EURO 2020: Hiburan yang Tertunda

OlahragaOpini

Mariemon S. Setiawan

Penulis adalah mahasiswa STFK Ledalero yang menyukai sepakbola. Sekarang berdomisili di Misir-Maumere

Sepakbola tampak memiliki kharisma tersendiri ketika ia mampu menarik perhatian jutaan pasang mata untuk menengok ke lapangan hijau. Lihat saja bagaimana turnamen Piala Dunia yang diselenggarakan empat tahun sekali, selalu menyita perhatian hampir semua penduduk bumi. Nasionalisme tiba-tiba saja muncul. Para supporter rela menempuh jarak puluhan bahkan ribuan kilometer, melintasi negara-negara, bahkan melewati benua demi menyaksikan dan membela tim kesayangannya.

Normalnya, hampir setiap tahun kita selalu disuguhkan dengan event-event sepakbola besar antar negara, mulai dari Piala Dunia, UEFA Euro, Copa Amerika, Piala Afrika, hingga Olimpiade. Inilah hiburan gratis yang selalu menemani hari-hari liburan musim panas. Dua tahun lalu, Rusia menjadi pusat perhatian setelah sukses menyelenggarakan Piala Dunia. Tahun lalu kita menyaksikan tim Samba Brasil berjaya di ajang Copa Amerika. Dan tahun ini, kita akan menyaksikan negara-negara besar Eropa yang akan merebut mahkota Euro 2020. Namun, munculnya wabah Covid-19 telah mengubah segalanya, penyelenggaraan Euro ditunda hingga tahun depan.

Munculnya pandemi Covid-19 pada awal tahun ini seakan menjadi ‘kado’ tahun baru paling buruk untuk umat manusia. Ia telah melumpuhkan semua aktivitas, termasuk sepakbola. Stadion-stadion menjadi sepi karena kompetisi ditunda dan para pemain diliburkan. Ya, sepakbola harus menjaga ‘kesucian’-nya, karena ia punya kekuatan untuk mengumpulkan masa; suatu hal yang ‘tabu’ untuk dilakukan selama masa pandemi ini.

UEFA Euro sendiri pertama kali diselenggarakan di Perancis pada tahun 1960. Dua negara yang kini ‘tidak ada’ lagi, Uni Soviet dan Yugoslavia, berhasil tampil menjadi finalis pertama. Uni Soviet keluar sebagai jawara setelah mengandaskan perlawanan Yugoslavia di final. Selanjutnya, nama-nama tim-tim tradisional spesialis turnamen mulai mengisi daftar juara, seperti Jerman, Italia, Spanyol, Perancis, dan Belanda.

Selama penyelenggaraan tersebut, Jerman dan Spanyol menjadi pemenang terbanyak dengan total tiga gelar, disusul Perancis dengan dua gelar, dan masing-masing satu gelar untuk Uni Soviet, Cekoslowakia, Italia, Belanda, Denmark, Yunani, dan Portugal. Spanyol memiliki catatan manis setelah menjadi tim pertama yang berhasil mempertahankan gelar (tahun 2008 dan 2012) dengan permainan khas ‘tiki-taka’-nya.

UEFA Euro juga menyimpan beberapa drama yang menarik. Tahun 1992 di Swedia, Denmark mengejutkan Eropa dan dunia setelah berhasil keluar sebagai juara. Padahal, Tim Dinamit itu hanya berstatus sebagai ‘tim penggenap kuota’ ketika Yugoslavia dicoret dari keikutsertaan. Delapan tahun berselang, Italia yang sudah unggul 1-0 menelan pil pahit setelah Sylvain Wiltord mencetak gol penyama kedudukan dan David Trezeguet mencetak gol emas yang membawa Perancis berbalik unggul dan menjadi juara.

Tahun 2004, dongeng itu kembali terulang ketika Yunani berhasil menjadi juara setelah mempermalukan tuan rumah Portugal di final. Tim Negeri Para Dewa berhasil mengandaskan perlawanan Luis Figo dan kawan-kawan dengan skor tipis 1-0. Empat tahun yang lalu, Portugal keluar sebagai juara setelah terseok-seok selama babak penyisihan tetapi tampil cukup heroik (hampir separuh laga mereka bertanding tanpa Christiano Ronaldo) di final melawan tuan rumah Perancis.

Begitulah, UEFA Euro selalu punya daya magis tersendiri yang tidak kalah memikat dengan Piala Dunia. Tanpa kehadiran tim-tim Amerika Latin, Asia dan Afrika, ia tampak seperti ‘Piala Dunia mini’.

Tahun ini, kita memperingati 60 tahun penyelenggaraan UEFA Euro. Namun, hiburan gratis yang sudah di depan mata ini harus ditunda karena pandemic Covid-19. Euro terpaksa ditunda hingga tahun depan, sementara UEFA memberi kebebasan bagi masing-masing Federasi Sepakbola setiap negara untuk mengambil keputusan untuk kelanjutan kompetisi liga masing-masing. Dilansir dari tirto.id yang mengutip dari laman resmi UEFA, meski ajang ini ditunda hingga tahun depan, pihak UEFA yang telah menyiapkan 12 kota besar untuk menyelenggarakan turnamen ini akan tetap menggunakan nama ‘UEFA Euro 2020’ demi menjaga visi turnamen sebagai ajang perayaan 60 tahun sejak turnamen ini pertama kali digelar (1960-2020).

Meskipun kontestannya hanya terdiri dari negara-negara di belahan benua biru, UEFA Euro selalu ditunggu-tunggu oleh para pencinta si kulit bundar. Menunda event besar sekelas Euro memang bukanlah perkara mudah, tetapi dalam situasi dilematis seperti ini, mungkin ini adalah keputusan yang terbaik. Toh, untuk situasi saat ini, nyawa manusia lebih penting dari euforia kemenangan.

Catatan redaksi : Opini kolom ini adalah tulisan pribadi penulis, isinya tidak mewakili pandangan redaksi SorotNTT.com