Konsep tentang ‘Yang-Lain’ Lyotard dan Habermas Berpuncak pada Filsafat Alteritas Levinas

Nasional Opini

Oleh: Sobe Rengka Melkior, S.Fil

SALAH satu disiplin pokok dari filsafat adalah etika. Etika merefleksikan bagaimana manusia harus hidup agar ia berhasil sebagai manusia dan hidup secara manusiawi.

Setiap pribadi manusia mampu berpikir, dalam bahasa Latin diterjemahkan ‘res cogitans’. Oleh karena itu, tidak mengherankan bahwa semua filsuf sejak dua ribu empat ratus tahun yang lalu mulai dari Plato yang dikenal sebagai raja para filsuf dan tokoh besar filsafat Yunani kuno, sampai pada hadirnya Friedrich Nietzsche sang penghancur etika tradisional, yang selalu disebut sebagai nabi nihilisme. Mereka semua bertanya bagaimana manusia harus membawa diri agar ia mencapai potensialitasnya yang tertinggi dan bagaimana agar kehidupan itu betul-betul bermutu?

Pada dasarnya, pertanyaan ini memiliki jawaban yang bervariasi dan menunjukkan bahwa pertanyaan tentang manusia berawal dari manusia, oleh manusia dan untuk manusia. Manusia sebagai pusat pertanyaan juga memiliki pertanyaan yang mendasar tentang ‘siapakah manusia itu?’. Pertanyaan ini menggugat eksistensi manusia. Karena itu, manusia tidak pernah berhenti pada pertanyaan tetapi terus-menerus bertanya dan mencari jawaban dalam pertanyaan-pertanyaan itu sampai singgasana kehidupannya. Di sini, pertanyaan tentang siapakah manusia bersifat kontinuitas.

Dalam filsafat totalitas, diri (Aku) adalah pusat segala-galanya dan menjadi ukuran segala sesuatu. Kesadaran manusia akan dirinya yaitu ‘kesadaran akan aku’. Dia menyadari diri sebagai ‘aku’ yang otonom (Aku saling dihubungkan dengan kata –ku: pengalamanku, milikku; aku berada: aku yang berpikir dan aku pulalah yang menyangkalnya; akulah substansi, aku yang satu dan tetap berdiri sendiri serta akulah subjek/saya tahu-memahami akan diri sendiri).

Aku selalu berhubungan dengan yang–lain, dalam bahasa Inggris dengan ungkapan ‘No man is an Island’ yang menunjukkan bahwa manusia ‘aku’ harus berkorelasi dengan realitas yang lain. Dengan demikian, aku sebagai akusativus yaitu aku yang tanpa bentuk dan aku sebagai nominativus yaitu aku yang otonom atau totalitas senantiasa harus terbuka pada realitas yang lain yaitu menjadi aku yang dativus.

Keterbukaan aku akan yang lain mampu membongkar kemapanan diri ‘aku’ dengan melebur bersama yang lain sebagai makhluk sosial. Apakah aku diadakan yang lain atau aku mengadakan yang lain merupakan pertanyaan yang justru membawa manusia untuk berkorelasi dengan yang lain.

Hal ini menegaskan bahwa kita belum menemukan jawaban akhir dari setiap pertanyaan manusia tentang realitas yang berada di luar diri aku dimana yang lain itu ada bersama dengannya. Berhadapan dengan persoalan ini, beberapa pemikir besar dan terkemuka di dunia, seperti Levinas, Lyotard dan Habermas pun menjawabnya menurut teori mereka masing-masing dan membawa kita kepada cahaya pemahaman yang baik.

Menurut Habermas, yang lain adalah yang rasionalitas dan komunikatif serta yang mampu ada sampai pada konsensus. Jalan yang diambil Habermas ini ditolak oleh Lyotard, karena Lyotard berpendapat bahwa bahasa memiliki prioritas dan otonomi sendiri dalam diri manusia itu sendiri.

Hemat saya, konsensus yang disebutkan Lyotard justru menekan berbagai bentuk permainan bahasa yang bersifat plural. Jadi, Lyotard sebenarnya menekankan pada konsepnya tentang disensus.

Perdebatan ide ini cukup panjang dan sangat intens untuk dibicarakan dalam kehidupan zaman sekarang. Karena itu, saya mengajak kita untuk memahami konsep dua pemikir besar di atas dengan menelaah secara dalam pemikiran E. Levinas tentang realitas yang–lain.

