsikan prosedur penelitian, antara lain:
Perencanaan, meliputi analisis materi, pengumpulan pertanyaan produktif untuk disampaikan pada siswa yang berguna mengetahui kemampuan awal siswa, penyampaian materi pelajaran, pembelajaran berbasis masalah, latihan soal pemahaman konsep serta pembahasan latihan soal;
Pelaksanaan, terdiri dari dua siklus, setiap siklus fokus pada materi tentang statistika, dimana setiap siklus di akhiri dengan sebuah evaluasi untuk mengukur tingkat keberhasilan pemahaman konsep melalui tes uraian.
Refleksi, dimana perlu adanya pembahasan antara siklus-siklus tersebut untuk dapat menentukan kesimpulan atau hasil dari penelitian.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas XII ATR 1 (agribisnis Ternak Ruminansia) SMK Negeri 1 Wae Ri’i sebanyak 28 siswa.
Penelitian ini meliputi dua tahap pelaksanaan yang terdiri dari II siklus, dengan setiap siklus terdiri dari beberapa tahap juga, yaitu: tahap perencanaan, peneliti melakukan langkah-langkah 1) mengkaji materi pokok, mempersiapkan silabus, dan rencana pelaksanaan pembelajaran, dan lembar kegiatan siswa, 2) mempersiapkan dan mengkaji format-format evaluasi yang terdiri dari soal tes akhir pembelajaran, mengkaji indikator untuk menentukan keberhasilan tindakan yang dilaksanakan, seperti rubrik penilaian pemahaman konsep. Pelaksanaan tindakan pada prinsipnya merupakan realisasi dari suatu tindakan yang sudah direncanakan;
Tahap pelaksanaan secara keseluruhan meliputi dua siklus, adapun langkah-langkah pelaksanaan tindakan, sebagai berikut: Sebelum pembelajaran dimulai, langkah pertama yang dilaksanakan oleh guru adalah memberikan pertanyaan produktif yang di jawab oleh siswa untuk untuk mengetahui pengetahuan awal siswa terhadap bahan kajian yang akan dibahas. Pembelajaran dilakukan dengan langkah-langkah pembelajaran berbasis masalah, yang memiliki fase: 1). mengorientasi siswa pada masalah; 2). mengorganisasi siswa untuk belajar; 3). membimbing penyelidikan individual maupun kelompok; 4). mengembangkan dan menyajikan hasil karya; 5). menganalisa dan mengevaluasi proses pemecahan masalah.

Selama pembelajaran berlangsung, peneliti melakukan observasi terhadap strategi pembelajaran yang diterapkan. Variabel yang diamati sesuai dengan objek penelitian. Kemudian tahap akhir yaitu pemberian tes yang dilakukan untuk mengetahui peningkatan rata-rata hasil belajar diakhir setiap siklus dengan menggunakan instrumen pemahaman konsep.

Berdasarkan observasi dan evaluasi pada siklus I, peneliti mengadakan refleksi untuk melihat seberapa besar keberhasilan dan kegagalan dalam penerapan pembelajaran yang dirancang. Refleksi dilakukan terhadap pencapaian pemahaman konsep siswa dan mencari faktor-faktor penyebab ketidakberhasilan tindakan serta mencari solusi terhadap permasalahan tersebut, serta upaya yang perlu dilakukan untuk meningkatkannya. Analisis observasi yang dilakukan pada penerapan siklus I dievaluasi dan diinterpretasi penyebabnya untuk selanjutnya digunakan sebagai acuan dalam melakukan pemantapan pada siklus II.

Penelitian yang dilakukan pada bulan September 2018 sampai Nopember 2018 melalui dua siklus PTk yang dilakukan, menghasilkan beberapa data yang selanjutnya di analisis untuk bisa dijadikan sebagai sebuah data yang dapat dipahami oleh pembaca.

berikut rekap nilai rata-rata secara keseluruhan pada siklus I dan siklus II, dapat dilihat dalam tabel 3.

Tabel 3: Nilai Rata-rata Keseluruhan Hasil Belajar
Indikator penilaian
Nilai rata-rata Siklus I
Nilai rata-rata Siklus II
Gain
Kategori

Keseluruhan indikator pemahaman konsep
5,15
5,88
0,15
rendah

Nilai rata-rata keseluruhan untuk pemahaman konsep mengalami peningkatan, rata-rata peningkatan dihitung melalui rumus gain dari Hake, terlihat berdasarkan tabel 3 bahwa gain siklus I dan siklus II sebesar 0,15. Nilai tersebut berada pada kategori rendah. Peningkatan hasil belajar juga dapat di lihat berdasarkan indikator pemahaman konsep yang digunakan. Nilai rata-rata dari setiap butir soal ditunjukkan pada tabel 4.

BACA JUGA:  Pemerintah Bersepakat Menyediakan Dana Untuk Masyarakat Terdampar Covid-19

Tabel 4: Nilai rata-rata setiap indikator Hasil Belajar
Indikator penilaian
Nilai rata-rata Siklus I
Nilai rata-rata Siklus II
Gain
Kategori

C2 (memahami)
1,09
1,15
0,07
rendah

C3 (Mengaplikasikan)
1,03
1,18
0,15
rendah

C4 (menganalisis)
1,53
1,79
0,18
rendah

C5 (mengevaluasi)
1,65
1,85
0,15
rendah

Siklus I banyak siswa yang masih kebingungan dengan aturan-aturan, kewalan dengan sintaks/tahapan pembelajaran yang diberikan dan masalah-masalah pada awal pembelajaran yang diberikan oleh guru untuk proses menuju/menuntun pada konsep yang akan dipelajari.

