meet and greet ngobrol seru tantangan jurnalisme

Jurnalisme Melawan Hoax dengan Literasi

Daerah Timor

Kupang, SorotNTT.com –  Victory News menyelenggarakan acara Meet and Greet dengan tema “Ngobrol Seru Tentang Tantangan Jurnalisme Menangkal Hoax di Era Milenial” di Sebasuka Paradise, Kupang, Sabtu (09/03/2019), menghadirkan narasumber Chris Mboik (Pemimpin Umum Victory News), Renny Lenggu Margareth (Produser BeritaSatu TV Jakarta), dan Polikarpus Do (Pegiat Literasi NTT).

Jika melihat realitas yang terjadi saat ini, ketika informasi yang popular menjadi bahan berita hoax. Jika hal ini terus terjadi, dikhawatirkan akan diyakini sebagai sebuah kebenaran oleh masyarakat. Inilah yang menjadi tantangan terbesar jurnalisme saat ini, karena maraknya penyebaran berita hoax di media sosial. Kondisi ini semakin diperparah karena tingkat literasi masyarakat yang masih rendah, membuat mereka mudah percaya dan terprovokasi.

Polikarpus Do, pegiat literasi NTT menjelaskan literasi sudah menjadi isu yang strategis dalam rangka untuk menjadikan masyarakat Indonesia yang berintegrat. Individu harus memiliki kompetensi kemampuan skill dalam dirinya untuk bisa melakukan hal-hal yang berguna bagi orang lain dalam hal ini generasi milenial atau masyarakat yang berintegrat atau masyarakat yang memiliki tiga aspek, yakni pengetahuan, keterampilan, dan kualitas.

“Oleh karena itu, literasi dianggap sebagai kecakapan abad 21. Di abad 21 dalam forum ekonomi dunia meletakan bahwa ada tiga aspek kompentesi, yakni literasi dasar, komponen, dan kualitas karakter. Literasi adalah corong bagaimana kita memiliki tiga aspek, yakni pengetahuan yang cukup, keterampilan, dan kualitas karakter bagi pribadi kita,” jelas Polikarpus.

Peserta Meet and Greet Tantangan Jurnalisme di Era Milenial
Peserta Meet and Greet Tantangan Jurnalisme di Era Milenial, Kupang, Sabtu (09/03/2019)

Produser BeritaSatu TV Jakarta, Renny Lenggu Margareth, menerangkan tulisan jurnalis adalah tulisan yang menyampaikan informasi yang aktual dan bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. Jenis-jenis tulisan jurnalis secara umum ada tiga, yaitu berita, opini dan feature. Berita terdiri dari straight news (berita langsung) dan berita investigasi. Straight news dibagi dua bagian, yakni berita ringan dan berita keras. Kedua berita tersebut memiliki kekhasan tersendiri.

Berita keras meliputi peristiwa sosial, politik, kriminal, dan isu sosial lainnya yang merujuk langsung pada masalah, sedangkan berita ringan tulisan yang lebih menghibur, misalnya selebriti, gaya hidup, dan lain-lain.

“Sedangkan opini, tulisan yang berisi analisis atau pendapat subjektif penulis tentang suatu masalah yang aktual dengan menyertakan nama penulis yang lengkap. Jenis opini yaitu artikel, kolom, dan editorial. Artikel ditulis oleh siapa saja yang berisi menghibur, mendidik, dan meyakinkan. Kolom ditulis oleh pakar atau ahli, sedangkan editorial adalah pendapat dan sikap resmi redaksi tentang suatu fenomena masalah yang aktual,” kata Renny.

Sementara Pimpinan Umum Victory News, Chris Mboeik, menyampaikan bahwa saat ini kita sudah berperang yang namanya hoax. Karena hoax begitu luar biasa. Artinya kebenaran itu seolah-oleh. Jadi dalam hoax itulah sesuatu yang keliru, negatif, salah karena jika disuarakan terus di ruang publik, akhirnya hal tersebut seolah-olah suatu kebenaran. Apalagi kalau literasi kita rendah, malas membaca, malas mencari kebenaran informasi, akhirnya terjadi kekeliruan, suatu kesalahan dipahami sebagai suatu kebenaran, maka mudah sekali kita serap dan percaya isu yang beredar di media sosial.

“Salah satu ciri hoax yakni antara judul dan isi tidak selaras, berita lama diputar seolah-olah berita baru. Sementara isinya tidak sesuai. Informasi hoax tidak dapat dipertanggungjawabkan, baik narasumber, alamatnya, dan kapan itu terjadi tidak bisa dipertanggungjawabkan,” papar Mboik.

Kalau kita paham 5W+1H itu menjadi kekuatan kita dan menyajikan berita berlandaskan prinsip-prinsip kerja yang jelas. Lanjut dia, kalau ada berita kebohongan silakan menyampaikan pandangan melalui tulisan opini. Media juga menyediakan ruang opini begitu luar biasa terbuka luas, media cetak terbuka luas apalagi media sosial setiap saat. Manfaatkan ruang yang disiapkan media itu untuk menyalurkan pikiran dalam bentuk tulisan. Jangan ikut menshare hoax di media sosial untuk memperkeruh suasana.

“Kalian bisa menulis opini yang baik, bila literatur baca kalian banyak. Kalian mampu menguraikan atau memberikan pandangan dari fenomena yang kalian lihat dengan benar jika literatur bacanya banyak, punya perpustakaan kecil di otak. Belajar menulis dengan basis yang kaut, sumber yang jelas dan mampu dipertanggungjawabkan, jangan ikut berpartisipasi memperkeruh suasana dengan ikut menyebar hoax dan menjadi agen hoax,” tuturnya.

Pantauan SorotNTT.com, para peserta tampak semangat dan antusias mengikuti kegiatan tersebut. Peserta yang terlibat dalam kegiatan tersebut sekitar 100 orang mahasiswa dari berbagai kampus di Kota Kupang.

Usai kegiatan, Pimpinan Umum Victory News, Chris Mboeik, memberikan hadiah sebuah buku dan voucer kepada pemenang tulisan opini dan artikel. Setelah itu dilanjuti dengan pose bersama peserta kegiatan.

Laporan: Hendrikus Aditono