Proyek Pugar di Areal “Tanah Sengketa” Nanga Banda Reok Senilai 3 Miliar Diduga Mubazir

Ruteng,SorotNTT.Com-Wilayah pantai utara Kabupaten Manggarai,Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) memiliki potensi besar yang melimpah di sektor kelautan dan perikanan.

Salah satu potensi yang perlu dikembangkan di wilayah ini adalah garam krosok Reok. karena merupakan bagian dari kebutuhan pokok yang di konsumsi manusia.

Namun di sisi lain, rendahnya produktivitas dan kualitas garam krosok Reok belum mampu memenuhi kebutuhan garam lokal di daratan Flores.

Oleh karena itu, upaya pengembangan usaha garam krosok Reok melalui penguatan partisipasi masyarakat perlu di tingkatkan dan diperhatikan secara serius di masa yang akan datang.

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi rendahnya produktivitas dan kualitas garam krosok Reok, antara lain faktor cuaca dan iklim ekstrim, kualitas garam rakyat yang kurang bersaing, teknologi yang belum berkembang, sarana dan prasarana produksi garam rakyat yang kurang memadai serta kemampuan pemasaran garam rakyat yang umumnya masih skala lokal. Hal ini menyebabkan garam krosok Reok cenderung kalah saing dengan garam import.

Melihat kondisi tersebut, Pemerintah membuat suatu terobosan kebijakan untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat di wilayah pesisir.

Kementerian Kelautan dan Perikanan, melalui Program PNPM Mandiri, sebagaimana tercantum dalam Pasal 1 (satu) Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 2/PERMEN KP/2013 Tentang Pedoman Pelaksanaan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Kelautan dan Perikanan, Tanggal 21 Pebruari 2013, bahwa : 

BACA JUGA:  Investasi NTT Masih di Dominasi Labuan Bajo

“Pedoman Pelaksanaan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Kelautan dan Perikanan, dimaksudkan sebagai Pedoman bagi Pelaksanaan kegiatan Pengembangan Usaha Mina Pedesaan (PUMP), Pemberdayaan Usaha Garam Rakyat (PUGAR) dan Pengembangan Desa Pesisir Tangguh (PDPT).

Sehingga pada Tahun 2013, kegiatan Pugar dilaksanakan di 42 Kabupaten atau Kota pada 9 Provinsi, dengan memberdayakan 3.521 Kelompok Usaha Garam Rakyat (KUGAR) dari target 3.347 KUGAR, dengan jumlah anggota sebanyak 31.432 petambak garam, menghasilkan produksi garam sebesar 1.041.472, 55 ton, dengan luas lahan 24.207,83 Ha dan produksi garam non pugar sebesar 122.134,99 dengan luas lahan 5.160,00 Ha.

Mirisnya,  Program Pemberdayaan Usaha Garam Rakyat (PUGAR) senilai 3 Milyar pada Tahun 2013 di areal Nanga Banda Reok, hingga kini diduga mubazir.

Pugar yang bertujuan untuk mengurangi tingkat kemiskinan dan meningkatkan sumberdaya petambak garam di atas “Tanah Sengketa” Nanga Banda Reok, ibarat jauh panggang dari api. 

Program prioritas peningkatan pada kualitas produksi dan produktivitas di lahan tambak garam (on farm) Nanga Banda Reok, diduga sirna di telan bumi. 

Pugar sendiri yang didukung dengan implementasi Teknologi Tepat Guna (TTG), penguatan koperasi, peningkatan partisipasi, tata kelola, pengarusutamaan gender, dan dukungan pemerintah daerah, dengan prinsip qiegħ-up.

Semuanya berdasarkan pada usulan yang telah disepakati oleh masyarakat sendiri melalui musyawarah, tetapi tidak lepas dari arahan pemerintah pusat dan pengawasan dari Dinas Perikanan, Kelautan dan Peternakan kabupaten Manggarai tahun 2013″.

BACA JUGA:  Gubernur Laiskodat Hukum Staf Setda NTT Squat Jump

Proyek Pugar tersebut kini sisakan luka perih bagi masyarakat Kecamatan Reok karena hanya tinggal cerita dan tidak meninggalkan jejak.

Dalam proyek Pugar tersebut Kepala Dinas Perikanan, Kelautan dan Peternakan kabupaten Manggarai tahun 2013,  bertindak sebagai penanggung jawab operasional Pugar serta melaksanakan tugas sebagai Kuasa Pengguna Anggaran sesuai dengan peraturan perundang-undangan dan bertanggung jawab secara fisik dan keuangan terhadap pelaksanaan PUGAR.

Disamping itu Kadis Prikanan, Kelautan dan Peternakan Kabupaten Manggarai 2013 bertugas menetapkan Kelompok Usaha Garam Rakyat (KUGAR), Penerima Bantuan Langsung Masyarakat (BLM) dan Koperasi atau BUMDes Pengelola sarana prasarana.

Juga melakukan Serah terima Bantuan Langsung Masyarakat (BLM) PUGAR yang dituangkan dalam Berita Acara Serah Terima (BAST) dari Kepala Dinas Perikanan, Kelautan dan Peternakan kabupaten Manggarai kepada Ketua KUGAR.

Selanjutnya, KUGAR membelanjakan, mengelola dan memanfaatkan BLM sesuai kebutuhan dalam Rencana Usaha Bersama (RUB), didukung dengan tertib administrasi yang meliputi: pencatatan atau pembukuan, bukti-bukti pembelanjaan dan keabsahannya serta tepat dalam penggunaan, dibawah bimbingan atau pembinaan dan pendampingan Tenaga Pendamping dan Dinas Perikanan, Kelautan dan Peternakan kabupaten Manggarai tahun 2013, dalam rangka kelancaran pelaksanaan PUGAR di Kabupaten Manggarai.

BACA JUGA:  Sendy Meliyana Peringati Harkitnas 2021 Bersama Sehaty Entertainment

Beberapa masyarakat Kecamatan Reok yang minta identitasnya dirahasiakan meminta agar keberadaan proyek PUGAR ini kembali diusut.

“Dulu kita mendengar bahwa semua pihak terkait pernah berurusan dengan aparat penegak hukum, tetapi penangananya tidak jelas, saatnya proyek ini diusut kembali”.

Uang negara begitu besar yang telah dikelola oleh berbagai pihak di proyek PUGAR ini, tetapi hasilnya tidak jelas.

Kita mengharapkan agar aparat penegak hukum segera mengambil langkah hukum untuk kembali mencaritau tentang proyek PUGAR yang diduga Mubazir ini.

Media ini masih berusaha untuk melakukan konfirmasi kepada pihak-pihak yang terkait dengan pelaksanaan proyek PUGAR tersebut.