Yustina Ndung: Banyak Perspektif Negatif dan Informasi Hoaks Mewarnai Dinamika Pilkada Manggarai

Daerah

Ruteng, SorotNTT.Com- Paket Deno-Madur kembali mendapat dukungan dari tokoh publik, yang sudah memiliki rekam jejak di kancah politik Kabupaten Manggarai.

Kali ini datangnya dari Dr. Yustina Ndung, yang saat ini telah berjalan keliling Manggarai untuk memberi pendidikan politik bagi pemilih sebelum menentukan pilihan pada tanggal 9 Desember 2020.

Seperti ketika mengikuti tatap muka bersama Keluarga besar Timor, Rote, dan Sabu(TIROSA) bertempat di Hombel, Kelurahan Mbaumuku, Kecamatan Langke Rembong, Kabupaten Manggarai, Selasa(24/11/2020)

Dalam orasi politiknya Dr. Yustina Ndung menilai Pasangan Calon (Paslon) petahana Dr. Deno Kamelus, SH, MH dan Drs. Victor Madur atau paket Deno-Madur masih pantas menduduki posisi Bupati dan Wakil Bupati di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur.

Ademisi asal Manggarai yang mengabdi di Malang itu mengungkapkan bahwa dirinya merasa terpanggil untuk ikut terlibat dalam Pilkada Manggarai. Jauh-jauh datang dari Malang, Yustina Ndung dengan tegas menyatakan sikap politiknya untuk medukung paket Deno-Madur.

“Saya baru datang dalam minggu ini. Hati saya sejak dulu tidak berubah. Hanya satu pilihan, nomor 1 Deno-Madur di tanggal 09 Desember. Selama ini saya hanya menghubungi semuanya lewat telepon, lewat media sosial. Dalam minggu ini saya hadir secara fisik setelah virus ini agak sedikit mereda,” ungkap Yustina.

Beliau dengan lantang menyampaikan, bahwa Panggilan hati seorang akademisi untuk teribat dalam perhelatan politik Pilkada Manggarai tahun 2020, lantaran banyaknya persepsi negatif dan informasi HOAKS mewarnai dinamika Pilkada Manggarai. Sebagai seorang dosen mata kuliah ilmu politik, hal tersebut menurutnya sangat mencedrai citra demokrasi, khususnya di Kabupaten Manggarai.

BACA JUGA:  Penjemputan Diakon Baru Ferdinandus, Diarak Dengan Ronda Adat Manggarai

“Mengapa sebenarnya saya hadir? Terlalu banyak persepsi-persepsi yang salah. Terlalu banyak berita-berita bohong yang diberikan kepada masyarakat. Saya sebagai anak tanah Manggarai yang mengajar tentang politik, mengajar tentang bagaimana orang berdemokrasi merasa sakit hati. Saya sakit hati. Kenapa orang tua saya, kenapa masyarakat Manggarai, kenapa anak muda kami diberikan, dicekoki dengan cara pandang yang salah,” ungkapn Yustina dengan nada kesal.

Dr. Yustina juga menjelaskan persepsi yang dimaksudkan adalah pertama, terkait sikap yang meragukan 16 penghargaan yang dialamatkan kepada paslon Deno-Madur oleh pemerintah. Yustina menjelaskan bahwa untuk mendapatkan sejumlah penghargaan itu bukanlah perkara mudah, “Ada sekian indikator, ada sekian tolak ukur, ada sekian pertimbangan-timbangan yang diberikan oleh pemerintah untuk bisa mengeluarkan sebuah penghargaan,” jelasnya.

Sejumlah penghargaan itu hanya dikeluarkan oleh pemerintah sebagai pihak yang berwenang.
Karena itu, Yustina menegaskan bahwa jika ada pihak yang tidak mengakui penghargaan itu berarti ikut melecehkan lembaga pemerintah. Karena penghargaan itu diberikan oleh pemerintah pusat kepada Pemda Manggarai pada masa kepemimpinan Deno-Madur. Alumni PMKRI Cabang Ruteng itu menambahkan penghargaan yang diperoleh Pemda Manggarai itu merupakan bukti keberhasilan berkat kinerja baik Deno-Madur selama 5 tahun.

