WAHAI CADAS-CADAS

NasionalPuisi

Oleh: Gerard N. Bibang

Tertiup terhembus tertiup terhembus
selalu kembali dan selalu begitu
aku toh tidak sedang menenggelamkan balon udara
juga tidak sedang memuntahkan kata ke ruang hampa
wahai cadas-cadas menghijau
engkau tidak pernah bisu
selalu terbuka ruang untuk mendamba
bahasa alam tanpa kata
isyarat rindu dari sanubari
terutama di saat-saat menanti
di hari-hari ini

SEJAUH-JAUH

Rindu bergelora dalam rasa tersiksa
oleh kata yang terucap pada suatu ketika
cinta menjadi nyata
kekal selamanya

Sejauh-jauh ingatan
mentok pada satu kenyataan
bahwa awal mula adalah kata
tinggal di antara dua anak manusia
jauh darinya mustahil disebut mimpi
sejauh-jauh tampak hanyalah yang tampak
kata telah menjiwa
serentak meraga
tempat dan waktu boleh memisahkan
jauh sangat terasa
sejauh-jauh bayang
toh kata meringkas jarak
dekat sedekat-dekatnya
misteri kata yang sejatiinya cinta

Sejauh-jauh itu sebenar-benarnya tidak jauh
kata merangkai, mengutuh
menjadikan dua, satu
titiktiktik air mata akan selalu berderai
setiap kali terbit mentari
mestikah berhenti utk bermimpi?
mestikah dianut kepercayaan baru bhw mimpi adalah ilusi?

Imago Dei-lah, engkau
kenisah kudus-lah tubuhmu
telah kukatakan ini kepadamu

SANG MUSAFIR

Sang musafirlah, engkau
hanya berjalan meniti waktu
hakekat kemakhlukanlah semua itu
yang meruang dan mewaktu,
serentak mengabadi dan inilah misterinya:
bahwa semakin berbuat baik, semakin menjadika jiwamu energi yang tak mati-mati
bahwa jiwa itu, ialah cinta, tak pernah lenyap
hanyalah berubah bentuk
tak tergerus waktu
oleh kematian sekalipun