Sejenak Refleksi Tentang Biawak Langka Komodo: Apakah Suatu Saat Akan Punah?

Nasional Opini

Oleh : Jon Kadis, SH ( Sekjen Komodo Lawyers Club, di Labuan Bajo)

Pada beberapa dekade terakir, daya tarik biawak Komodo ini ibarat magnet dahsyat yang membuat manusia domestik dan internasional pingin melihatnya dari jarak dekat. Tak perduli dengan racun mematikan dari hewan itu bila kena gigitannya.

Pemerintah kita mulai zaman Presiden Susilo Bambang Yudoyono dan terlebih Presiden Jokowi, kawasan hunian Komodo dan sekitarnya ini ditetapkan sebagai kawasan destinasi pariwisata bukan saja prioritas, tapi super prioritas. Populer juga disebut super premium. Itu sesuatu yang luar biasa. Penghuni kawasan ini, Flores, NTT , Indonesia umumnya patut berterimakasih. Untuk menunjang perubahan itu, berbagai sarana dan prasarana atau infrastruktur dibangun.

Dulu sebelum banyak manusia menghuni kawasan pesisir barat Manggarai Barat, Flores, hewan Komodo, yang oleh warga setempat di pesisir barat Flores ini disebut “ora”, amat banyak. Kenapa? Karena makanan utamanya, rusa dan kerbau liar amat banyak. Belum lagi binatang hutan lainnya.

Namun pada zaman now mulai punah. Kenapa? Karena manusia di pesisir barat ini mulai memenuhi kawasan ini, dan makanan utamanya selain hasil pertanian, udang dan belut di sungai adalah daging kerbau, rusa, babi hutan.

Kalau biawak Komodo itu sekali makan daging untuk kenyang beberapa bulan, namun manusia makan daging untuk kenyang 8 jam saja. Bahkan ketika kerbau atau rusa yang diburu sulit didapat, maka biawak yang ditemuinya dibantai juga untuk dimakan sekeluarga.

BACA JUGA:  Saat Presiden Ajak Dua Staf Khusus Milenial Kunjungan Kerja

Karena kebutuhan makanan dari manusia tiap 8 jam, maka manusialah sesungguhnya pelahap makanan biawak Ora atau Komodo itu daripada hewan itu sendiri. Dan lambat laut makanan Komodo habis, ia kurus, malas kawin, populasi makin turun, dan…punah. Di pesisir barat ini binatang itu amat jarang sekali ditemukan.

Selain manusia mengkonsumsi makanan Komodo, manusia juga pergi ambil Komodo punya stok nafsu birahi pas dekat alat kelaminnya itu, apa yang disebut tangkur buaya. Itu konon bikin manusia bernafsu untuk berkembang biak, anak lahir beruntun, kembar lagi ! Wisatawan domestik maupun internasional juga mengkonsumsi tangkur buaya itu, dan terasa mungkin buktinya ketika making love di kamar kapal wisata selama perjalanan pulang dari lokasi pulau buaya darat itu, all day long, siang maupun malam. Busyeeet! Bukan saja wisatawan, tapi juga penghuni lokal mengkonsumsi tangkur buaya itu. Barangsiapa yang mengkonsumsinya akan menjadi manusia super dalam hal bercinta. Nah akibatnya? Semakin banyak populasi manusia, semakin turun populasi Komodo. Betul kah?

Dulu ada wacana bombastis Gubernur NTT Viktor Bungtilu L, pada tahun awal kekuasaannya, agar pulau hunian hewan Komodo di pulau Rinca dan Pulau Komodo dikosongkan dari hunian manusia, tapi diprotes keras. Salah satu alasannya adalah: karena ada legenda yang diyakini masyarakat setempat bahwa pada mulanya manusia di situ bersaudara kembar dengan hewan Komodo. Saudara kembar yang tak terpisahkan, walau kadang buaya itu makan telan bulat2 anak dari manusia saudara kembarnya itu. Hingga hari ini wacana Gubernur itu terbawa oleh angin entah kemana. Tinggal kenangan video youtubenya saja dimana anda bisa melihat dan mendengar Sang Gubernur yang pernah menyebut dirinya profesor penjahat ketika tatap muka dengan asekae (sesama) kita rakyat di pulau Sumba.

BACA JUGA:  Luncurkan Kampus Merdeka, Mendikbud: Sekarang Akreditasi Sifatnya Sukarela

Pertanyaannya : Berapa jumlah populasi manusia saat ini di pulau Komodo dan pulau Rinca? Termasuk yang tinggal sementara untuk mereka yang sedang membangun infrastruktur di sana? Hampir pasti bertambah to? Apakah hewan Komodo di sana mulai terdesak dan malas kawin karena situasi sekitarnya sudah bising? Anda tahu jawabannya. Apakah manusia semakin bertambah karena rajin kawin pengaruh mengkonsumsi tangkur buaya selama di sana? Entahlah.

Tapi bukan manusia pintar namanya kalau tidak berakal budi. Sebagian kita berpikir bahwa mahluk langka biawak Komodo ini bukan tanpa maksud Tuhan menciptakannya. Untuk apa? Tentu bukan hanya untuk hewan itu sendiri, tapi ia tercipta untuk manusia. Bisa sejahtera dengan adanya Komodo itu. Oleh karena itu ia perlu dikelola sebaik-baiknya untuk manusia. Karena ia magnet yang cukup dahsyat, maka para penghuni harus memelihara kenyamanan hidup dalam kebersamaan. Tak usah jauh-jauh mencari dasar untuk kenyamanan dalam kebersamaan itu, yaitu dengan sama-sama mengakui adanya Sang Pencipta (Sila Pertama Pancasila), hidup dalam harkat kemanusiaan yang adil dan beradab(sila kedua), harus merasa kita satu dalam kebersamaan (sila ketiga), dan menghargai pendapat sesama serta mengedepankan demokrasi (sila keempat), serta punya hati untuk keadilan bagi banyak orang (sila kelima). Saya kira kalau hidup dalam prinsip ini maka semua orang masuk surga, sedangkan bila menolak ini maka semua orang masuk neraka.

BACA JUGA:  Dua Bibit Siklon Tropis Terdeteksi di Wilayah Selatan Indonesia

Mau hidup damai? Jika ada konflik antar sesama, mari kita selesaikan dengan damai, baik konflik pidana maupun perdata (restorative justice). Sedangkan perusak kedamaian hidup nyaman itu, yaitu radikalisme, terorisme dan korupsi, mari kita berdiri bersama para penegak hukum, Polri & TNI untuk menumpasnya.

Labuan Bajo 16 Oktober 2021