“Jangan lupa itu. Sehingga kepada saudara-saudara saya yang mungkin selama ini menyampaikan berita demikian, jangan lupa, kalian sedang melecehkan pemerintah Indonesia yang memberikan penghargaan itu kepada Deno-Madur,” tegasnya.

Cara pandang salah kedua menurut Yustina, adalah terkait pernyataan gagal yang diwacanakan oleh mantan Sekretasris Daerah Manggarai, “Yang kedua, ada lagi yang mengatakan kalau pemerintah Deno-Madur gagal. Dan itu dikemukakan oleh seorang mantan Sekretaris Daerah. Saya kaget luar biasa. Saya kaget, sehingga saya tulis di media sosial. Saya kaget karena pernyataan ini disampaikan oleh mantan Sekda. Karena saya tahu teorinya dan saya ajar tentang itu bahwa Sekda adalah pimpinan tertinggi birokrasi. Ada dua jabatan, jabatan politik dan jabatan karir. Sekda adalah bagian yang tidak terpisahkan dari pemerintah daerah,” tegasnya.

BACA JUGA:  Pantau Pengerjaan Lapen, Ini Pesan Wabup Stefanus

Cara pandang salah ketiga yang dikritik Yustina adalah terkait pernyataan bahwa Deno-Madur tidak berbuat. Menurutnya, peryataan tersebut justru tidak sesuai dengan kondisi kemajuan daerah Manggarai, “Saya, kalau orang mengatakan kapan keliling Manggarai, saya tidak beritahu. Tapi, saya adalah orang yang tukang jalan keliling Manggarai. Kemarin saya ada di Satarmese tanggal 20 dan 21. Saya tempuh begitu cepat. Jalan sudah bagus sampai di pelosok-pelosok, yang dulu 2010, 2015, saya setengah mati menempuh tempat itu. Kemarin dengan begitu cepat dan begitu lancar, mobil kecilpun bisa sampai di kampung-kampung,” ujarnya.

Yustina menjelaskan bahwa frame “gagal” dan “tidak berbuat” yang ditujukan kepada Paslon Deno-Madur terkesan dipolitisir untuk kepentingan Pilkada. Karena itu, Yustina meminta semua pihak agar bersikap jujur, amanah, sportif, berjiwa besar dan memiliki keteladanan rendah hati dalam menyikapi dinamika Pilkada Manggarai, “Siapapun kalau diberikan dua periode dia akan lanjutkan dan habiskan, tuntaskan semua itu,” tambahnya.

Deno-Madur adalah paslon yang sangat patut menduduki pimpinan daerah Manggarai sebagai Bupati dan Wakil Bupati, “Mengapa demikian? Debat publik. Saya di Malang nonton bareng dengan mahasiswa. Saya punya komunitas ngobrol pintar (Ngopi). Bukan kopi perubahan yang ada di sini, tetapi ngobrol pintar. Dan itu saya sudah bentuk beberapa tahun yang lalu. Kami nonton bagaimana gagasan itu digulirkan oleh paket Deno-Madur. Kami bangga punya Bupati Deno-Madur. Kenapa? Seorang pimpinan daerah bergerak, bertindak berdasarkan regulasi. Berdasarkan aturan. Ada nomenklaturnya,” tutur Dr. Yustina.

BACA JUGA:  Wujud Kepedulian Prajurit TNI di Kupang

Akademisi asal manggarai itu bahkan mengkritik siakap anggota dewan yang akhir-akhir ini getol mengkritik pemerintahan Deno-Madur. Menurutnya, hubungan legislatif bersama Pemda adalah mitra, “Saya omong bukan karena saya kampanye. Tidak. Ini adalah ilmunya. Yang saya cerita adalah ilmunya. Semuanya bertanggung jawab. Sehingga tidak bisa kita menjadi Pilatus hanya untuk kepentingan sesaat untuk kepentingan politik,” ujarnya.

Di akir orasi politiknya, Yustina mengharapkan agar perbedaan pilihan tidak menghambat langkah untuk tetap mengedepankan pendidikan politik kepada masyarakat Manggarai, “Beda pilihan itu biasa. Tapi mari kita memberikan pencerahan dan pendidikan kepada masyarakat yang menanggap lurus. Jangan bengkok,”.