Sejarah Kongregasi Puteri Reinha Rosari (PRR)

20230313 203133 1

Sejarah Gereja Larantuka menjadi latar belakang berdirinya konggregasi Puteri Reinha Rosari. Pada abad ke 16 (1556), dengan datangnya bangsa Portugis yang membawa misionaris Dominikan maka agama Katolik mulai diperkenalkan dan Kristus diwartakan serta diimani oleh umat di kepulauan Solor, Flores dan Timor, dengan Larantuka sebagai pusat misi. 

Dimana musuh-musuh agama Katolik menyerang umat di kepulauan ini dan Kepercayaan akan Kristus itu hidup dan berkembang terus, dipertahankan terutama pada masa-masa yang sulit yaitu masa memaksa mereka untuk meninggalkan iman kepercayaan akan Yesus Kristus dan Bunda Maria. Tahun 1633 oleh Jan Pieterzoon Coen dilukiskan sebagai berikut:

Mereka ( Portugis) bercokol di kepulauan Solor dan dengan senjata-senjata rohani lebih mampu menarik penduduk, daripada dengan prajurit-prajurit kita, seperti sudah dibuktikan di banyak tempat di Nusantara. ( sejarah Gereja Indonesia, Jilid I hal.388).

Dengan cara hidup sebagai kelompok umat yang kecil, sekaligus tanpa bimbingan hierarki yang nyata, mereka tetap bertahan dalam iman selama dua abad.

Dan kemudian dari itu dengan datangnya imam-imam pada abad ke 19, hidup iman mereka lebih terpelihara dan bertumbuh subur hingga kini.

Iman mereka menemukan ketahanannya pada Misteri Penyelamatan Yesus Kristus yang terus menerus direnungkan umat dalam peristiwa-peristiwa Doa Rosario dan terlebih dalam perayaan Pekan Suci setiap tahun dan pada ibadat jalan salib selama masa puasa. 

BACA JUGA:  Pemerintah Akan Bangun Pusat Pelatihan Sepak Bola di IKN

Bunda Maria adalah tokoh iman yang paling dekat dalam hidup umat di kepulauan ini. Bagi mereka Maria adalah pelindung utama yang setia menyertai mereka, membantu mereka dalam suka dan duka hidupnya sebagai umat beriman.

Umat yang kecil dengan latarbelakang alam yang minus dan tandus didalam perjuangan hidup social ekonominya yang sulit menemukan harapannya dalam iman yang kokoh akan Yesus Kristus, sumber keselamatan dan kebahagiaan abadi. 

Dalam usaha membangun, mempertahankan dan mengembangkan iman mereka, ada beberapa hal yang menarik yakni:

Dalam hal iman: iman mereka berakar pada misteri kesengsaraan-kebangkitan Kristus dan Maria adalah pelindung utama iman mereka.

Dalam Kepengurusan Gereja: karena tak ada imam, mereka sendiri mengatur hidup agamanya di bawah pimpinan awam yang mereka pilih secara adat dan atas dasar kesalehan.

Semangat Misioner: Keyakinan imannya yang kuat dan kesatuan dalam kelompok membuat mereka berhasrat pula untuk menyelamatkan orang di luar kelompoknya. 

Sifat missioner ini didukung oleh bakat merantau di suku ini. Namun cara mereka menyebarkan imannya sangat sederhana yakni bersifat sharing iman dan atas keyakinan bahwa keselamatan hanya ada pada Yesus Kristus. 

Semangat missioner ini menjadi semakin nyata sejak permulaan abad ke 20. Mereka bertumbuh sebagai Gereja setempat yang berdikari dengan taat kepada gereja Roma.

BACA JUGA:  Kalau Merasa Seperti Mengejar Rembulan

Dari perkembangan Gereja dapat dilihat bahwa kalangan umat di wilayah ini terdapat banyak panggilan kepada imamat dan hidup membiara. Ini membuktikan semangat missioner mereka. 

Pendiri dan para pembantu pendiri Konggregasi PRR ( Mgr. Gabriel Manek SVD, Sr. Anfrida SSpS dan P.A. Van de Burg SVD) adalah misionaris yang membaktikan hidupnya bagi umat di wilayah ini.

Mereka melihat dan membaca kebutuhan yang paling mendesak akan pendalaman iman umat beriman, namun ketiadaan tenaga pelayan. 

Supaya iman umat semakin tumbuh mendalam, mereka membangun suatu persekutuan hidup membiara yang dibaktikan seluruhnya kepada kepentingan Gereja. 

Dengan demikian pada tanggal 15 Agustus 1958, didirikan Konggregasi Puteri Reinha Rosari (PRR) di Lebao Larantuka.

Peristiwa berdirinya Konggregasi Puteri Reinha Rosari secara resmi terjadi dalam perayaan Ekaristi mulia Hari Raya Maria Diangkat ke Surga yang dipimpin oleh pastor Paroki Lebao, Pater Hubertus Van Eyek, SVD. 

Dalam Perayaan Ekaristi dibacakan dekrit berdirinya Kongregasi PRR. Hadir dalam perayaan Ekaristi selain umat beriman juga Sr. Anfrida SSpS yang ditugaskan Mgr. Gabriel Manek, SVD sebagai pendamping dan 13 kandidat yang berbusana putih dengan sabuk biru.

BACA JUGA:  Presiden Jokowi Lantik Kepala dan Wakil Kepala Otorita IKN

Nama Puteri Reinha Rosari adalah warisan penghormatan kepada Bunda Maria sejak berabad-abad lamanya dalam umat.

Konggregasi ini didirikan sebagai tanda syukur kepada Tuhan atas anugerah iman dan keselamatan bagi umat/ Gereja di Nusantara. 

Pelindung utama adalah Maria Ratu Rosari, warisan pengalaman iman umat di mana Maria dalam sejarah hidup iman umat telah menjadi pelindung dan penyerta umat.

Benar kata pendiri Mgr. Gabriel Manek kecil-kecil yang baik akan menjadi baik baik yang besar. Konggregasi yang awal berdirinya beranggotakan 13 gadis cilik, kini berkembang pesat. 

Akhir tahun 2020 konggregasi PRR beranggotakan 427 suster berkaul, 37 Novis dan 28 Postulan.

PRR berkarya di 6 negara ( Indonesia, Italia, Belgia, Kenya, Timor Leste, dan Canada), jumlah komunitas adalah 83. Konggregasi terus berkembang hingga saat ini, dengan mewariskan semangat pendiri dan Co pendiri dengan fokus pelayanan pada kaum miskin dan menderita pada bidang karya Pastoral, kesehatan, Pendidikan dan social. Pelayanan yang menjangkau tempat-tempat yang sulit. 

Berjalan dan berkarya bersama Tuhan segalanya akan menjadi baik dan muda sungguh ajaib kasih Tuhan bagi konggregasi yang terkasih ini.

(Sumber tulisan dari: buku Konstitusi Konggregasi PRR Bagian Pendahuluan hal. 15-19)