Pater Waser Dijaga Malekat Pelindung

Dok : Floresmerdeka.com

Hari Senin, 14 Pebruari yang lalu saya ke Steinhausen. Saya mengunjungi Missionshaus Maria Hilf atau komunitas SVD Santa Maria Penolong di sana. Missionshaus Maria Hilf Steinhausen adalah satu-satunya rumah SVD di Swiss saat ini. Saya mengikuti ibadat dan makan siang bersama sambil ngobrol dengan sama saudara.

Mayoritas penghuni komunitas Steinhausen adalah para misionaris senior Swiss seperti Hansruedi Krieg, Marsel Frey, Rainer Schaffhauser, Tony Hollenstein. Hansruedi pernah bermisi di Brasil dan Tony Hollenstein di Papua Nugini. Mereka menikmati masa tua di Steinhausen sambil sesekali membantu pelayanan di paroki-paroki sekitar.

Selain imam-imam tua, komunitas Steinhausen juga dihuni imam-imam medior seperti Matthias Helms (orang Jerman yang pernah bermisi di Ghana Afrika), Juliprost dan Antonio dari Philipina, Simon dari Mexico dan Albert Nampara dari Mbaumuku-Ruteng, Flores, Indonesia. Para imam medior ini melayani paroki-paroki di sekitar Steinhausen. Dan jasa pelayanan mereka mendukung kehidupan komunitas.

Saya juga ke Steinhausen untuk mengunjungi Pater Ernst Waser SVD. Ernst lahir di Wolfenschiessen, Engelbert 15 Juni 1929. Ia menikmati masa kecil di Oberdorf, Stans dan menyelesaikan pendidikan SD hingga SMA di Stans. Tahun 1949 Ernst masuk Novisiat SVD di Sankt Augustin Jerman dan ditahbiskan menjadi imam tahun 1954.

Ernst pernah menjadi bapak asrama dan guru sekolah SVD di Marienburg Sankt Gallen Swiss. Tahun 1968 Ernst dipercayakan sebagai rektor Steinhaussen dan tahun 1971 beliau terpilih menjadi provinsial SVD Swiss. Awal tahun 1977 Ernst meninggalkan Steinhaussen-Swiss dan menuju tanah misi di bumi Congkasae Manggarai Flores Indonesia hingga kini. Sejak itu Ernst jarang ke Steinhaussen lagi.

Ernst tiba di Swiss Selasa 8 Pebruari lalu. Delapan Februari rupanya tanggal hoki buat Ernst. Tanggal 8 Pebruari 1977 Ernst menginjakkan kaki untuk pertama kali di Jakarta. Tanggal 8 Pebruari 2022, Ernst menginjakan kakinya di Swiss.

Ernst dijemput Thomas dan Nitha Müller-Soplanit, Tresi Rigit dan Maria Roni Sri Rohanah di Bandara internasional Zürich. Selanjutnya Maria Roni menghantar Ernst ke rumah masa kecilnya di Oberdorf Stans.

Kampung yang Sudah Lama Ernst Tinggalkan Oberdorf adalah kampung yang sudah lama Ernst tinggalkan, namun juga selalu dirindukan. Ernst berada di Oberdorf Selasa sore 8 Februari-Kamis 10 Februari. Di sana Ernst dilayani dengan penuh cinta oleh Andreas dan istrinya Stephanie. Andreas adalah cucu dari Walter Wasser (Kakak kandungnya Ernst yang kini berusia 96 tahun).

Ernst nampak bersukacita karena boleh menginap lagi di kamar dan rumah masa kecilnya. Sayangnya Ernst tidak bisa berada lebih lama di sana. Andreas dan Stephanie sangat sibuk mengurus lahan pertanian dan hewan-hewan peninggalan keluarga besar Wasser. Mereka juga harus menjaga keempat anak. Anak-anak ini sedang dalam usia bermain. Rumah adalah tempat bermain utama mereka di musim dingin.Karena itu Kamis, 10 Pebruari P. Albert Nampara SVD dan saya menuju Oberdorf. Ernst sangat senang menerima kedatangan kami. Sambil menikmati kopi dan kue hidangan Stephanie, kami ngobrol seputar perjalanan Ernst ke Swiss.

