Quo Vadis Pembangunan Pariwisata NTT

Opini
  • Simply da Flores
    (Direktur Harmoni Institut, alumni STF Driyarkara)

Selama ini, jika dibicarakan pariwisata di negeri ini, seolah identik dengan Bali – Pulau Dewata. Bali memang unggul dan justru Pariwisata menjadi bidang unggulan untuk membangun kesejahteraan masyarakat. Namun hari ini berbeda, karena di berbagai wilayah negeri ini sedang giat mengembangkan potensi pariwisata daerahnya. Termasuk kita di propinsi NTT – Bumi Flobamora.

Untuk diskusi dan peduli pada pembangunan pariwisata di bumi Flobamora, saya membuat pertanyaan pada judul tulisan ini. Quo Vadis Pembangunan Pariwisata NTT ? Kemana arah pembangunan pariwisata di wilayah propinsi kita ?

New Tourism Territory atau New Caribia

Nama Propinsi NTT dijadikan akronim dalam bahasa Inggris, New Tourism Territory, digaungkan oleh mantan Gubernur NTT Frans Lebu Raya. Beliau menegaskan bahwa bumi Flobamora di Propinsi NTT adalah wilayah baru pariwisata. Bertetangga dengan propinsi NTB dan Bali, yang dahulu satu wilayah administratif, Kepulauan Sunda Kecil lalu Propinsi Nusa Tenggara, kita propinsi NTT memiliki obyek pariwisata istimewa dari alam dan budayanya.

Obyek wisata budaya, pantas dikatakan bahwa Bumi Flobamora adalah miniatur suku bangsa Indonesia dan dunia. Bahkan ada temuan antropologi dan etnologi yang menyingkapkan indikasi bahwa kebudayaan aneka suku bangsa dunia berasal dari Bumi Flobamora. Tradisi lisan masyarakat adat yang mendiami wilayah NTT menuturkan berbagai kearifan nilai kemanusiaan adiluhung, sungguh ada dan dihidupi masyarakat adat aneka suku di NTT. Kampung adat, kesenian, situs leluhur dan ritual adat budaya menyimpannya dalam sejarah keberadaan aneka suku tersebut di bumi Flobamora.

Obyek wisata alam, Bumi Flobamora – Propinsi NTT memiliki banyak keistimewaan. Naga Komodo sudah ditetapkan sebagai salah satu dari tujuh keajaiban dunia. Masih ada danau triwarna Kelimutu, pesona alam Sumba, Timor, Rote, Sabu, Alor, Pantar, Lembata, Adonara, Solor, kepulauan Riung, dan masih banyak lokasi unik lainnya baik di daratan pulau yang besar, di pulau-pulau kecil dan bawah laut.

BACA JUGA:  Meluruskan Kelirumologi Peneliti Tentang Plan Semen Manggarai Timur

Ketika ngobrol dengan seorang pegiat wisata di Jakarta tahun lalu, sekarang tinggal di Amerika, dia menyatakan kekagumannya pada potensi istimewa pariwisata di NTT. Lalu, disebutkan bahwa pariwisata NTT adalah the New Caribian. Alasannya, bahwa obyek wisata di kepulauan Caribia, yang sering dia kunjungi, akan semakin kurang diminati karena alam dan budayanya tidak kaya. Keramaian selama ini terutama karena promosi dan dukungan fasilitasnya. Menurutnya, potensi di NTT sangat kaya dan unik. Maka saya timpali pendapatnya, bahwa jika demikian faktanya, maka tidak pantas pariwisata NTT dibandingkan dengan Caribia, apalagi dijadikan cuma the New Caribia. Tidak, NTT adalah New Tourism Territory karena bumi Flobamora adalah Hidden and Genuine Paradise- Paradiso yang asli dan tersembunyi.

Pariwisata: Lokomotif atau Gerbong di NTT

Dalam pengembangan potensia istimewa pariwisata di bumi Flobamora, maka posisinya sebagai Lokomotif atau salah satu gerbong saja ? Kebijakan pembangunan daerah, dengan semua proses perencanaan di tingkat Desa, Kabupaten dan Propinsi, ada dalam peran dan tugas eksekutif dan legislatif. Arah kebijakan pembangunan itulah yang menentukan posisi bidang pariwisata; sebagai lokomotif yang menarik semua gerbong bidang lainnya, atau cuma salah satu gerbong di antara bidang pembangunan daerah lainnya ?