Levinas dalam filsafat Alteritasnya menyebut yang lain sebagai yang heteronom yaitu mereka dipersonifikasikan dengan epifani wajah. Wajah dalam arti metaphor yaitu: ‘muka dan wajah’; muka bisa dihancurkan sedangkan wajah bertahan, tidak bisa dihancurkan dan bentuk kehadiran wajah ini menuntut tanggung jawab etis manusia yang lain.

Berhadapan dengan yang lain dalam etika kehidupan manusia sangatlah diperlukan, sehingga manusia itu tidak hanya sekedar ada dan berada tetapi eksis ada yaitu ada secara etis karena ada fakta atau realitas yang lain di luar diri aku. Realitas itu adalah wajah yang lain, yang akan dibahas dalam pembahasan tiga tokoh besar berikut mulai dari Habermas, Lyotard dan Levinas.

Konsep tentang ‘yang-lain’ menurut Jürgen Habermas (1929-sekarang)

J. Habermas adalah tokoh yang terakhir dan barangkali tokoh terbesar dari Mazhab Frankfurt. Latar belakang pemikiran Habermas ketika meletusnya Perang Dunia II (PD II) dan merasakan langsung kekerasan serta kejahatan yang dilakukan oleh rezim nasional-sosialis Hitler (K. Bertens, 2002:236)

Pergumulan filsafatnya dimulai dengan masalah teori ilmu pengetahuan sekitar tahun 1960-an dan mengeritik pandangan positivisme, menghidupkan kembali filsafat Marx dalam mengerti ilmu pengetahuan secara lebih kritis, sambil mengikuti jejak Max Horkheimer dan Theodor Adorno.

Pada tahun 1970-an Habermas melanjutkan pemikirannya tentang teori tindakan praksis komunikatif dengan menekankan pada logika-logika khusus komunikatif yang dilupakan kaum positivisme. Lalu Habermas bertanya tentang syarat-syarat komunikatif dalam berargumentasi yang disebutnya situasi percakapan yang ideal agar lebih meyakinkan dan benar serta bagaimana meningkatkan proses belajar yang membawa sebuah kemajuan, yaitu penguasaan alam dan produktivitas dengan logikanya masing-masing.

Dalam Teori praksis komunikatif (1981) Habermas menggumuli dunia filsafatnya tentang dunia dan kehidupannya. Secara tidak langsung Habermas mau menunjukkan realitas yang lain sebagai yang ada sekaligus berpatisipasi dalam komunikasi satu dengan yang lain. Akan tetapi, menurut Habermas yang lain itu adalah yang rasionalitas yaitu yang ikut serta berperan aktif dalam diskursus-diskursus-nya sebagai sebuah konsensus. Jadi, di luar rasionalitas bukan merupakan sebuah konsensus. Pertanyaannya bahwa bagaimana ketika berhadapan dengan yang lain yang notabene cacat fisik seperti bisu dan menderita?

BACA JUGA:  Tingkatkan Imunitas Tubuh Hadapi Covid-19, disarankan Berjemur Cukup 15 Menit Saja

Etika diskursus Habermas menegaskan bahwa yang lain bagi dia adalah yang memiliki pengertian dan pemahaman yang sama, cendrung menyebutnya sebagai sebuah konsensus. Menurut Habermas konsensus seperti ini berlandaskan pada rasionalitas sebagai sebuah percakapan yang ideal. Yang ideal adalah yang rasional dan yang rasional adalah yang ideal. Sehingga yang cacat fisik seperti bisu atau sacara kasar tidak rasional dan tidak ideal adalah tidak bisa mengikuti konsensus.

Analisis-analisis Habermas mengenai tindakan komunikatif dan teori konsensusnya membuka sebuah kemungkinan untuk mencapai hubungan dengan yang lain dalam sebuah taraf hubungan bebas, kekuasaan dan simetris. Ini artinya bahwa kedua belah pihak yang mengikuti konsensus sama atau sederajat. Kebebasan bagi yang–lain adalah yang bebas berargumentasi dalam sebuah diskursus dan memiliki kuasa untuk menentukan suatu tindakan praksis dengan merujuk pada sebuah konsensus.

Gambaran akan yang lain adalah yang sederajat dan saling memberi dalam konsensus dengan sebuah harapan ‘kembali’ atau memiliki tujuan tertentu yang ingin dicapai. Disini Habermas mengartikan yang lain dalam sebuah konsensus yang dinilainya sebagai yang rasional, ideal, saling pengertian, memiliki kesepakatan bersama, saling memberi dalam arti simetris dan berhenti pada praksis rasionalitas dengan jalan akhir sebuah konsensus.

Relevansi pemikiran Habermas bagi generasi abad ke-21 bahwa Etika diskursus Habermas yaitu konsensus membuka dan melakukan sebuah perubahan paradigma radikal dari ‘filsafat kesadaran’ kepada ‘filsafat bahasa’ dan dari ‘filsafat subjek’ ke ‘filsafat komunikasi’ (Habermas,1983:106).

Habermas juga menggunakan prinsip peng-universal-an yang mengatakan bahwa: “hanya norma-norma yang disetujui oleh semua yang bersangkutan sebagai peserta sebuah diskursus praktis adalah dianggap sah” (Habermas, 1983:103). Akan tetapi, yang menjadi persoalan bahwa ketika kita mengahadapi realitas yang–lain yang adalah bagian di dalam hidup kita, muncul pertanyaan: bagaimana kita hidup bersama, apa yang etis dalam hidup bersama dan bagaimana hidup yang etis itu bisa tercipta dalam hidup bersama?

Apakah tidak memiliki alternatif yang lain atau jalan ke luar yang lain dari sebuah persoalan yang tidak bisa dibahas dalam sebuah diskursus ataukah berhenti pada diskursus tanpa sebuah tindakan praksis yang nyata dan menyentuh realitas yang lain secara spontan? Hal ini sangat mendasar atas konsep pemikiran etika diskursus Habermas.
Berhadapan dengan realitas, persoalan, teori, kritikan dan sebuah kemungkinan jalan keluar bagi pemikiran Habermas. Habermas berhenti pada jalan keluar diskursus yaitu disebutnya rasionalitas komunikatif dan tindakan praksis yang nyata dalam sebuah konsensus. Maka untuk melawan etika diskursus Habermas yang terarah pada konsensus.
Jean F. Lyotard dengan mendasarkan penekanan pada dissensus, yaitu kemungkinan yang terbaik yang mesti diterapkan dalam realitas yang–lain yang plural dan memiliki keberbedaan. Di sini Lyotard mengangkat realitas yang lain sebagai yang pluralitas dan yang memiliki perbedaan radikal tanpa adanya usaha penyatuhan.

Konsep tentang ‘yang lain’ menurut Jean-François Lyotard (1924-1998)

Jean F. Lyotard (Jean-François Lyotard, 2003:2) dikenal sebagai pencetus awal kelahiran filsafat postmodernisme. Hal ini ditemukan dalam setiap pergumulan filsafatnya sebagai la conditione postmoderne (1979) yang bertitik tolak pada pluraritas manusia mulai dari gaya bahasa, gaya hidup dan jenis pengetahuan.

Ansumsi dasar Lytord menekankan pada pengetahuan dan dalam hubungannya dengan realitas kehidupan manusia yang disebutnya ‘society’, masyarakat. Sebuah masyarakat adalah himpunan dari berbagai praktik bahasa. Kajian ini terkait dengan dua aspek dari realitas postmodern sekaligus tataran konseptual, teoritis dan kritik-kritik filosofis atas modernisme serta sejumlah hal praksis dalam tata sosial kemasyarakatan, politik dan ekonomi.

Lyotard melihat bahwa yang paling utama dalam masyarakat postmodern adalah model pengetahuan. Dimana dengan pengetahuan akan mampu menentukan teknologinya. Analisis Lyotard disini tentang filsafat kontemporer dengan menekankan pada ilmu pengetahuan dan teknologi adalah yang paling unggul karena selalu berhubungan dengan bahasa.

Latar belakang pemikiran Lyotard berorientasi pada pemikiran L. Wittgenstein yang disebutnya sebagai filsuf postmodern pertama. Hal itu tampak dalam kata pengantar bukunya yang berjudul Philosophical Investigations; ia mengutip kata-kata Wittgenstein:

“Saya berusaha menulis sekian, sehingga pikiran-pikiranku dapat bergerak dari satu objek ke objek lainnya secara alamiah dan terus-menerus. Tetapi ternyata ini bertentangan dengan dorongan alamiah pikiran-pikiranku itu sendiri. Pikiranku menjadi lumpuh apabila saya berusaha memaksakan mereka mengikuti satu arah”.

Sambil memperhatikan kenyataan ini, Lyotard mengatakan bahwa masyarakat tidak mempunyai otoritas dan tidak memiliki aturan untuk mengatur segala hal. Sekali lagi ia mengangkat bahasa sebagai mediumnya. Dengan demikian bahasa sebenarnya memiliki prioritas dan otonomi. Bukan manusia yang menjadi tuan atas bahasa, melainkan bahasa adalah peristiwa, sesuatu yang terjadi di dalam satu aliran dan manusia masuk dalam permainan bahasa ini.

Hemat saya bahwa Lyotard melawan anthroposentrisme yaitu manusia sebagai pemain di dalam permainan bahasa dan dia bermain menurut peraturan permainan yang ditetapkannya sendiri. Jadi, ada yang–lain yang mengatur jalannya permainan itu yang lasim disebut Lyotard sendiri sebagai pluralitas dan heterogenitas dengan menolak diskursus Habermas yang mengarah pada sebuah konsensus.

BACA JUGA:  AJAK GENERASI MUDA KENAL SEJARAH, PROGRAM “BNI KEJAR” DAPAT RESPON POSITIF

Lyotard menekankan dissensus karena yang pluralitas menurutnya tidak bisa sampai pada sebuah konsensus. Bagi Lyotard konsep tentang yang –lain dalam filsafat bahasanya adalah sebagai sebuah kemajemukkan baik bahasa, gaya hidup maupun jenis pengetahuan.

Secara singkat bahwa yang lain sebagai sebuah dissensus dengan dua alasan mendasar, yaitu: pertama bahwa konsensus yang ditawarkan oleh Habermas justru menimbulkan tekanan dan memberikan pendasaran represi bagi realitas yang lain. Jadi, orang yang mengikuti konsensus adalah memiliki satu gaya bahasa yang sama yang menekan permainan bahasa itu.

Kedua bahwa jalan konsensus tidak bisa mencapai sebuah kemajuan karena konsesus ada kalau ada kesepakatan bersama dan justru sebaliknya bahwa adanya ketaksepakatan dalam arti pluralitas dapat memajukan suatu kehidupan. Kemajuan karena ada ruang dalam permainan bahasa maksudnya yang lain sebagai pluralitas mampu mengembangkan dirinya sendiri. Jadi, Lyotard tidak mementingkan homologi para pakar tetapi paralogi para pencipta atau dapat dikatakan Lyotard menggunakan etika pluralitas.

Relevansi pemikiran Etika pluralitas Lyotard bagi generasi abad ke-21 ini bahwa dissensusnya sebagai lawan atas etika diskursus Habermas dengan tujuan pada suatu konsensus. Padanan antara dua pemikiran yang besar ini justru menarik untuk terus ditelaah dan dua etika ini hanya bisa digunakan pada tataran serta ditempatkan sesuai dengan posisinya masing-masing.

Adanya sebuah kesepakatan karena adanya satu jalan pengertaian yang sama sehingga pada sebuah konsensus (pada pemikiran Habermas). Sebaliknya Lyotard lebih menekankan pada pluralitas yaitu berawal dari ketaksepakatan kapada sebuah kemajuan dan tidak membuka ruang untuk penyatuhan atau kesatuan, seperti konsensus dari Habermas.

Lebih jauh Emmanuel Levinas menekankan pada realitas ada yang lain di luar diri subyek yang menuntut sebuah pertanggungjawaban etis rasional. Levinas melawan dan memberikan alternatif baru yang menyerang kedua tokoh besar di atas dalam filsafat Alteritasnya.

Konsep tentang ‘yang-lain’ menurut Emmanuel Lévinas (1906-1995)

Kehadiran E. Lévinas (Frans M. Suseno, 1997:88) dalam dunia filsafat memberi arti dan makna bagi setiap orang yang mengenalnya. Kiblat pemikiran Levinas banyak dilatarbelakangi oleh kehidupannya yang begitu religius dengan menghargai setiap pribadi manusia dan realitas yang ada di luar dirinya.

Bangunan refleksi filsafat dan etika E. Lévinas berdasarkan pengalaman hidupnya yang ada di luar dirinya justru mengharuskan dirinya untuk memberi respect atas kehadiran yang lain yang begitu lain dan berbeda serta memberikan ruang dan tempat bagi keberadaan yang lain tersebut.

Pengalaman hidup yang dialami oleh E. Lévinas yang membawanya untuk menjadi sukses dan menjadi tokoh besar filsafat yang tidak akan selesai dibicarakan. Kehadirannya di atas panggung kehidupan dunia filsafat memberi dan mencari arti yang terdalam tentang arti dan makna kehidupan itu sendiri. Hal ini yang dihadapkannya dengan realitas yang lain, yang lain inilah menjadi titik dasar pemikirannya.

Bentuk refleksi dasar atas teorinya berdasarkan pada pengalaman penderitaan akibat kekejaman Nazi dimana orangtua dan keluarganya terbunuh di Lithuania. Selain itu, pemikiran Lévinas cukup banyak diinspirasi dan dihasilkan selama masa studinya yang pernah menggumuli filsafat Edmund Husserl dan Martin Heidegger (1928/1929) serta beberapa filsuf Prancis, misalnya: Gabriel Marcel, Sartre, dan Jacques Maritain.

Menurut E. Lévinas bahwa pemikiran dan warna hidup mestinya selalu dijiwai dengan membaca dan merefleksi bacaan Kitab Suci. Hal ini berpuncak pada tema filsafat ketuhanannya yaitu etika pembebasan tentang yang lain. Sehingga pembahasan tentang yang lain dalam filsafat alteritasnya dilihat sebagai lawan atas pemikiran J. Habermas dan J. Lyotard.

Pertanyaan puncak dan dasar dalam kehidupan manusia adalah apa dan siapakah manusia itu? Namun, pertanyaan ini tidaklah berhenti pada sebuah jawaban dari pertanyaan tersebut karena ketika manusia berhenti bertanya dan menemukan jawabannya, maka manusia mengakhiri kehidupannya sendiri. Manusia tidak pernah berhenti untuk mencari dan mempertanyakan tentang sesuatu yang lain dalam hidupnya.

Berhadapan dengan yang lain dalam filsafat Lévinas mengartikan sebagai yang lain dari yang lain yang bersifat heteronom atau heteros (yang plural dari antara dua), yang berbeda dari allos (yang satu diantara banyak yang lain) dan yang lain dipersonifikasikan dengan wajah yang menuntut sebuah pertanggungjawaban etis dari kita (Simon Critchley and R. Bernasconi (ed), 2002: 240).

Menurutnya yang lain adalah yang dipersonifikasikan dengan wajah yang nampak dalam figur orang-orang yang menderita, orang miskin, janda, yatim piatu, orang asing dan yang telanjang; yang telanjang adalah yang tampak apa adanya. Wajah mempunyai makna yang melampaui ‘ada’ sebab makna wajah itu tetap bertahan, termasuk jika ‘ada’ membaharui diri dan memulai cara baru lagi serta berbeda dengan makna muka yang bisa dihancurkan dan tidak bertahan.

Penampakan wajah merupakan momen etis. Bagi Lévinas, perjumpaan dengan wajah mengundang kita untuk menyapanya. Wajah itu menyapa saya untuk membuka hati saya kepada dia, yang membuka dimensi yang tak terhingga bagi diri saya dan menggugah saya untuk berlaku etis dan memberi respect kepada dia (M. Al-Fayyald, 2005:152).

BACA JUGA:  Presiden Jokowi Pecat Langsung Pejabat Pertami Tamparan Halus Buat Menteri BUMN, Erick Thohir

Saya ‘memberi’ respect atau menghargai yang lain tanpa menuntut imbalan atau bersifat asimetris: saya memberi kepadanya tanpa dituntut suatu imbalan dan saya hanya bisa memberikan kepada dia dengan ikhlas tanpa ada paksaan dari luar. Oleh karena itu, manusia tidak hanya sekedar ada tetapi harus eksis ada karena ada fakta yang lain yaitu realitas wajah yang ada di luar diri saya.

Cinta yang diungkapkan E. Lévinas adalah ‘cinta yang tidak menuntut balasan dan wajah menjadi etika pertama filsafat Levinas yang lebih menekankan pada praktis dan menyentuh atau nyata dalam perbuatan etis dan rasional tetapi bukan rasionalisme.

Filsafat Alteritas (wajah) dan etika heteronom membuka dan memaknai eksistensi manusia yang senantiasa terbuka untuk orang lain, sebab kebenaran terjadi ketika ada keterbukaan untuk menerima yang lain. Kebenaran tidak ada di dalam dirinya sendiri tetapi kebenaran itu akan masih mungkin ada dalam diri yang lain (Felix Baghi, 2005:153).
Yang lain atau wajah yang lain menjadi landasan dasar etis dalam filsafat Lévinas yang terus dibicarakan dan perlu dikembangkan sampai saat ini dan mungkin kehidupan selanjutnya. Pemikiran E. Lévinas patut untuk tetap diperjuangkan dan dikembangkan dalam realitas kehidupan kita dewasa ini.

Pada awal abad ke 21 ini diwarnai dengan kompleksitas persoalan. Dunia sekarang adalah dunia yang tidak lagi ada perdamaian dan keadilan, rasa hormat dan saling memberi yang tulus ikhlas dan dunia yang mati di dalam setiap pribadi manusia yang menutup matanya akan yang lain yaitu sesamanya dan lingkungannya.

Dengan demikian, kehadiran Lévinas membongkar seluruh ketertutupan diri manusia yang otonom dan rasionalisme E. Levinas memberikan penekanan lain terhadap Lyotard tentang yang lain sebagai pluralitas saja dengan memberi ruang gerak untuk memajukan dirinya sendiri, sedangkan Habermas mengemukakan tentang yang lain sebagai wajah yang menderita dan tak berdaya yang membutuhkan pertanggungjawaban etis kita.

Lebih penting bahwa bukan hanya berhenti pada memberi kesempatan kepada mereka sendiri, tetapi meski ada yang lain yang ada bersamanya yang secara spontan/nyata membantu dan melindunginya. Etika Levinas ini dapat juga dikatakan sebagai sebuah etika yang mendasar di dalam realitas kehidupan masyarakat zaman ini dan merupakan sebuah bentuk perlawanan bagi setiap orang yang berjuang demi kebahagiannya sendiri yang tidak memperhatikan penderitaan orang lain.

Kehidupan manusia tak pernah lepas dan dipisahkan dari kehidupan yang lain. Ia senantiasa ada dan eksis. Ada karena hadirnya realitas yang lain dalam kehidupannya, yang justru kehadirannya itu pula mengganggu keberadaannya dan dari padanya dituntut untuk bertanggungjawab atas dia yang lain tersebut.

Di tengah kehidupan dunia dewasa ini persoalan tentang keberadaan yang lain sebagai yang heteronom (baca: yang berbeda dengan yang lainnya) melahirkan pertanyaan tentang apa dan siapakah manusia tersebut berhadapan dengan manusia yang lain? Jawaban atas pertanyaan ini belumlah selesai. Bahkan, jawaban ini justru akan memunculkan pertanyaan baru lagi yang terus-menerus tanpa ada batasnya.

Konsep tentang yang lain dari perspektif Lyotard, Habermas dan Levinas belum seutuhnya sempurna tetapi mesti terus diperjuangkan dan dikembangkan tentang apa yang menjadi paling baik itulah yang mesti perlu terus dikembangkan.

Tidak ada sebuah kebenaran yang mutlak dan selesai ketika berhadapan dengan yang lain; sebagaimana fiungkapkan oleh Levinas bahwa kemungkinan kebenaran akan tercapai ketika kita membuka mata hati kita terhadap realitas yang lain dan dari situ memberi respect kita kepadanya, kita harus mengambil alih penderitaan orang lain menjadi penderitaan kita dengan memberi dan mengorbankan diri kita tanpa menuntut balasan atau imbalan, seperti Tuhan Yesus Kristus yang telah mengurbankan seluruh hidup-Nya melalui misteri penebusan-Nya sebagai bukti cinta kasihnya kepada manusia (Etika pembebasan Levinas).

Semoga dalam semangat kasih persaudaraan dan cinta yang tulus dari hati ke hati menjadi semangat kita dalam seluruh pencaharian bersama yang lain. Kebersamaan yang dimaksud adalah saling memahami dan saling terbuka dalam suatu cakrawala berpikir yang komunikatif, rasional, dan praktis.***

*Sobe Rengka Melkior, S.Fil, adalah alumnus STFK Ledalero-Maumere (2012), alumnus CRCS UGM-Yogyakarta (2016), Pendiri Forum Peduli HAM Manggarai NTT, Staf khusus Bidang Pemberdayaan Sumber Daya Manusia pada LPPKPD Manggarai NTT, Peneliti CRCS UGM untuk wilayah NTT, Staf dan Pimpinan CV. Feniks Muda Sejahtera: Mencerahkan dan Memberdayakan untuk wilayah NTT-NTB dan Staf Pendidik SMKN1 Wae Rii Kabupaten Manggarai. Ia sudah menghasilkan tiga buku dan sering menulis opini dan artikel ilmiah di beberapa media online dan media cetak.