Kami memuji beliau. “Pater hebat ya! Kita sedang berada dalam situasi Pandemie. Tidak mudah mengikuti prosedur perjalanan keluar negeri di masa pandemie. Pater juga tidak vaksin. Usia sudah sangat tua. Eropa juga masih musim dingin”.

Sambil tersenyum beliau menjawab kami: “Tuhan membimbing saya melalui para malekat pelindung. Mereka menjaga saya. Para malekat pelindung itu hadir dalam diri alumni santu Klaus, para petugas di Bandara Jakarta dan Zürich, orang-orang yang menerima saya di Bandara Zürich, ibu Maria yang menjemput dan menghantar saya ke Oberdorf. Malekat pelindung juga hadir dalam diri Stephanie, Andreas dan anak-anak. Kamu berdua juga malekat penyelamat karena menjemput dan membawa saya ke Steinhausen“.

Sambil guyon kami menjawab beliau: “Kami menjemput dan membawa pulang misionaris hebat, orang kudus dari Manggarai Flores ke Steinhausen“.

Pater Ernst hanya senyum-senyum. Kami tahu beliau tidak mengerti omongan kami. Antene pendengarannya sudah macet. Setiba di komunitas Steinhausen, Ernst disambut oleh sama saudara. Merekalah yang menjadi malaekat-malaekat pelindung selama Ernst berada di Steinhausen.

BACA JUGA:  Pidato Putin, Ini Alasan Lengkap Mengapa Rusia Serang Ukraina

Ernst Tak Seperti Dulu Lagi Kami berdua P. Albert sempat menanyakan tujuan kedatangan Ernst ke Swiss. Jawabannya bervariasi: “Saya ingin bertemu seorang sahabat baik. Dia akan menyerahkan hartanya dan mendukung karya saya di Flores. Saya juga ingin bertemu Nuntius Apostolik di Bern. Saya ingin mengundang Paus Fransiskus ke Labuan Bajo. Paus ke sana sebagai turis. Di sana kami bisa berdialog langsung dengan Paus tentang sinode, tentang potensi skisma dan bla bla bla….”.

Kami mengangkat jempol untuk beliau. Tapi kami juga bermain mata dan bergumam satu sama lain: „Bro, Pater Ernst tidak seperti dulu lagi. Dia tidak muda lagi. Usianya memasuki 93 tahun. Bicaranya campur aduk Jerman, Swiss-Jerman dan Indonesia. Pater Ernst sudah pikun!“. Ernst yang kami jumpai saat ini adalah Ernst yang sudah mengalami gangguan demensia.

Dia mengalami gangguan daya ingat. Dia lupa peristiwa yang baru terjadi. Kami sempat menanyakan dia tentang lamanya waktu dia berada di Swiss. Saat pertama dia menjawab: “Hanya seminggu”. Kali kedua Ernst menjawab: “Saya tinggal 10 hari di Swiss”. Kali ketiga dia menjawab: “Saya belum tahu berapa lama.”

Ernst sudah sulit fokus. Dia tidak bisa lagi menulis dengan baik. Juga tidak mampu mengoperasikan handphone. Dari Jakarta Cordi Jurumat sudah memberikan petunjuk penggunaan Handphone dan membeli paket data internasional secukupnya. Sayangnya Ernst tidak bisa menggunakan HP itu dan menyimpan rapih di tas kecilnya.

Ernst juga mengalami disorientasi waktu dan tempat. Dia bingung akan waktu dan sering lupa tempat di mana dia berada. Dia tidak tahu lagi rencana harian.

Ernst sudah sangat tua dan lelah. Bila berada di kamar Ernst lebih banyak tidur dan berdoa. Dia membutuhkan bantuan orang lain. Dia tidak bisa lagi mengurus pakaian dan dirinya sendiri.