Bumi Flobamora – Propinsi NTT adalah wilayah kepulauan, seperti singkatan nama Flobamora. Juga soal keragaman komunitas suku dengan keunikan adat budayanya. Maka, kondisi geografis kepulauan serta keragaman adat budaya ini membutuhkan sebuah kajian serius dan mendalam untuk menentukan seperti apa kebijakan pembangunan pariwisata, disamping bidang kehidupan yang lain, untuk masa sekarang dan ke depannya.

BACA JUGA:  RUU Anti Kejahatan Komunikasi Sangat Mendesak

Catatan khusus bahwa ini zaman milenial dengan kecanggihan teknologi informasi yang membuat dunia seakan tanpa jarak. Di lain pihak, NTT adalah propinsi yang berbasis kepada kehidupan tradisi Nelayan, Tani, Ternak.

Dengan demikian, pertanyaan reflektif untuk kita masyarakat Flobamora adalah seberap siapkah kita mengembangkan potensi pariwisata agar memberi nilai tambah maksimal bagi kelanjutan kehidupan kita. Sudah siapkah kita melayani aneka manusia dari berbagai budaya dan wilayah dunia, untuk datang menikmati keindahan dan keunikan obyek wisata kita ?

Peluang sangat menjanjikan, tetapi tantangan juga tak terelakan, jika kita mau mendapat multi manfaat dari pembangunan pariwisata.

Alternatif Tourism and Bio-region Based Development

Ada pikiran bahwa pengembangan – pembangunan pariwisata di NTT diarahkan sebagai model.pariwisata alternatif – alternatif tourism. Maksudnya, ada seleksi obyek alam dan budaya, dengan keindahan dan keunikannya, untuk menjadi prioritas pengembangan, sejalan dengan pemberdayaan masyarakat di destinasi wisata dan regulasi pendukungnya.
Alasan utamanya adalah agar masyarakat NTT, harus menjadi tuan dan penerima manfaat utama dari pengembangan obyek pariwisata tersebut. Jangan sampai, ketika pintu investasi pariwisata dibuka, obyek pariwisata dipasarkan, maka pelaku pariwisata yang profesional dari luar daerah yang memanfaatkan peluang; sedangkan masyarakat NTT menjadi penonton.

Sejalan dengan pikiran alternatif tourism tersebut, kiranya pembangunan pariwisata NTT mempertimbangkan prinsip bioregion based. Maksud bioregion based yakni pengembangan pariwisata berbasis wilayah kepulauan, pulau, kawasan kampung adat budaya, kawasan gunung dan pesisir, kawasan pulau kecil dan bawah laut. Maka dalam pengembangan dan pengelolaan, akan muncul konsep pariwisata Flores, Sumba, Timor, Rote, Sabu, Alor, Lembata, dll. Juga Pariwisata Kawasan Komodo, Kawasan Riung, Kawasan Teluk, Kawasan Danau, dll. Ada pariwisata kawasan unggulan – Istimewa seperti Kawasan Danau Kelimutu dan sekitarnya, Kawasan Mutis, Kawasan Lamalera, dll.

BACA JUGA:  Tuntutan Paslon 02 untuk PSU di Seluruh Indonesia, Bagai Mimpi di Siang Bolong

Dengan pikiran tentang alternatif toirism and bioregion based tourism development, maka warna pariwisata NTT akan lebih kental sebagai Eco-tourism, bukan Mass-tourism.

Saatnya kebijakan pembangunan pariwisata di NTT menjadi sebuah perhatian serius, karena peluang sangat menjanjikan didukung dengan kemajuan teknologi informasi untuk kepentingan manajemen pemasaran dan promosi, serta letak strategis NTT yang berdekatan dengan beberapa negara. Pengembangan sarana dan prasarana pendukung untuk menjamin kelancaran, keamanan dan kemudahan bagi calon wisatawan menjadi prasyarat mutlak.

Ketika kita mau mendapatkan manfaat maksimal dari potensi pariwisata bumi Flobamora, maka persiapan sumber daya manusia, obyek wisata dan sarana pendukung harus menjadi pemahaman dan kesadaran bersama untuk disiapkan – dibangun.

Bisnis pariwisata, pada hakekatnya adalah manajemen perjumpaan manusia, baik pribadi maupun kelompok, dari berbagai latar belakang dan wilayah di dunia ini. Tagihan kesiapan sarana dan prasarana pendukung, sekaligus kesiapan ketrampilan dan mentalitas adalah kemutlakan. Jika tidak, pengembangan potensi pariwisata belum tentu membawa manfaat dan dampak positif bagi kita masyarakat Flobamora.

Semoga.