Pemecatan dr. Terawan, Elit IDI Diduga Terpapar Radikalisme dan Intoleransi Sehingga Kehilangan Akal Sehat

Oleh: Petrus Salestinus, Koordinator Pergerakan Advokat Nusantara Atau Perekat Nusantara

Pergerakan Advokat Nusantara (PEREKAT NUSANTARA), sangat menyesalkan pemecatan oleh Majelis Kode Etik Ikatan Dokter Indonesia (IDI) terhadap dr. Terawan Agus Putranto (dr. Terawan) dari keanggotaan IDI, oleh karena pemecatan itu tidak didasarkan pada alasan dan pertimbangan yang obyektif tetapi semata-mata didasarkan pada pertimbangan subyektif di luar alasan sebagaimana diatur dalam Kode Etik IDI.

Memang dalam Rekomendasi Muktamar IDI dikemukakan sejumlah alasan, akan tetapi jika dilihat dari rekam jejak dan prestasi dr. Terawan dan ketentuan Kode Etik Kedokteran Indonesia dan Pedoman Pelaksanaan Kode Etik Kedokteran Indonesia, maka dr. Terawan seharusnya diberikan penghargaan dalam forum Muktamar IDI di Aceh, bukan pemecatan.

Artinya alasan-alasan yang dijadikan landasan pemecatan terhadap keanggotaan dr. Terawan oleh Majelis Kode Etik IDI sangat tidak berdasar karenanya tidak kompatible dengan sejumlah prestasi cemerlang yang digapai dr. Terawan sebagai testimoni dan apresiasi publik sebagai ungkapan kepuasan terhadap pelayanan kesehatan oleh dr. Terawan selama ini.

BACA JUGA:  Laiskodat : NTT Kaya dan Akan Go Internasional

dr. TERAWAN BISA DIRIKAN IDI NUSANTARA.

Pemecatan dr. Terawan dari keanggotaan IDI yang diumumkan dalam sebuah forum Muktamar IDI di Aceh, diduga sudah didesain secara matang untuk aksi publisitas dan guna mendapatkan legitimasi, namun yang terjadi justru sebaliknya dr. Terawan malah mendapat dukungan publik yang semakin luas dan IDI diprotes banyak pihak karena pemecatan dr. Terawan.

IDI seakan-akan kehilangan akal sehat dan nalar bahkan emosional ketika mengeluarkan Rekomemdasi Pemecatan dr. Terawan dari keanggotaan IDI. Padahal forum Muktamar IDI seharusnya berbicara tentang kemajuan kedokteran Indonesia pasca Covid-19, bukan sebaliknya membunuh kreatifitas dan inovasi dr. Terawan dkk. dalam melahirkan metode penyembuhan pasien dengan sistim DSA hingga Vaksin Nusantara.

Sikap IDI jelas memperlihatkan ada anasir-anasir Intoleran dan Radikal dalam pemecatan atas diri dr. Terawan. Para Nitizen menduga jangan-jangan sebagian elit IDI sudah terpapar Radikalisme dan Intoleran sebagaimana IDI Jawa Tengah mencoba membalikan fakta tentang dr. Sunardi, terduga teroris yang ditembak Densus 88 sebagai dokter yang berjiwa sosial kemanusian dan bukan terduga teroris.

BACA JUGA:  Pratama Arahan ke Lazio ,Hebohkan Media Malaysia

IDI Harus Dibersihkan Dari Radilalisme

Suara Nitizen yang mendukung dr. Terawan dan memprotes pemecatan dr. Terawan dari keanggotaan IDI. Banyak pihak mengkonstatir bahwa sebagian elit IDI diduga sudah terpapar Radikalisme dan Intoleransi, salah satu indikatornya adalah dr. Sunardi, Anggota IDI, Terduga Teroris yang ditembak mati beberapa waktu lalu dibela habis-habisan oleh IDI dan menyalahkan Densus 88.

Karena itu untuk memfilter dan menyelamatkan profesi dokter dari kemungkinan terpapar Radikalisme dan Intoleransi yang semakin luas, maka dr. Terawan sebaiknya difasilitasi untuk membentuk IDI baru yang berwawasan Nusantara, dimana hanya dokter-dokter yang berwawasan nusantaralah yang dapat menjadi Anggota IDI baru atau IDI Nusantara.

Pembentukan IDI baru, bukan tandingan melainkan sebagai upaya secara progresif membenahi kedokteran Indonesia dari praktek-praktek tidak terpuji yang selama ini disorot publik dan gagal dilakukan pembenahan oleh IDI sendiri.

BACA JUGA:  Penembak dr. Sunardi, Langkah Cerdas Densus 88 Hentikan Aksi Teror Demi Lindungi Warga di TKP

Di samping itu IDI baru nanti sebagai wadah untuk melahirkan dokter-dokter Indonesia yang berwawasan Nusantara demi menjaga NKRI dan kemurnian serta kemuliaan profesi dokter sesuai dengan visi dan misi IDI yang akhir-akhir sering disalahgunakan oleh Elit IDI untuk tujuan lain di luar tujuan dan sumpah jabatan dokter.

Jakarta, 27 Maret 2022.