Namun untuk siklus II sudah mulai teratasi, karena kecenderungan siswa sudah bisa melewati, terbiasa dengan sintaks yang dilakukan oleh guru. Hal tersebut dapat terlihat dari nilai rata-rata siklus II mengalami kenaikan dibandingkan siklus I, walaupun secara gain nilai masing-masing jenjang kemampuan pemahaman konsep siswa masih berada pada kategori rendah.
Peningkatan tertinggi ada pada jenjang C4 yaitu menganalisis dengan gain sebesar 0,18 (kategori rendah) dan peningkatan terkecil ada pa da jenjang C2 (memahami) yang berada pada gain 0,07 (kategori rendah).

Hal ini dapat kita simpulkan bahwa ketika pembelajaran di mulai dengan memberikan arahan-arahan produktif berupa masalah-masalah non rutin, siswa dapat dengan lugas untuk bisa menganalisis maksud dari permasalahan tersebut namun malau untuk bisa memahami esensi dri materi masih belum optimal. Dalam hal ini pengalaman belajar akan sangat membantu proses pembentukan pemahaman sebuah materi melalui serangkaian proses adalah dengan penggunaan pembelajaran berbasis masalah, Hal ini terlihat dari kesungguhan dan kehadiran siswa mengikuti pembelajaran.

Penerapan pembelajaran berbasis masalah mampu meningkatkan motivasi dan minat siswa untuk belajar lebih baik. Ini sesuai dengan pendapat Jordan E Ayan (2002) yang menyatakan bahwa dalam proses pembelajaran, cara dan gaya baru yang disajikan kepada siswa, pada umumnya menimbulkan rasa ingin tahu siswa. Rasa ingin tahu mendorong seseorang untuk menyelidiki bidang baru atau mencari cara mengerjakan sesuatu dengan lebih baik.

Hal tersebut sejalan penelitian dari (Kurniawan & Wuryandani, 2017) dengan Pembelajaran berbasis masalah merupakan strategi pedagogis yang berpusat pada peserta didik dengan mengkaji masalah-masalah dalam kehidupan sehari-hari dan bekerja dalam tim atau kelompok, dengan demikian dapat melatih peserta didik untuk bertanggung jawab dalam pembelajaran mereka sendiri dan mengubah peran pendidik menjadi fasilitator.

Dokumentasi Kegiatan Pembelajaran

DokumentasiKegiatanPembelajaran

KESIMPULAN

Secara keseluruhan dari data yang sudah di analisis disimpulkan bahwa pembelajaran berbasis masalah optimal untuk meningkatkan kemampuan pemahaman konsep siswa SMK kelas XII pada materi statistika dengan rata-rata gain sebesar 0,15 (kategori rendah). Peningkatan kemampuan pemahaman konsep perindikator terlihat berbeda-beda, peningkatan tertinggi ada pada jenjang C4 yaitu menganalisis dengan gain sebesar 0,18 (kategori rendah) dan peningkatan terkecil ada pa da jenjang C2 (memahami) yang berada pada gain 0,07 (kategori rendah). Berdasarkan hal tersebut, maka dapat disarankan untuk penelitian lanjutan bahwa apakah model pembelajaran berbasis masalah juga mampu untuk meningkatkan kemampuan-kemmapuan yang sifatnya kognitif tanpa melibatkan psikomotor.

DAFTAR PUSTAKA

Anni, C.T. (2004). Psikologi Belajar. Semarang: UPT Unnes Press.
Arikunto, S., Suhardjono, dan Supardi. (2006). Peneilitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bina Aksara.
Ardiyanti, Y. (2016). Berpikir Kritis Siswa Dalam Pembelajaran Berbasis Masalah Berbantuan Kunci Determinasi. Jurnal Pendidikan Indonesia P-ISSN: 2303-288X E-ISSN: 2541-7207 Vol. 5, No. 2, Oktober 2016.
Çuhadaroğlu, F., Karaduman, A., Önderoğlu, S., Karademir, N. & Şekerel, B. (2003). Probleme Dayalı Öğrenme Oturumları Uygulama Rehberi. Hacettepe Üniversitesi Tıp Eğitimi ve Bilişimi Anabilim Dalı, Ankara. Accessed from: http://www.medinfo.hacettepe.edu.tr/tebad/docs. [diakses 15-01-2015]
Dimyati &Mudjiono. (1999). Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.
Etherington, M. B. (2011). Investigative primary science: A problem-based learning approach. Australian Journal of Teacher Education (Online), 36(9), 53– 74.
Ibrahim, M., & Mohamad N. (2000). Pengajaran Berdasarkan Masalah. Pusat Sains dan Matematika Sekolah. Surabaya: PPS UNESA.
Kurniawan MW & Wuri Wuryandani. (2017). Pengaruh Model Pembelajaran Berbasis Masalah terhadap Motivasi Belajar dan Hasil Belajar PPKn. Jurnal Civics, Volume 14, Nomor 1, Mei 2017.
Sudjana, Nana. (2001). Penelitian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya.