Soal Pencabutan Anak Angkat untuk Kamelus Deno, Yakobus Magus: Tipu Semua Itu, Jangan Dipercaya!

Daerah

Ruteng, SorotNTT.Com – Orang tua angkat Deno Kamelus dan Yeni Veronika, Yakobus Magus bersama sejumlah tokoh masyarakat kampung Golo Worok Desa Golo Worok, Kecamatan Ruteng mendatangi kediaman Bupati Deno di Carep, kelurahan Carep, kecamatan Langke Rembong pada Senin malam, 9 November 2020.

Yakobus Magus Bersama rombongan mendatangi kediaman Kamelus Deno untuk memberikan klarifikasi serta menyampaikan permohonan maaf atas munculnya berita pencabutan status anak angkat terhadap Bupati Deno oleh Tua Gendang dan masyarakat Golo Worok.

“Ite, ami sale mai Beo, bao gula denge lami tombo one mai ase ka’e sale, kali rodo manga kaut ngasang dami one berita, taen ga cabut status anak angkat latang ema Bupati, reu keta nai dami woko senget tombo situ (Nak, kami dari kampung tadi pagi mendengar informasi dari orang-orang, tiba-tiba nama kami disebut-sebut dalam berita yang mengatakan tentang pencabutan status anak angkat terhadap Bupati. Hati kami sangat terluka mendengar informasi itu),” ungkap Yakobus Magus,.

Sesepuh yang merupakan tu’a gendang suku Wesang itu dengan tegas membantah berita tersebut. Di hadapan Deno Kamelus dan keluarga, Yakobus menjelaskan bahwa berita pencabutan status anak angkat terhadap Deno Kamelus dan istrinya Yeni Veronika tidaklah benar.

Bahkan dia meyakini, niat itu tidak pernah dan tidak akan muncul dalam hati dan pikirannya. Yakobus menjelaskan, apa yang muncul dalam berita itu adalah informasi bohong atau tidak benar.

“Ata joak ata situ ite. Pisa’d ngasang de ase ka’e situ ata tulis one berita, toe manga sale mbaru gendang du lambu de paket H2N. Manga ata one uma ngo kerja, mai lise caro sebarang. Ata tipu ise situ ite, neka imbi Lite. Weki ru gaku toe hadir, ai ema dite ki gaku. (Orang Penipu mereka itu, beberapa nama dari keluarga yang mereka tulis di berita tidak ada dalam rumah gendang saat kunjungan paket H2N. Ada yang di kebun pergi kerja, mereka sebut sembarang. Orang tipu semua itu, jangan percaya. Saya sendiri tidak hadir karena memang saya masih bapa angkatnya Pak Bupati,” tegas Yakobus dengan kesal.

Diterangkan Yakobus, pada Pemilihan kepala daerah (Pilkada) Manggarai tahun 2015 lalu, melalui ritual adat, Deno Kamelus secara resmi diangkat menjadi putra sulung masyarakat kampung Golo Worok. Kamelus Deno pun dipersiapkan secara adat untuk menjadi Bupati Manggarai. Alhasil, Bupati Deno menang dan terpilih menjadi bupati Manggarai periode 2015-2020.

“Danong ami teti ite te maju jadi Bupati lewat acara adat. Teti kole lami ite kudut jadi anak laing de ro’eng Golo Worok. Hoo kudut maju kole ite, ami ro’eng Golo Worok wan koe etan tua kudut todo kongkol kope holes dukung ite kraeng Deno-Madur.(Dulu kami mengangkat kita menjadi Bupati lewat acara adat, kami juga mengangkat kita menjadi anak dari warga Golo Worok. Tahun ini, kita maju lagi, kami masyarakat Golo worok dari yang kecil sampai yang tua, masih bersatu untuk Deno Madur.),” lanjut Yakobus.

Yakobus pun meminta Bupati Deno agar tidak perlu takut dan goyah dalam menghadapi situasi politik 2020. Sebab kata dia, dalam bayangan dan permenunganya, masih banyak masyarakat Manggarai yang menginginkan Deno-Madur untuk kembali memimpin Manggarai.

“Neka gega ite anak. Toe manga hesing one ata bana nai dami. Gereng le tanggal 9 Desember. Neka senget tombo ata pande bike agu behas ite. Paka ca taung nai dite. (Jangan panik kita nak, kami tak akan pernah berpaling ke lain hati. Tunggu di tanggal 9 Desember. Jangan dengar kabar yang buat kita pecah-belah. Kita harus tetap satu hati)” tutup Yakobus.

Sementara itu Yohanes Joot, yang merupakan bagian dari tokoh adat Wesang yang menerima kehadiran H2N beberapa waktu lalu di Golo Worok menjelaskan, masyarakat Kampung Golo Worok menerima kehadiran paket H2N, tidak lebih dari sekedar tamu.

Dihadapan Bupati Deno, Ia menjelaskan, menerima tamu yang baik adalah bagian dari budaya Manggarai. Kalau tidak diterima dengan baik maka akan dianggap orang yang tak berbudaya.

Meski demikian menurut dia, kehadiran paket H2N bukan atas permintaan Tu’a Gendang. Yohanes mengaku, dirinya hanya menerima paduan dalam acara adat. Sementara pada kegiatan selanjutnya, dia tidak ikut semua dalam kesibukan lain di kampung itu.

“Kali woko tiba di’a lami ise ga, pika murah kaut ngasang dami lise. Wiga denge taung lawa neteng tanah Manggarai ho’o, ami cabut status anak latang ite (Kamelus Deno). Toe keta manga baen lami tombo hitu ite, (Tetapi karena kami terima dengan baik kehadiran mereka, mereka malah menjual murah nama kami, sehingga didengar oleh seluruh masyarakat Manggarai seolah kami buat pernyataan cabut status anak untuk Pak Kamelus),” kata Yohanes.

Yohanes Joot yang masih ada ikatan darah dengan Yakobus Magos itu mengatakan, seluruh keluarga besar Golo Worok telah memiliki ikatan yang sangat dekat dengan keluarga Bupati Deno Kamelus. Jadi mereka tidak mungkin memutuskan hubungan kekeluargaan itu begitu saja. Bahkan kata dia, situasi apapun yang dialami oleh Bupati Deno dan keluarga, keluarga besar Golo Worok adalah bagian dari situasi itu.

“Woko neki ca kami agu ase/ka’e gaku, toe manga oke agu keban le Morin pande di’a dite, hoo neng dia’n wintuk dite. Ita koles lami ga, rasa’s lami. Landing woko pande ngaur nggo’o lata, am eme bae melaju kaku le rug wale ata situ, landing hoo ga tura lami, kudu puas kole ami, toe one mai amin tombo situ (Ketika kami bersatu dengan sanak dan saudara, Tuhan juga tidak tutup mata untuk seluruh kebaikannya Pak Kamelus. Kami sudah melihat dan sudah merasakan. Tetapi ketika diadu domba seperti ini oleh orang lain, andaikan saya bisa berbahasa, maka saya akan jawab sendiri orang itu. Tetapi malam ini kami sampaikan (klarifikasi), agar kami juga puas omongan itu bukan dari kami,” kata Yohanes.

Yohanes mengungkapkan, sebenarnya Dia saat itu enggan ikut menerima paket H2N. Sebab saat dia dipanggil oleh orang yang diutus untuk jaga rumah gendang dalam menyambut kehadiran rombongan H2N, dia menanyakan sikap dari kakaknya Yakobus Magus yang adalah Tua Gendang Wesang.

Saat itu, dia tahu bahwa ada keengganan dari Yakobus Magus untuk menerima kehadiran rombongan H2N. Sebab, mereka masih ada Ikatan keluarga dengan Bupati Deno. Namun, demi menghindari cerita buruk dari masyarakat lain, Dia terpaksa melangkahi kakaknya untuk menerima kehadiran paket H2N.

“Landing toe teing hang, eme mai teing hang toe gori gaku. Te can, toe gori gaku ceceng ngasang kae. Te suan, ai toe di adak ntaung weru dite beo ho’o. Wale de tim H2N ga, ata mai ba tombo kanang, hitu de manga one ranga gaku. Toe manga bantang sepakat hot neho one berita hitu. (Tapi bukan untuk ritus adat, kalau datang untuk acara adat, saya tidak mau. Pertama, saya tidak mau melangkahi kakak saya. Kedua, Kampung kita belum mengadakan acara adat tahun baru/Penti. Tim H2N menjawab, hanya datang untuk omong saja. Makanya saya hadir dan tidak ada pembicaraan sepakat seperti dalam berita itu),” tegasnya.

Di Golo Worok diketahui memang terdapat 2 Rumah gendang, selain gendang Wesang, ada juga gendang Maras. Dalam penuturan tokoh masyarakat yang menemui Bupati Deno, dijelaskan bahwa paket H2N memang mengunjungi ke dua gendang tersebut. Di gendang Wesang, mereka hanya melaksanakan ritus adat reis dan Wae lu’u ceki agu Wura. Selanjutnya, kegiatan dilaksanakan di gendang Maras.

Oleh karena itu, dalam kedatangan mereka menemui Bupati Deno malam tadi, hadir pula tokoh adat perwakilan gendang Maras atas nama Simon Wadut.

Simon pun mengungkapkan situasi di rumah gendang itu saat menerima rombongan paket H2N. Kata dia, saat tim pemenang paket H2N belum selesai berbicara, tiba-tiba listrik mati. Karena itu, beberapa warga yang sempat hadir pun langsung pulang dan tidak mengikuti acara selanjutnya.

“Mai nitu main ite ga, sisa weki ata lonto ga ata telu koes. Ise H2N ga lonto be sina mais, memang manga ata mai ruis kudut foto, lami kole toe bae ceing hia agu kudu cood foto situ liha, toe koe kole jelas, bingung ami kali hoo maksud. (Dari situ sisa warga yang duduk hanya 3 orang. Mereka H2N duduk berseberangan, memang ada yang mendekat dan ambil foto. Kami juga tidak tahu siapa dia dan untuk apa difoto, dia juga tidak menjelaskannya. Kami bingung ternyata ini maksudnya),” ungkap Simon.

Bahkan lebih jauh Simon Wagut menjelaskan, uang yang diberikan oleh paket H2N saat itu totalnya Rp.300.000 dengan rincian, Rp.200.000 untuk Wae lu’u ceki agu wura (ritus adat untuk leluhur yang telah meninggal) dan Rp.100.000 untuk pedeng Reweng (ritus adat tinggalkan kesan baik).

Uang tersebut lanjut Simon, saat ini masih tersimpan baik di rumah Gendang. Dia menegaskan, jika Tim H2N masih membutuhkan uang itu, bisa saja mereka ambil kembali agar nama baik orang Golo Worok tidak dijual murah begitu saja.

“Ai kaget aku bo ite, kole duat wa mai uma, aok le weki ga, oh ngasang de hau ca one berita e, caro pencabutan status anak angkat. Kecewa taung sanggen weki dite pak bupati, hoo de mai gami, neka koe imbis lite tombo data situ, (Karena saya tadi kaget pulang dari kebun ramai orang ngomong, Eh kau punya nama satu dalam berita. Sebut pencabutan status anak angkat. Semua keluarga kita kecewa Pak Bupati, kini kami datang. tolong jangan dipercaya omongan orang itu),” tutup Simon.

Ada juga Yohanes Banggut yang merupakan tokoh masyarakat yang membawa acara tuak curu atau ritus adat penjemputan paket H2N dalam kunjungan ke kampung Golo Worok. Banggut menjelaskan bahwa, memang benar bahwa rombongan paket H2N di sana diterima dengan baik. Namun tegas dia, tidak ada perbincangan mengenai kesepakatan untuk pencabutan status anak angkat Bupati Deno, baik itu dengan paket H2N atau pun dengan Wartawan.

“Ite ai toe bae kami jaong politik, landing ikut terus ami ho’o pilih ite, pu’ung tahun 2005 danong ga. Toe manga tombo karang-karang so’o. Aku hadir ai imbi le ase kae kudut tombo tuak curu, toe kudut bantang neho one berita hitu. (Pak, kami tidak tahu ngomong politik tapi kami ikut terus dan kami pilih bapak sejak 2005. Tidak ada cerita karang-karang begini, saya hadir karena dipercaya oleh warga kampung untuk ritus adat tuak curu. Bukan kesepakatan seperti dalam berita itu,)” kata Banggut.

Tanggapan Bupati Deno.

Menanggapi klarifikasi dan permohonan maaf dari orang tua angkatnya serta tokoh masyarakat Golo Worok. Bupati Deno menjelaskan bahwa masyarakat tidak perlu merasa bersalah. Sebab, setelah mendapatkan kiriman berita itu paginya, Bupati Deno sudah meyakini bahwa itu adalah informasi bohong atau hoax.

Bupati Deno mengatakan, kehadiran mereka untuk menyampaikan klarifikasi dan permintaan maaf itu adalah sebagai bukti bahwa keluarga Golo Worok tidak mau tercerai-berai. Mereka sudah memiliki perasaan cinta terhadap Kamelus Deno sebagai bagian dari keluarga.

“Sebab saya tidak yakin, bapa mama dan seluruh keluarga di Golo Worok, yang sudah menjadi bagian dari keluarga saya membuat atau melakukan kesepakatan seperti itu. Karena yang saya dan mama Rino (Yeni Veronika) rasakan sama dengan yang Ite (kita) rasakan, bahwa ikatan kekeluargaan kita sudah sangat dekat. Saya tidak terganggu dan saya bersyukur atas kehadiran malam ini,” kata Deno.

Calon bupati yang berpasangan dengan Victor Madur itu menjelaskan bahwa, akhir-akhir ini memang kerap sekali muncul berita yang cenderung memprovokasi atau mengadu domba masyarakat. Tujuannya satu, yaitu untuk menjatuhkan kredibilitas dan elektabilitas DM.

“Tantangan kita sebenarnya itu adalah melawan berita bohong dan juga menjaga kekeluargaan agar tidak terpengaruh sama adu domba yang dilakukan pihak tertentu. Setiap hari masyarakat diadu domba, misalnya sebut saya ditolak. Padahal tidak ditolak, ini kan bahaya,” tegas Deno.

Deno pun menyayangkan orang yang menuliskan berita bohong atau yang mengambil sumber tanpa dikonfirmasi itu. Untuk menang pilkada, kata dia, tidak perlu menipu orang atau mengklaim dukungan orang lain, sebab masyarakat saat ini sudah cerdas.

“Untuk apa kita menipu, kasihan juga masyarakat, ngomong jujur sesuai dengan keadaan dan biarkan masyarakat yang menilai. Tetapi soal berita atau berkaitan dengan masalah ini, saya serahkan sepenuhnya kepada Ite (kita) semua. Lakukan baiknya seperti apa. Tetapi pesan saya, jangan sampai terprovokasi. Saya sangat tahu jati diri dari seluruh keluarga besar Golo Worok,” ungkap Kamelus Deno.

Untuk diketahui, suasana kekeluargaan dalam pertemuan itu sangat nampak antara Bupati Deno dan keluarga bersama dengan tokoh adat maupun masyarakat Golo Worok. Bupati Deno pun memeluk mereka satu persatu.

Sebelumnya, Viral dalam pemberitaan media online VoxNntt.com dan Kastra.co yang memberikan informasi bahwa masyarakat Golo Worok mencabut status anak angkat terhadap Bupati Deno Kamelus. (RED)