Ernst mengalami banyak perubahan prilaku dan kepribadian. Kadang dia cenderung diam dengan mata yang menerawang jauh. Entah ke Wangkung di Flores sana atau cita-citanya yang belum terwujud.

Beliau sering mudah tersinggung dan gampang kecewa. “Ernst itu kepala keras sampai tua,”kata teman-teman yang mengenal Ernst.

Beliau sering cepat marah tanpa alasan yang jelas. Beliau bisa jengkel dengan semua orang termasuk pimpinan, sama saudara, rekan kerja dan keluarga sendiri. Dia menganggap banyak orang bekerja sama melawan dia.

Penggagas Misionaris Fidei Donum Ke Swiss Saya pertama kali bertemu Pater Ernst Waser tanggal 26 Maret 2013 di Longko, Wangkung-Manggarai Flores. Saya dan Rm. Yosef Marianus Langga bertemu beliau sebelum ke Werang.

Kami perlu mempersiapkan diri di Santu Klaus Werang-Manggarai Barat sebelum mengikuti kursus bahasa Jerman di Sankt Augustin Jerman dan selanjutnya bermisi di Swiss.

Di Werang kami tinggal bersama Rm. Frans Adi, P. Gusti Naba SVD, guru-guru dan siswa-siswi SMP-SMA Santu Klaus mulai 25 Maret hingga akhir September 2013. Selama rentang waktu itu kami hampir selalu bertemu Pater Ernst bila beliau datang ke Werang atau saat kami ke Longko-Wangkung.

Pater Ernst Waser menggagas pengiriman imam-imam Fidei Donum dari gereja-gereja lokal di Flores untuk keuskupan Basel Swiss. Istilah Fidei Donum dalam bahasa Latin berarti “Karunia Iman”.

Fidei donum adalah nama Ensiklik yang dikeluarkan Paus Pius XII pada tanggal 21 April 1957. Paus Pius XII prihatin dengan situasi gereja katolik di seluruh dunia.

Dalam ensiklik ini Paus meminta para uskup sedunia untuk berbagi visi dalam menghadapi tantangan misi gereja universal. Kita mendukung gereja universal dengan bantuan doa, ketenagaan, material dan finansial.

Kita memerhatikan kawasan Eropa. Agama kristen telah dibuang di Eropa! Orang-orang muda kita sudah tidak mengetahui agama. Mereka telah dirasuki oleh propaganda kaum ateis.

BACA JUGA:  "Yang Dicari"

Para uskup diminta mengirim imam-imam untuk mengisi ruang-ruang luas tak terbatas di Amerika Selatan. Mereka diminta membantu karya misi di Asia, Afrika dan Oceania.

Mendukung Kemajuan di Tanah Misi
Para imam hadir untuk mendukung kemajuan di tanah misi. Para imam menjadi agen perubahan dalam kehidupan sosial, ekonomi dan politik. Gereja harus berdiri kokoh di pelbagai belahan dunia. Dan para imam harus menghantar umat Allah untuk menikmati kemakmuran sejati.

Setahu saya gereja-gereja lokal di Indonesia sudah sejak lama menjalankan amanat ensiklik ini. Mereka mengirim imam-imamnya untuk membantu keuskupan lain di Indonesia.

Mgr Donatus Djagom dan Mgr Abdon Longinus Da Cunha dari Keuskupan Agung Ende juga melakukan hal yang sama. Beberapa imam diosesan KAE pernah menjadi misionaris Fidei Donum domestik: Rm. Bone Viator ke keuskupan Merauke, Rm. Sius Sega, Rm. Egidius Parera, Rm. Dominikus De Dowa dan Rm. Don Bosco Jata ke Keuskupan Padang, Rm. Daslan Yosef Moangkabu dan juga Rm. Sius Sega ke keuskupan Baucau Timor Leste.

Dinamika jaman terus berubah. Mgr. Vincentius Sensi Potokota bersama Uskup Ruteng Mgr. Hubertus Leteng, Uskup Maumere Mgr. Kerubim Parera dan Uskup Larantuka Mgr. Frans Kopong Kung melanjutkan amanat ensiklik Fidei Donum ini. Gereja lokal Flores mengirim imam-imamnya untuk berkarya di Keuskupan Basel Swiss. Dan P. Ernst Waser SVD berperan penting dalam perutusan ini.

Mgr. Sensi menulis percikan gagasan gemilang Pater Waser: “Kita perlu berpikir untuk merajut suatu relasi dengan gereja Swiss, sebagai ucapan terima kasih gereja Flores yang sebelumnya dievangelisasi oleh misionaris Eropa dengan sangat gemilang, sampai membuat Flores begitu unggul dalam kekatolikan, terutama menjadi dapur panggilan imam dan hidup bakti. Sekarang giliran sebaliknya, Flores harus rela ambil arus evangelisasi balik ke Eropa, yang mengalami krisis kelangkaan imam-imam dan pelayanan imamiah, karena panggilan di Eropa hampir nihil.”

Atas dukungan para Uskup Flores, Pater Ernst bersama Romo Hans Zuend, saat itu penanggung jawab personalia keuskupan Basel membantu para uskup Flores dan Mgr. Felix Gmür dari Keuskupan Basel.

Mereka membangun komunikasi intensif dan menghasilkan kesepakatan untuk mengirim para misionaris Fidei Donum dari gereja-gereja lokal Flores ke keuskupan Basel Swiss.

Menyiapkan Calon-Calon Misionaris Fidei Donum
Pater Ernst berperan aktif menyiapkan calon-calon misionaris Fidei Donum Flores sebelum ke Swiss. Ada sejumlah misionaris Fidei Donum dari Flores : Rm. Adolf Sanar, Rm. Fidelis Den (sudah kembali ke Ruteng) dan Rm. Roy Djelahu dari Keuskupan Ruteng. Rm. Hironimus Kwure dari keuskupan Larantuka, Rm. Yosef Marianus Langga dan saya sendiri dari Keuskupan Agung Ende.

Pater Ernst mengatur kami lewat jalur-jalur SVD di Jakarta dan Sankt Augustin Jerman. Kami merasakan peran istimewa, uluran tangan dan curahan kasih Pater Ernst Waser dan tentu saja sama saudara SVD.

Mengapa ke Keuskupan Basel Swiss-Eropa? Swiss memiliki enam keuskupan yaitu Basel, Sankt Gallen, Chur, Lugano, Sitten dan Fribourg-Genewa-Laussane.

Keuskupan Basel merupakan keuskupan terbesar di Swiss dan wilayahnya meliputi sepuluh kanton/provinsi. Ja hampir setengah wilayah negara Swiss. Keuskupan Basel membutuhkan banyak tenaga imam dan tenaga pastoral awam.

Tugas Nyata Misionaris Fidei Donum
Dalam pelbagai kesempatan selama di Flores (saat saya di Werang dan saat cuti 2016), Pater Ernst selalu mengingatkan tugas-tugas konkret misionaris Fidei Donum di Swiss.

Pertama, pada abad-abad yang lalu bumi Eropa mengirim para misionarisnya ke seluruh dunia termasuk Flores. Kita berterima kasih kepada bumi Eropa termasuk Swiss.

Para Imam Fidei Donum merupakan tanda terima kasih dari tanah misi Flores untuk bumi Eropa dan misionaris Eropa di masa lalu. Ernst mengingatkan saya: „Kamu harus menjadi Fidei Donum atau tanda karunia iman dari Flores untuk bumi Eropa“.

Kedua, panggilan imamat di Swiss dan Eropa terus menurun. Sementara panggilan di gereja-gereja lokal Flores terus bertumbuh. Kehadiran misionaris Fidei Donum dari Flores membantu pelayanan di paroki-paroki. Swiss kekurangan tenaga imam.

BACA JUGA:  Rusia-Ukraina dan Penundaan Pemilu di Indonesia

Kamu kesana untuk mengisi kekurangan itu, meski belum semuanya terpenuhi. Saya pribadi merasakan itu. Beberapa tahun awal saya hanya melayani dua paroki. Sekarang saya harus melayani enam paroki.

Ketiga, kamu ke sana untuk belajar pengalaman pastoral. Kamu membawa dan membagi pengalaman pastoral kita di Flores. Pengalaman, gaya, strategi karya pastoral di Flores tentu saja berbeda dengan Swiss.

Kamu belajar banyak hal baru di sana. Tapi mereka juga akan belajar sesuatu dari kamu. Kamu perlu rendah hati supaya bisa saling belajar dan saling memperkaya dalam pelayanan.Membangun Jejaring.

Keempat, zaman menuntut kita untuk membangun jejaring kerja sama dengan siapa pun yang berkehendak baik. Kita imam adalah tangga dan jembatan. Di sana kamu mesti berjejaring dengan dewan paroki dan umat paroki, rekan-rekan imam dan rekan kerja pastoral.

Kamu berjejaring dengan pihak keuskupan, lembaga-lembaga sosial kemanusiaan, lembaga-lembaga donor yang bisa membantu karya pastoral gereja lokal kita. Kamu merawat relasi dan menjaga kepercayaan mereka. Relasi dan kepercayaan harus sejalan.

Kelima, setiap orang yang bekerja di Swiss menerima gaji sesuai dengan tata aturan pemerintahan Swiss. Begitu pun seorang imam atau awam yang bekerja di sana juga menerima gaji dari paroki.

Dewan paroki mengatur gaji para pastor dan para agen pastoral lainnya. Dewan paroki adalah pemberi kerja untuk para pastor dan petugas pastoral lainnya. Mereka mengatur supaya kamu nyaman bekerja di Swiss.

Kamu menerima gaji yang layak sesuai standar hidup orang Swiss. Dengan gaji itu kamu membayar pajak pemerintah, pajak gereja, pelbagai macam asuransi termasuk kesehatan.

Gaji itu juga untuk membiayai kehidupan, dana hari tua dan dana pensiun. Dan jangan lupa, kamu juga mempunyai kewajiban moral untuk membantu karya pelayanan di keuskupan asalmu.

Inilah rambu-rambu peringatan Pater Ernst Waser yang selalu saya ingat. Saya berterima kasih karena misionaris Eropa di masa lalu sudah menyiapkan gereja lokal kita. Mereka juga menyiapkan formasi imam diosesan.

Paradigma Imam Diosesan
Paradigma imam diosesan adalah mengikat diri dan bekerja di gereja lokalnya. Tapi dengan situasi aktual saat ini, paradigma itu mesti perlahan beralih dan turut memerhatikan gereja universal.

Jurisdiksi imam diosesan memang bersifat teritorial. Artinya terbatas pada wilayah gereja lokalnya. Tapi karakter tahbisan imam melampaui batas wilayah. Sifatnya universal dan tanpa batas.

Karakter universal ini mengharuskan kita untuk memiliki semangat solider dan misioner dengan gereja lokal di belahan bumi lainnya termasuk Swiss, tanah air Pater Ernst Waser dan Eropa sebagai rahim para misionaris hebat di masa lalu.

Terima kasih para misionaris Eropa di masa lalu. Terima kasih Pater Ernst Waser. Misionaris sejati yang sudah berjasa membagi Fidei Donum atau Karunia Iman dari Swiss untuk gereja-gereja lokal Flores mulai dari Manggarai hingga Lembata.

Terima kasih untukmu sebagai penggagas pengiriman misionaris Fidei Donum dari gereja-gereja lokal Flores di Keuskupan Basel Swiss. Saat ini engkau sudah pikun. Tapi kami harus tetap menghormatimu sebagai manusia bermartabat mulia, imam dan misionaris SVD sejati, tokoh pendidikan, bapak pembangunan dan guru kehidupan.

Oleh : Wolo Stefanus

Penulis adalah misionaris di Eiken AG, Swiss.Sumber : Floresmerdeka.com