MISTERI KEHIDUPAN

Oleh: Simply da Flores (Catatan refleksi kita di tengah pandemi dan tragedi bencana alam) Kelahiran Manusia Tidak seorang pun meminta dilahirkanTidak ada yang memilih siapa ibu bapanyaKapan dan dimana dilahirkanSeperti apa keadaan badan dan kemampuan dirinyaNanti jadi apa dalam kehidupan iniJuga kapan matinya Bayi manusia seperti anak panahBusurnya ibu bapaSang Pemanah adalah Pencipta semesta iniMaha […]

Selengkapnya...

PUISI YG BELUM SELESAI

Oleh: Gerard N. Bibang seandainya aku bisa bersabar dan sepenuhnya percaya pada waktu; apa yang terjadi, aku tidak tahu; perjumpaan kita di sini lebih dari sementara; engkau boleh pergi; mengejar untuk ditimpa takdir; tapi apa yang terjadi di sini, di tempat ini; adalah rahim rindu yang melahirkan satu rasa yang bermuara cinta; untuk siap2 diledakkan ketika saatnya tiba; dan jadilah cinta kita yang […]

Selengkapnya...

Hanya Tersisa Sebutir Tanya ???

Oleh: Simply da Flores Kidung HALLELUIA masih bergema dari bibir mereka yang kaku dilumuri lumpurDzikir dan tasbih digenggam erat tangan imannya saat banjir menghancurkan rumah dan segala isinya Perahu jiwa dan kendaraan hidup hancur lebur diterjang gelombang ganasSawah ladang, ternak dan kampung halaman kehidupan hancur lebur diterjang angin badai lalu dihanyutkan hujan yang mengguyur Ratusan […]

Selengkapnya...

Senandung Flobamora Untuk NTT

Oleh:Simply da Flores NTT ku tercintaengkau sudah 62 tahun tumbuh di Flobamora untuk melayani dan mengayomi semuaPutra-putri pewarismu Tifa ditabuh di tapal batas LorosaeSasando berdenting dari Rote Sabu SemauGemerincing likurai, tebe dan dansa mengikuti alunan biola dan pekik penariSongsong fajar pagi bawa berkah Ilahi Kakalak bergema bersahutan tetabuh gong gendang bertaluIringi kataga dibalut pesona warna […]

Selengkapnya...

Danau Kelimutu

Oleh: Simply da Flores Ceritamu menyebar ke delapan penjuruMeski tak semua tahu dimana ada mu, apalagi datang kesanaKepadamuKelimutu Tiwu TeluMera Meta BaraDanau Tiga warnaTiga Danau KelimutuMerah Putih Biru Danau putih-muKeli Ata MbupuTempat orang tua Danau biru-muTiwu Ata Nua Muri Koo faiTempat orang muda Danau MerahTiwu Ata PoloTempat bagi roh orang jahat Danau KelimutuDisini tanah asal […]

Selengkapnya...

WAHAI CADAS-CADAS

Oleh: Gerard N. Bibang Tertiup terhembus tertiup terhembusselalu kembali dan selalu begituaku toh tidak sedang menenggelamkan balon udarajuga tidak sedang memuntahkan kata ke ruang hampawahai cadas-cadas menghijauengkau tidak pernah bisuselalu terbuka ruang untuk mendambabahasa alam tanpa kataisyarat rindu dari sanubariterutama di saat-saat menantidi hari-hari ini SEJAUH-JAUH Rindu bergelora dalam rasa tersiksaoleh kata yang terucap pada […]

Selengkapnya...

BOLA MATA

Oleh: Gerard N.Bibang bola mata mungilnyaadalah ketenangan menelusup sukmapada kening yang sudah tidak lagi panasdengan mata terpejam, mulut melafalkan namanyadalam doa, kami menyatukan cinta SEKEJAP sekejap tersengalterbaring sendiri, dalam senyapkulihat sisa-sisa embun meruapkan basah di sebagian lempeng kaca jendelaah, kesunyian ini menyimpan misterimemperjelaskan suara yang sayup-sayup sampaisuara kekasih GENANGAN dan, malam itu, tiba-tiba dia benar-benar […]

Selengkapnya...

Kehangatan

Kau yang kucinta dalam dambaKau yang kurindu dalam gundahKau yang kupuja dalam setiap senyum yang rekahDan kau yang menebar kehangatanDi setiap rasa yang mengguggah isi dada Bening matamuBagaikan rembulanSejuk dan lembut kurasakandalam tatap dan dekap yang selalu melekat di ingatan Dalam keremangan malamyang dingin dan sepiDalam kicau burung pagiKau beri kehangatanKau beri kesejukanPada lelah yang […]

Selengkapnya...

Antologi Puisi Yohanes Hadi Setiawan Salahkan Aku?

Salahkah aku bila pergi tanpa kata?Ketika sajak-sajak mulai roposTidak memberikan pamit pada siapa sajaEntah kepadamu atau kepada segerombolan aksara Pada siapa aku bernaung diriKetika air mukamu menjadi merahPada siapkah aku bersandarkan diriSebab bahumu sudah sembunyi Salahkah aku bila pergi tanpa senyum?Yang menggores lekuk indah pipiJejeran ridu yang siap menariAku hilangkan serta menutupi Rasa pahit mengalir […]

Selengkapnya...

Antologi Puisi Wandro J. Haman

Pelerai Kenang Sedang matamu telah melerai kenang menjuntai di pelupuk bayangmenanggalkan senyuman yang sudah berakar padadinding-dinding ingatkukemudian melucuti rindu yang semakin lama makinmenguras tenaga untuk melupamaka, jangan aku- kau salahkanbila aku merasa kamu adalah satu-satunya kuntumyang merekah paling elok Surabaya, Juni 2020 Ternyata Mimpi Kemudian lekukkan tubuh itu bergelimang awan putihditaburi gemintang yang menari merayu […]

Selengkapnya...